
Sebuah pernikahan yang terbilang cukup sederhana, namun masih cukup terlihat elegan dengan riasan yang indah di halaman rumah. Pengantin pria dan wanita yang berdiri di pelaminan dengan senyuman bahagia. Mungkin sebuah kebahagiaan yang tidak akan pernah terpikirkan oleh siapapun, karena pasangan pengantin itu pernah melewati semunya dengan tidak mudah.
Setelah tiga bulan berlalu, akhirnya Ajeng dan Felix bisa menikah dan memberikan orang tua yang lengkap untuk anak mereka. Semua orang ikut bahagia saat Sherin mulai bisa memanggil Felix dengan sebutan Papi. Dan semua orang juga membantu memberikan pengertian pada Sherin jika Ayah yang sebenarnya itu adalah Felix, bukanlah Fadil.
"Akhirnya mereka bisa kembali bersama ya. Ternyata sebuah kisah yang rumit bukan hanyalah kita, tapi ada pasangan lain yang ternyata sama menjalani semuanya dengan rumit" ucap Yara, dia menatap ke arah pasangan pengantin baru di atas pelaminan itu.
"Bersyukur semuanya masih bisa kembali bersatu. Kita harus banyak bersyukur karena bisa bersama lagi setelah banyak rintangan yang kita lewati selama ini" ucap Fadil, dia mengelus kepala istrinya.
Yara tersenyum mendengar itu, dia menggenggam tangan suaminya dengan lembut. "Aku bahagia bisa bersama denganmu lagi. Dan sekarang aku semakin bahagia karena aku bisa lepas dari semua obat-obatan itu"
Fadil mengangguk, entah rasa syukur bagaimana lagi yang harus dia ucapkan pada Tuhannya. Akhirnya istrinya ini bisa terbebas dari semua obat-obatan itu. Semoga saja semua kebahagiaan akan selalu menghampiri mereka.
"Mulai sekarang, kamu harus banyak memikirkan kesehatan kamu. Meski sekarang sudah tidak lagi minum obat, tapi kamu tetap menjaga kesehatan kamu. Oke"
Yara mengangguk, tentu saja karena dia juga tidak ingin jika harus sakit kembali. Karena nyatanya dia tidak pernah ingin menderita lagi. Sakit itu sangat menyiksanya hingga dia merasa sangat ingin menyerah begitu saja.
"Sayang, semoga saja aku bisa segera memberikan kamu keturunan ya. Aku tahu kalau kamu juga ingin mempunyai anak" ucap Yara.
"Bisa melihatmu sembuh dan sehat selalu, sudah menjadi sebuah kebahagiaan yang begitu besar untukku. Jadi tidak akan pernah aku memaksakan untuk mempunyai anak, meski sebenarnya aku juga menginginkan anak, tapi ada banyak cara untuk mempunyai anak selain lahir dari rahim kamu ini" ucap Fadil, dia mengelus pipi istrinya dengan lembut.
Yara langsung tersenyum mendengar itu, dia bisa melihat suaminya yang begitu tulus padanya. Karena memang dirinya yang tidak akan menuntut agar Yara mempunyai anak. Dapat pengertian seperti itu saja dari suaminya sudah memberikan sebuah semangat tinggi darinya.
"Sayang, terima kasih ya sudah memberikan pengertian kamu. Aku bahagia sekali" ucap Yara.
__ADS_1
"Yang terpenting kita bisa bahagia saja"
*****
Yara menatap pantulan dirinya di balik cermin. Sedikit demi sedikit rambutnya mulai terlihat, meski masih belum terlihat lebat, jika pergi keluar masih saja harus menggunakan penutup rambut karena tumbuhnya yang masih belum merata.
Yara mengelus perutnya dengan lembut. "Aku sudah terbebas dari obat-obatan keras itu, semoga saja kesuburanku bisa kembali. Tapi sampai saat ini aku belum datang bulan lagi"
Efek dari kemoterapi dan berbagai pengobatan lainnya, membuat reproduksi Yara sedikit terganggu. Bahkan hormon kesuburannya masih belum normal. Sudah selama ini namun dia masih belum mengalami datang bulan. Jadi, harapan untuk segera hamil masih banyak hal yang harus dia lewati.
