Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Kau kira kau dapat membunuhku dengan mudah?


__ADS_3

"Sangat kuat... Lihatlah dia berada di Glory lima tapi masih bisa menyentuh ranah Saints Glory dua," ucap prajurit yang memiliki Kultivasi Sainst Glory empat yang berkumpul terus mengamati Lasmana Pandya yang sangat brutal.


"Benar tiap tebasannya selalu mengenai rekan kita dengan mutlak," timpal lainnya.


"Pedang Bayangan Darah!" Teriak Lasmana Pandya semakin menjadi jadi dalam melesat dan membabat habis musuh didepannya.


Pertempuran terlihat sangat tidak seimbang akibat keberadaan Lasmana Pandya yang bisa dianggap malaikat maut bagi prajurit Kekaisaran Yang. Tidak hanya itu, banyak yang berspekulasi bahwa Lasmana Pandya seperti seorang pembantai yang biasa melawan banyak Kultivator.


Swuuuuush! Slaaaaaash! Slaaaaash!


Bergerak zig zag dan menebas seperti tahu tubuh prajurit membuat yang lainnya ketar ketir mencari cara untuk menghindari melawan Lasmana Pandya.


"Ingin kabur!"


Swuuuuuuung!


Aura puncak pembunuh yang sangat pekat menyebar mengikat tubuh mereka satu persatu.


"Aura yang sangat kuat!" Ucap semuanya terkejut.


Swuuuuuush! Slaaaaaash! Slaaaaash!


Lasmana Pandya kembali bergerak dan menebas lawannya tanpa ampun yang berada tepat dihadapannya. Bagaikan nyawa pencabut nyawa, Lasmana Pandya terus mengayunkan pedangnya tanpa ada yang dapat menghentikan terbangnya.


"Tidak bisa menggunakan segel kematian!" Gumam Lasmana Pandya yang melihat rekannya membantu membabat para prajurit.


"Cepat hentikan dia atau kita akan mengalami kerugian yang banyak!" Ucap prajurit yang berada di ranah Sainst Glory empat melesat mendahului rekannya mengepung pergerakan Lasmana Pandya.


Lasmana Pandya yang menginginkan para Kultivator terkuat itu untuk segera mengejarnya kemudian berpura pura ketakutan. Lasmana Pandya pergi menjauh dengan tubuh yang menggigil membuat sepuluh Kultivator Sainst Glory empat itu tertawa kesetanan.


"Baj*ngan ingin kabur hahahahaha! Saudara dia ketakutan cepat kejar dan siksa!" Teriak lainnya.


Swuuuuush!


Lasmana Pandya berkelebat cepat kemudian menjauh dari rombongan untuk segera melakukan pertempuran di area yang berbeda. setelah sedikit menjauh, tubuh yang menggigil tiba tiba sirna. Yang ada senyum kecil tersungging dibibirnya. Wajahnya datar tanpa ekspresi berhenti menunggu kehadiran sepuluh Kultivator Sainst Glory tingkat empat dengan tenang.

__ADS_1


Swuuuush! Swuuuuush!


"Bocah kau ingin kemana?" Tanya salah satunya sambil memainkan pedang ditangannya.


"Se-senior a-aku..." Ucap Lasmana Pandya tercekat.


"Tunggu apa lagi!"


Swuuuuuush!


"Baguslah, mendekat dan mati bersama rekan kalian yang telah aku bunuh," ucap dalam hati Lasmana Pandya.


Tapak tangan dari kehampaan muncul mengarah pada Lasmana Pandya yang masih saja berpura pura ketakutan. Setelah lima meter tangan itu dihadapan Lasmana Pandya. Senyuman kecil kembali ia sunggingkan.


Dhuuuuuaar!


Ledakan dahsyat bergema saat Lasmana Pandya memblokir tapak tangan itu menggunakan telapak tangan kirinya. Sehingga sepuluh Kultivator itu menganga melihat Lasmana Pandya yang tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya.


"Sangat kuat!"


"Dia sepertinya hanya menyamar dan berpura pura, saudara cepat bunuh!"


Swuuuuuush!


Dhuuuuuuaar!


"Aku lalai," gumam Lasmana Pandya kemudian menatap kesepuluh prsjurit yang kini mulai melesat kearahnya.


"Pedang Bayangan Darah!" Teriak Lasmana Pandya melesat.


Swuuuuush!


Lasmana Pandya melesat berlawanan arah dengan gerakan zig zag dan memberikan tebasan pedang yang mengarah pada titik vital prajurit didepannya. Kecepatan yang bertambah, dan juga akurasinya yang sangat mengerikan mengarah pada titik vital membuat kesepuluh prsjurit itu sebisa mungkin menghindar. Sehingga kesepuluh prajurit itu terpencar kesegala arah.


"Baj*ngan ini berada ditingkat yang sama dengan kita arghhh!"

__ADS_1


"Terlambat untuk menyadarinya!" Teriak Lasmana Pandya muncul dan menebas leher sosok yang berteriak tersebut.


Slaaaaaash!


Leher dan kepalanya terlepas dari tubuhnya, tersisa sembilan orang yang masih mencoba menghindari gempuran Lasmana Pandya yang sangat cepat. Namun sayangnya, Lasmana Pandya memaksa kecepatan dititik maksimalnya, sehingga gerakannya sekilas benar benar seperti bayangan yang berkelebat kesetiap arah.


"Petir abadi!"


"Pedang Langit!"


"Raga Yang Shi!"


"Rajawali Nusindo!"


Sembilan jurus dari sembilan prajurit yang tersisa akhirnya mereka keluarkan secara bersamaan setelah Lasmana Pandya berada ditengah tengah posisi mereka.


Aura yang berbeda menyebar mencoba menekan pergerakan Lasmana Pandya. Namun sayangnya, aura pembunuhnya segera melahap aura milik mereka dengan mudahnya.


"Pemusnah Nirwana!"


Teriak Lasmana Pandya kemudian memutarkan tubuhnya dan menebas pedangnya kesegala arah. Sembilan energi tebasan pedang yang memiliki aura pembunuh sangat kuat mengarah pada jurus masing masing prajurit.


"Tuan muda!"


"Mati!"


Dhuuuaar! Dhuuuuuar! Dhuuuuuuaar!


Ledakan dahsyat beruntun diatas langit area pertempuran Lasmana Pandya. Sembilan pria terpental dari pijakan mereka, sedangkan Lasmana Pandya masih berada didalam kabut.


Sembilan pria itu yang terpental menyeimbangkan tubuh mereka dan menajamkan penglihatan mereka.


"Saudara sepertinya dia telah mati!" Ucap senang salah satunya.


Delapan lainnya mengangguk, namun tiba tiba setelah asap dan kabut menghilang. Lasmana Pandya berdiri tegak tanpa mundur dari tempatnya memejamkan matanya.

__ADS_1


"Kau kira membunuhku semudah kalian membunuh semut?" Tanya Lasmana Pandya membuka matanya.


Dibarengi dengan munculnya cahaya merah di bila matanya. Mata kesembilan itu melotot melihat Lasmana Pandya yang terlihat baik baik saja. Tidak ada luka yang bearti dari tubuh Lasmana Pandya.


__ADS_2