Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 29 (Siklus Datang Bulan Beraksi)


__ADS_3

Fadil menggeliat pelan ketika dia merasakan pipinya yang terus mendapatkan sentuhan lembut. Hingga akhirnya ketika dia bangun, dia melihat istrinya yang sedang mengelus pipinya dan juga sesekali mengecupnya dengan lembut. Fadil tersenyum dengan cara istrinya yang sedang membangunkannya ini. Dengan cepat Fadil menolehkan wajahnya ke arah Yara dan mencium bibir gadis itu dengan lembut.


Yara terbelalak kaget karena dia tidak sadar jika Fadil sudah bangun, malah asyik sendiri bermain-main dengan pipi Fadil. Tangan Fadil yang menahan tengkuk Yara, membuat dia tidak bisa menghindarinya lagi. Yara hanya bisa menerima ciuman yang diberikan oleh suaminya ini.


"Selamat pagi Sayangku, Cintaku" ucap Fadil sambil mengusap bibir Yara yang basah bekas ciuman mereka.


Yara memutar bola mata malas, memang suaminya ini pandai sekali mencari kesempatan. "Sudah hampir siang, kamu gak kerja sekarang? Malah tidur lagi disini"


Fadil hanya terkekeh pelan, dia melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 8 pagi. "Masih pagi kok, lagian tadi aku terlalu ngantuk jadi sampai ketiduran disini"


"Yaudah, sekarang aku siapkan air dan pakaian kerja kamu ya" ucap Yara yang langsung berdiri dari duduknya.


Namun, Fadil langsung menahan tangannya ketika Yara baru saja akan melangkah. "Sayang, bukannya kamu sedang datang bulan? Apa tidak sakit? Sudah, kamu diam saja biar aku yang siapin sendiri"


Yara tersenyum pelan mendengar ucapan suaminya itu. Dia mencubit gemas pipi Fadil. "Sayangku, aku ini cuma datang bulan. Bukan sakit. Lagian kayak yang gak pernah saja ngelihat aku datang bulan. Aku tidak papa"


Fadil tersenyum saja, dia hanya takut saja kalau istrinya akan merasakan sakit. Karena dia yang sudah lama tidak mengalami siklus datang bulan, dan baru kali ini dia kembali datang bulan. Takutnya dia akan merasakan sakit atau tidak nyaman.


Namun terlihatnya Yara baik-baik saja, dia berjalan ke ruang ganti dan langsung menyiapkan semua perlengkapan mandi dan juga pakaian kerja suaminya. Setelah semuanya selesai, Yara langsung ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya itu. Pastinya harus mengutamakan sarapan sebelum bekerja, agar bisa semangat bekerja.


"Sayang..." Ketika Yara sedang membuat roti lapis untuk suaminya, tiba-tiba saja Fadil datang dan memeluknya dari belakang. Aroma sahampo dan parfum yang digunakan suaminya langsung tercium ke indra penciumannya.


"Sarapan dulu, aku sudah buat roti lapis dan kopi buat kamu. Biar nanti bekerjanya semangat" ucap Yara.


Fadil tersenyum mendengar itu, tentu saja dia akan selalu semangat untuk bekerja ketika istrinya selalu saja memberikan yang terbaik untuknya. "Terima kasih Sayang, kamu sudah menjadi istri yang baik untukku"

__ADS_1


Yara hanya tersenyum, mungkin memang hanya ini yang bisa diberikan Yara untuk saat ini pada suaminya. Karena dia masih belum bisa memberikan seorang anak untuknya.


*******


Yara hanya tiduran di sore hari ini, ketika perutnya mulai terasa kram dan sakit. Sudah lama sekali tidak mengalami hal seperti ini setelah dia tidak datang bulan begitu lama sejak penyakit parah yang menyerang tubuhnya, hingga membuat Yara sudah hampir menghadapi kematian saat itu juga.


"Ah, sakit sekali. Sudah lama sekali tidak merasakan perut sakit seperti ini"


Yara tiduran dengan tengkurap di atas tempat tidur dengan kedua tangannya yang dia letakan di perutnya. Rasanya begitu lemas dan menyakitkan, apalagi ketika darah yang keluar juga cukup banyak. Membuat Yara semakin merasa lemas sekarang.


