Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Wajah tanpa dosa.


__ADS_3

Hari berlalu sangat cepat, tepatnya kini satu bulan telah berlalu bertepatannya turnamen yang diadakan di Kerajaan Bai Shi, Lasmana Pandya juga telah menyerap semua energi roh milik Sena dan Ying Lian sepenuhnya. Dan dimasa itu, ranah Kultivasinya kini ditingkat Surgawi Tiga, yang mampu mengimbangi ranah glory tingkat satu.


Dan pada umurnya kini, mungkin hanya ia yang dapat memilikinya, karena tipe tubuh Keabadian yang telah aktif tidak membuatnya sulit untuk menerobos ketingkat satu. Matanya kini terbuka, dan melihat Yue Xong yang berjaga. Sedangkan Kamandaka terlihat sedang ?aaaamenyembuhkan dirinya.


"Guru, Xong, apa yang telah terjadi?" Tanya Lasmana Pandya melihat situasi sekitarnya yang porak poranda, bahkan tidak ada bangunan Kerajaan Sangsakerta yang masih berdiri. Semuanya rata dengan tanah.


"Tuan, guru anda telah membantu anda dari ancaman yang dapat membahayakan nyawa anda ketika berkultivasi," ucap penuh hormat Yue Xong.


Mata Kamandaka kini perlahan terbuka sambil menatap lekat wajah muridnya yang merasa khawatir terhadapnya.


"Aku tidak papa, namun kenapa roh energi Sena dan Ying Lian tak mampu membuatmu naik tingkat ke tingkat Glory lima?" Tanya Kamandaka heran.


"Guru aku juga tidak mengerti," ucap Lasmana Pandya.


"Ohh ya guru, berapa lama aku telah berkultivasi?" Tanya Lasmana Pandya.


Kamandaka mengatakan satu bulan telah berlalu, seketika wajah Lasmana Pandya menegang karena teringat rekan Yue Xong.


"Guru, bisakah kau antar aku ke Kerajaan Bai Shi?" Tanya Lasmana Pandya dengan wajah penuh harapnya.


"Emmm tentu, memang apa kau ingin mengikut turnamen disana?" Tanya Kamandaka.


Lasmana Pandya menjelaskan semuanya pada gurunya, hal itu membuat wajah Kamandaka memerah.


"Heeem, sepertinya kita akan membuat kerusuhan, namun aku takut ada dua Kultivator puncak berada disana," ucap Kamandaka sambil menjelaskan pertarungannya lebih rinci.


Lasmana Pandya mengangguk, kemudian ia memberikan rencananya terhadap Kamandaka yang tentunya rencana itu menurutnya cukup baik.


Setelah menjelaskan semua rencananya, Lasmana Pandya, Yue Xong dan Kamandaka bergandengan tangan. Sedangkan tangan kiri Kamandaka membuat pola diagram aneh yang tak lain menggunakan kekuatannya untuk berpindah tempat ke Kerajaan Bai Shi.


Swuuuuung! Swuuuuush!


Lingkaran portal dimensi muncul diatas langit, setelah sesaatnya. Kamandaka menghentakan kakinya dan membawa keduanya memasuki portal dimensi buatannya.


Swuuuush!


Satu detik kemudian, mata Lasmana Pandya terbelalak kagum, dan tentunya terkejut. Didepannya, tepatnya dibawahnya terdapat gerbang besar bertulis Bai Shi. Yang artinya kini ia telah tiba ditujuannya.


"Gu-guru bukankah ini terlalu cepat."

__ADS_1


"Hahaha! Muridku ini hanya masalah mudah, dan lebih baik kita turun serta menjalankan rencana yang telah kau buat itu," ucap Kamandaka.


Lasmana Pandya mengangguk, setelah turun. Lasmana Pandya menggunakan topengnya.


"Guru, Yue Xong kabari aku jika kalian telah membawa keluar saudaraku lainnya," ucap Lasmana Pandya berjalan menuju gerbang Kerajaan.


"Baik," jawab keduanya kompak.


Dengan santainya, Lasmana Pandya berjalan hingga tepat didepan gerbang, dan anehnya kini para penjaga tidak menanyakan identitasnya sama sekali.


"Aneh, seharusnya aku diperiksa lebih lanjut." Gumam Lasmana Pandya namun pada akhirnya ia tetap melanjutkan perjalanannya.


Disepanjang jalan, tidak ada satupun orang yang ada didalam kota kerajaan, namun tiba tiba.


Bruuuuk!


Seorang pemuda berlari keluar dari penginapan dan menabrak tubuh Lasmana Pandya.