Yara yang mulai rutin meminum vitamin dan juga obat penyubur kandungan. Semoga saja dia bisa segera hamil dan memberikan seorang anak untuk suaminya.
Fadil yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian, dia langsung memeluk istrinya dari belakang. Menatap wajah Yara dari pantulan cermin. "Sayang, aku mencintaimu. Jangan pernah meninggalkan aku lagi ya"
"Jangan mengkhianatiku lagi, maka tidak ada lagi alasan aku untuk meninggalkanmu" ucap Yara.
"Aku tidak akan pernah lagi melakukan kebodohan itu lagi. Bahkan penyesalan itu masih ada, kenapa aku harus melakukan kebodohan itu saat dulu. Sampai membuat kamu melewati banyak hal yang sulit"
Fadil yang pernah melakukan kesalahan yang besar, hingga sampai sekarang rasa penyesalan itu membuatnya merasa sangat bersalah pada istrinya. Hal itulah yang membuat Fadil selalu berusaha untuk membuat Yara bahagia. Namun terkadang dia selalu tidak sadar telah membuat Yara terluka. Seperti saat itu, dimana dia yang pernah mengabaikan Yara saat Sherin saat itu. Pastinya Yara akan sangat terluka.
"Sayang, kalau misalkan aku tidak sengaja membuat kamu kesal dan marah. Aku minta maaf ya. Jangan sampai kamu meninggalkan aku. Kalau kamu marah padaku, kamu langsung bicara saja dan beritahu aku apa yang membuat kamu tidak suka" ucap Fadil.
Yara mengangguk, dia tersenyum mendengarnya. "Mungkin sekarang kamu juga tidak akan terus membuat aku kesal. Bukannya Sherin juga sudah mempunyai Ayah kandungnya sendiri. Sebenarnya aku selalu cemburu kalau kamu berduaan dengan Putri Ajeng, karena dulu kalian pernah menikah"
__ADS_1
Fadil melepaskan pelukannya, dia memutarkan tubuh istrinya agar menghadapnya. Yara yang menunduk itu, langsung Fadil angkat wajahnya agar menatap ke arahnya.
"Sayang, kamu boleh cemburu sama aku. Bahkan sampai marah karena cemburu juga, karena perasaan cemburu itu wajar saja untuk seseorang yang mencintai. Tapi tolong untuk langsung bicara sama aku apa yang sebenarnya membuat kamu marah. Biar aku bisa memperbaiki semuanya" ucap Fadil.
Yara tersenyum mendengar ucapan Fadil barusan. Setidaknya suaminya ini sekarang sudah lebih baik. Fadil yang sudah kembali seperti Fadil yang dulu. Yara sangat bersyukur melihat suaminya yang terlihat sangat tulus padanya.
"Terima kasih ya Sayang"
Fadil mengangguk, dia mengecup bibir Yara yang berlanjut menjadi sebuah ciuman hangat. Tangan Fadil menahan tengkuk leher Yara dengan semakin memperdalam ciumannya. Sebelah tangannya mulai masuk ke dalam bagian dadanya.
Fadil langsung menggendong istrinya dan membawanya ke arah tempat tidur. Merebahkan Yara di atas tempat tidur. Yara yang begitu pasrah saja diperlakukan seperti apa oleh suaminya.
Sampai malam ini mereka kembali melakukan kenikamatan dunia. Suara-suara desa*han yang jelas menunjukan kenikmatan di dalam kamar ini.
"Yara, aku mencintaimu"
Desa*han panjang menandakan permainan ini telah berakhir. Tubuh Fadil jatuh di atas tubuh Yara dengan nafas yang terngah-engah. Keringat yang membasahi tubuh keduanya.
Fadil bangkit dari atas tubuh Yara, lalu dia mengelus perut rata istrinya. Mengelus lembut bagian bekas operasi di perut istrinya. "Aku yakin kamu akan bisa hamil suatu saat nanti. Kita hanya perlu banyak bersabar dan berusaha"
Yara mengangguk, dia juga selalu berdo'a untuk bisa segera hamil.
Besambung
__ADS_1