
Setelah tidak ada yang perlu dipelajari lagi, Lasmana Pandya memutuskan untuk segera keluar dari tempat tersebut.
"Yang Mulia!" Ucap salah satu pemuda yang sedang membersihkan perpustakaan terkejut setelah melihat kemunculannya Lasmana Pandya.
Lasmana Pandya tersenyum, kemudian menepuk bahu pemuda itu dengan lembut.
"Selesaikan tugasmu, setelah malam hari kamu kumpulkan para penduduk agar berkumpul didepan istana kerajaan," ucap Lasmana Pandya kemudian menghilang dari pandangan.
Setibanya di sebuah gunung tak jauh dari keberadaan Kerajaannya. Lasmana Pandya duduk termenung sambil merenungkan perjalanannya dari awal hingga saat ini ia kembali. Tak terasa malam pun tiba $#! ribuan bintang yang menghiasi langit menjadi saksi bahwa setiap langkahnya kini dipenuhi dengan darah.
"Setelah peperangan ini usai, aku harap tanah Jawa akan mengalami kemajuan yang pesat. Namun sebelum hal itu tiba, aku ingin menantang seluruh dunia untuk tidak berani menyentuh tanah kelahiranku ini," gumam Lasmana Pandya kemudian memikirkan sosok Yang Lie yang menghilang tanpa jejak.
Swuuuuush!
Tubuhnya menghilang tanpa bekas, lalu muncul tepat didepan istana yang kini terdapat puluhan penduduk yang menunggu kedatangannya.
"Yang Mulia!" Ucap mereka semua kompak.
"Saat ini kondisi tidak memungkinkan untuk memilih siapa penggantiku disaat kepergian ku, karena itu aku memutuskan agar kalian hidup seperti biasa terlebih dahulu. Didalam cincin ruang ini terdapat banyak sumber daya yang aku jarah dari Kultivator negeri seberang, dengan ini aku harap kalian segera dapat menjadi kuat setelah kepergian ku," ucap Lasmana Pandya kemudian menjelaskan secara singkat maksud kepergiannya.
"Baik," ucap mereka kompak.
Lasmana Pandya mengangguk, kemudian ia menghentakan kakinya melayang diatas langit kerajaan Sangsakerta dengan tatapan tajam. Setelah mengerti setiap sudut sisi kerajaan yang membentuk persegi, Lasmana Pandya kemudian membuat segel tangan untuk membentuk segel formasi.
Swuuuuuuung!
Perisai transparan menutupi kawasan seluruh sudut kerajaan Sangsakerta. Setelah merasa cukup membuat pelindung, Lasmana Pandya menatap kearah Utara.
"Sudah saatnya mencari bantuan," ucap Lasmana Pandya kemudian melesat kearah Utara dengan kekuatan puncaknya.
Didalam perjalanan, Lasmana Pandya terus mengeratkan rahangnya melihat banyaknya kota, desa, dan persinggahan kecil yang berdiri di tanah Jawa telah kosong. Yang diartikan, hanya tersisa puluhan manusia saja yang masih ada di tanah Jawa.
"Aku akan membalaskan seratus kali lipat dari apa yang kalian perbuat, tunggu saja hari mainku," ucap Lasmana Pandya terus menggunakan kekuatan puncaknya.
Disisi lain, She Wang sang raja iblis tiba di Kerajaan Sangsakerta. Melihat penduduk yang sepi, ia mengeratkan rahangnya.
__ADS_1
"Sepertinya telah terjadi pembantaian di Kerajaan baj*ngan cilik yang menyamar sebagai Hong Xiao," ucapnya kemudian mengedarkan kekuatan jiwanya.
Swuuuuuuung!
Disaat ia mengedarkan kekuatan jiwanya, tiba tiba sebuah kekuatan besar menolak kekuatan jiwanya hingga menimbulkan ledakan diatas langit kerajaan.
"Hhmmmp!" Merasa kesal, She Wang melepaskan serangannya.
Dhuuuuuuaar! Dhuuuuaar!
Ledakan maha dahsyat mengguncang kawasan kerajaan Sangsakerta. Namun sayangnya ledakan maha dahsyat itu tidak menimbulkan kerusakan pada bangunan yang ada di dalam kerajaan.
Disisi lain.