"Tu-tuan maaf aku terburu buru." Ucap pemuda yang menabrak dan segera ingin menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


Swuuuuush!


Dengan sekali kedipan, Lasmana Pandya tiba didepan pemuda itu.


***


Diturnamen.


"Dimana bocah pemilik dua senjata yang dicari Kaisar," gumam Jendral Tapak Dewa.


Matanya, dan kekuatan jiwanya mengedar kesegala penjuru mencari keberadaan Lasmana Pandya, namun ia tidak merasakan sama sekali aura Lasmana Pandya disekitar dunia kecil buatan Dewa Siluman.


"Heeem, sepertinya aku yang harus mengejarnya sendiri."


****


"Tuan, saat ini para penduduk sedang menonton pertandingan final bergengsi," ucap pemuda itu menjelaskan secara rinci.


Lasmana Pandya mengangguk, namun yang membuatnya heran pertandingan itu diadakan di dunia kecil diatas awan Kerajaan Bai Shi.

__ADS_1


"Jadi kamu ingin pergi kesana? Namun apakah bisa terbang?" Tanya Lasmana Pandya heran melihat ranah kultivasi pemuda tersebut.


Pemuda tersebut mengangguk, dan kemudian keduanya melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya kepusat kerajaan.


Sesampainya.


"Apakah anda peserta pertandingan?" Tanya penjaga gerbang dimensi.


"Benar, namun dia saudaraku ingin menonton," ucap pemuda tersebut membuat Lasmana Pandya tidak mengalami kesulitan. Namun tanpa diduga dua penjaga tersebut mengirimkan pesan kepada Jendral Tapak Dewa dengan kemunculannya pendekar bertopeng yang dicari.


Swuuuush!


Lasmana Pandya dan pemuda tersebut memasuki kedalam dunia kecil itu, matanya terkejut melihat jutaan orang yang hadir entah itu penonton maupun peserta. Yang jelas disisi Kultivator tanah Jawa tidak ada satupun wajah ceria yang terpampang diwajah mereka.


"Sepertinya pendekar muda Jawa telah kalah telak," ucap dalam hati sambil tersenyum kecut.


"Tuan, karena aku peserta aku akan pergi ketempat peserta. Maafkan aku yang telah menabrakmu," ucap pemuda tersebut yang berasal dari Padepokan Merpati Langit.


Lasmana Pandya hanya mengangguk, namun setelahnya ia menatap kearah bangku utama kursi penonton. Wajahnya memerah ketika ia mengetahui bahwa ia Jendral Tapak Dewa yang telah membantai kerajaannya.


"Aku tidak bisa balas dendam saat ini," gumam Lasmana Pandya yang tidak bisa merasakan Kultivasi sosok Raja Kerajaan Bai Shi.


"Hei pemuda bertopeng, sayang sekali pertandingan akan tiba diakhir tapi kali ini kamu baru tiba," ucap pemuda berkulit sawo matang.


Sambil memberikan senyumnya, Lasmana Pandya mengangguk, namun tiba tiba cincin ruangnya bergetar.


"Tuan, Kami telah menemukan saudara lainnya, anda jangan khawatir keadaan mereka baik baik saja." Pesan dari Yue Xong.


Lasmana Pandya menghela napas panjang, setelah seesaat itu, pemuda yang menabraknya itu ternyata sosok final yang akan melawan pendekar muda milik Kerajaan Bai Shi.


Goooong! Goooong!


"Raden Kusuma perwakilan Kultivator Jawa melawan Bao Ling Fei!" Ucap panitia lomba menggelegar.


Lasmana Pandya yang menghargai sosok pendekar perwakilan tanah Jawa hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Benar benar kalah dari segi kekuatan," gumam Lasmana Pandya sambil menatap sosok Ling Fei.


Tak berselang lama, Lasmana Pandya menyelusuri semua kultivator pihak Kerajaan Bai Shi, entah itu para prajurit, Komandaan kerajaan, ataupun lainnya. Tanpa ia sedari bulu kuduknya merinding. Bahkan samar samar ia dapat merasakan adanya sebuah ilusi meliputi arena pertempuran, bukan takut pada ilusinya, namun ada dua sosok yang memiliki aura mendominasi memantau pertandingan.

__ADS_1


Jendral Tapak Dewa yang mendapatkan informasi mengenai Pendekar bertopeng seketika mengedarkan kekuatan jiwanya melacak keberadaan Lasmana Pandya.


Tanpa sedari, keempat mata bertemu. Lasmana Pandya menggenggam erat tangannya melihat wajah Jendral Tapak Dewa yang seolah olah tidak memiliki dosa telah membantai seluruh warga kerajaan Sangsakerta.


__ADS_2