Sampai ketika malam tiba, Fadil baru saja pulang dan dia melihat istrinya yang sedang tidur di atas tempat tidur. Perlahan Fadil menghampirinya, dan duduk di pinggir tempat tidur. Menatap Yara yang terlihat begitu tenang dalam terlelap.


Fadil mengelus pipi istrinya, lalu dia mengecupnya dengan lembut. "Sayang, bangun yuk. Aku bawa makanan buat kamu"


Yara bangun terduduk di atas tempat tidur, sesekali dia  meringis saat perutnya kembali terasa kram dan sakit. Melihat itu Fadil langsung peka kalau istrinya sedang tersiksa dengan siklus datang bulan.


"Sakit ya, mau ke Dokter saja?" tanya Fadil sambil mengelus perut Yara.


"Tidak perlu, kan sudah biasa seperti ini. Aku cuma merasa lemas saja karena sudah lama sekali tidak mengalami datan bulan" ucap Yara.


Fadil mengelus kepala istrinya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Fadil selalu khawatir saat melihat istrinya kesakitan seperti ini. Bayangan saat Yara hampir saja menyerah dengan penyakitnya yang parah, membuat dia tidak bisa lupa dengan rasa panik dan cemas saat itu. Bagaimana istrinya yang hampir meninggal dan ingin menyerah dengan hidupnya. Fadil tidak akan pernah bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya ketika dia harus kehilangan Yara untuk selamanya.


"Sayang, terus sehat ya. Aku tidak bisa melihat kamu terluka seperti ini. Kamu adalah sumber semangat dalam hidupku, aku tidak akan pernah bisa melihat kamu sakit" ucap Fadil.


Yara tersenyum, dia memegang tangan Fadil yang berada di pipinya. Lalu dia mengecup telapak tangan Fadil. "Sayang, kamu tenang saja. Aku akan selalu baik-baik saja. Kamu akan melihat aku melahirkan dan merawat anak-anak kita, bukannya begitu?"

__ADS_1


Fadil megangguk sambil tersenyum, memang seperti itu seharusnya. Yaranya harus sehat selalu dan bisa merasakan menjadi seorang Ibu hingga merawat anak-anak mereka hingga besar.


"Aku bawa makanan kesukaan kamu di bawah, kita makan ya. Atau mau dimakan disini saja?" ucap Fadil.


"Makan di bawah saja, aku juga tidak papa"


Dan mereka pun turun ke lantai bawah, makanan yang dibawa oleh Fadil sudah disiapkan oleh Mbak pelayan. Mereka hanya tinggal memakannya saja. Mereka makan dengan tenang dengan sesekali mengobrol.


"Sayang, kamu gak malu tadi aku suruh beli barang itu?" tanya Yara, masih saja penasaran apa yang dilakukan Fadil ketika dia menyuruhnya membelikan barang pribadi para wanita.


"Kenapa harus malu? Untuk istri sendiri harus dilakukan apapun itu. Tapi tadi ada kejadian lucu, disaat aku bingung mau membeli yang seperti apa untuk kamu itu. Ada dua gadis...." Fadil yang menceritakan kejadian tadi pagi di minimarket. Bagaimana kejadian itu dia anggap sangat lucu sekali.


Fadil tertawa lucu ketika dia menceritakan tentang kejadian tadi pagi. "Makanya aku membeli dua-duanya, karena gadis remaja itu malah saling berdebat tidak jelas"


"Senang sekali sepertinya bertemu dengan gadis remaja yang pastinya sangat cantik ya" ketus Yara, entah kenapa dia tiba-tiba merasa tidak suka ketika mendengar ucapan Fadil barusan.


Fadil langsung terdiam seketika, dia menoleh dan melihat tatapan istrinya yang tidak suka. Apalagi ketika nada bicaranya yang terdengar sangat ketus itu.


"Sayang, kamu tidak akan cemburu pada gadis SMU 'kan?"


Yara mendengus pelan. "Kalau aku cemburu memangnya kenapa? Tidak boleh kalau aku cemburu sama suamiku sendiri. Ish, kamu menyebalkan"


Fadil terdiam saat Yara yang langsung pergi begitu saja dari meja makan. "Hormon datang bulan sudah beraksi. Arghh"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2