"Siapa yang berani menyerang Kerajaanku lagi!" Ucap kesal Lasmana Pandya kemudian membuat segel tangan lalu muncul gerbang teleportasi menuju ke Kerajaannya berada.
Swuuuuuush!
Tubuhnya lenyap, dan muncul tepat diatas langit lebih tinggi dari keberadaan She Wang berada.
"Bocah tengik keluar atau aku benar benar akan memusnahkan tempat kelahiranmu!" Teriak She Wang mengeluarkan api merah kehitaman ditelapak tangannya.
Perlahan tapi pasti, api tersebut mulai membesar yang dibarengi dengan tubuh She Wang yang mulai terbakar.
"Jika kau masih ingin bersembunyi, maka aku akan membunuhmu bersama dengan orang yang ingin kau lindungi!" Teriaknya kembali menggema kemudian menahan apinya agar tidak melesat kearah kerajaan Sangsakerta.
Lasmana Pandya sangat tau api itu setingkat dengan apinya, namun ia sendiri masih ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh She Wang.
"Satu!"
Swoooosh!
Api yang berkobar ditubuh She Wang seketika berkumpul menjadi satu membentuk sebuah bola berukuran yang sangat besar.
"Dua!"
__ADS_1
"Gawat!" Ucap Lasmana Pandya kemudian muncul tepat dihadapan She Wang dan meninju bola api milik She Wang menggunakan Geni Danyangnya.
Dhuuuuuaar!
Ledakan maha dahsyat terjadi membuat gelombang kejut yang menyebabkan kehancuran, yang sangat mengerikan diluar kerajaan. Bahkan gelombang itu menyapu bersih gunung didekat kerajaan Sangsakerta.
"Akhirnya kau keluar juga bocah!" Ucapnya sedikit terkejut melihat Lasmana Pandya yang terlihat baik baik saja setelah menghancurkan serangan yang dapat menghancurkan satu kekaisaran dengan daya ledaknya.
"Tentu aku akan keluar untuk menghentikan siapapun yang ingin menghancurkan tanah kelahiranku...," Ucap dingin Lasmana Pandya kemudian menatap santai She Wang.
"Baguslah kau tiba tepat waktu, jadi aku tidak perlu membunuh Kultivator rendahan negeri yang miskin ini!" Ucapnya dengan tenang.
"Dan hari ini, kau tidak akan pernah kembali untuk hidup! Bahkan untuk bereinkarnasi kembali karena kau telah membunuh She Long!" Ucapnya murka melesat kearah Lasmana Pandya sambil memberikan pukulan tapak apinya.
Dhuuuuuuaar!
Tentu Lasmana Pandya tidak tinggal diam, ia juga melepaskan serangan tapak yang telah terbalut Geni Danyang. Hal itu menyebabkan ledakan yang mengerikan kembali terjadi bahkan celah ruang dimensi Benua robek beberapa ribu meter panjangnya keatas langit.
"Kau..." Ucapnya terkejut.
Swuuuuuuush!
Lasmana Pandya akhirnya mengeluarkan lingkaran kekuatan alamnya. Memperlihatkan bahwa kekuatannya sama dengan She Wang, bahkan lebih tinggi jika Lasmana Pandya mengerahkan seluruh kemampuannya.
"Mungkin setelah membunuh Dewa Racun, kau adalah Kultivator puncak yang akan terbunuh ditanganku!" Ucap Lasmana Pandya kemudian menghilang lalu muncul tepat dibelakang hadapan She Wang.
"Api Nirwana!" Teriak She Wang kemudian memutarkan tubuhnya membuat api merah kehitaman miliknya menari nari mengelilingi tubuhnya.
Lasmana Pandya hanya menyunggingkan senyumnya melihat She Wang yang gerakaannya terlihat lambat ingin memblokir serangan cepatnya.
Dhuuuuuuuuuaaar!
####
Author meminta maaf atas hari libur yang kepanjangan. Sebenarnya bukan libur, melainkan hp author yang gila ga ada otak ngecarger ga bisa naik persentasenya. Naaah niatnya kemarin author nulis, tapi author abis faksin ke 3 jadi author tumbang karena tubuh auhtor yang tiba tiba sakit. Mohon maklumi alasan author🙏
__ADS_1