
Yara terdiam sambil menatap langit-langit ruangan yang sudah menjadi tempat tinggalnya sehari-hari. Tempat dimana dirinya merasakan rasa sakit yang luar biasa. Entah harus bagaimana lagi Yara menghadapi rasa sakit yang semakin hari semakin parah ini. Ingin menyerah tapi selalu ada sosok malaikat yang selalu memberikan Yara semangat dan selalu meyakinkan dirinya untuk selalu menjalani pengobatan untuk segera sembuh.
Yara melirik ke arah pintu ruangan yang terbuka, Keanu masuk ke dalam ruangannya. "Mas, aku bertemu Fadil tadi"
Deg..
Seseorang yang hampir saja ikut masuk ke dalam ruangan, langsung terdiam dan menahan pintu agar tidak terbuka lebar. Fadil ingin mendengar apa yang akan dibicarakan Yara pada Keanu tentang dirinya.
"Lalu apa kamu bahagia bertemu dengannya? Bukannya selama ini kamu selalu menanyakan tentang kabar dia"
Yara menggeleng pelan, dia menatap Keanu sambil tersenyum lirih. "Aku tidak mau bertemu dengannya Mas, kondisi aku yang seperti ini hanya akan membuat Fadil jijik sama aku. Kamu lihat sendiri bagaimana penampilan aku saat ini"
Keanu terdiam mendengarnya, dia sedikit melirik ke arah pintu dimana dia tahu jika Fadil sedang berdiri disana dan mendengarkan percakapan mereka.
"Tapi Ra, kalau memang Fadil tulus mencintai kamu. Dia pasti tidak akan merasa seperti itu saat melihat keadaan kamu yang seperti ini"
"Tidak Mas, dia pasti tidak mau bersama denganku. Lagian Fadil juga sudah menikah, jadi untuk apa dia kembali lagi padaku. Karena sekarang yang harus dia pikirkan hanya istrinya dan anaknya"
Keanu tidak berkata apapun lagi, karena soal itu memang benar apa yang dikatakan oleh Yara barusan. Fadil yang sudah menikah, memang tidak seharusnya kembali pada Yara, karena nantinya akan membuat nama Yara buruk di mata orang-orang.
Di balik pintu, Fadi terdiam dengan tangan yang memegang dadanya yang begitu sesak ketika dia mendengar ucapan Yara barusan. Bagaimana terdengar jelas di telinga Fadil tentang Yara yang patah hati dan begitu terluka oleh perbuatannya.
Sayangku, maaf.
Fadil tidak jadi masuk karena dia berpikir kalau Yara belum siap untuk bertemu dengannya. Fadil harus menemukan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Yara. Bukannya pergi menemui anak dan istrinya, Fadil malah kembali ke rumahnya. Dia duduk di balkon kamar dengan tatapan yang kosong. Sudah habis hampir satu bungkus rokok di habiskan, menghisap asap nikotin itu dengan segala frustasi yang dia rasakan saat ini.
__ADS_1
"Yara, kenapa kamu harus pergi dan bahkan tidak memberi tahu aku tentang penyakit kamu itu"
Terkadang Fadil ingin mengutuki dirinya sendiri, saat dia dengan tega mengkhianati Yara dan membuat gadis itu benar-benar menderita karena ulahnya. Dan sekarang bahkan dia tidak mengetahui apapun tentang penyakit yang di derita oleh Yara. Di saat Yara yang selalu ada untuknya, sementara Fadil tidak pernah ada di saat Yara kesulitan seperti saat ini.
"Maafkan aku Yara, aku janji akan membuat kamu sembuh kembali dan kita bisa hidup bahagia bersama"
Suara dering ponsel membuat Fadil menatap ponselnya yang berada di atas meja dan terlihat nama si peenlepon yang tertera di layar ponselnya. Fadil mengusap wajah kasar ketika tahu jika si penelepon hanya ingin menyuruhnya untuk kembali ke rumah sakit, karena anak dan istrinya yang masih berada disana.
Fadil membiarkan telepon itu sampai benar-benar mati sendiri. Setelah itu dia segera mematikan ponselnya. Saat ini dia sedang tidak ingin di ganggu oleh siapa pun.
######
"Fadil kemana Papi, kenapa dia belum juga kembali kesini?"
"Dia tidak menjawab telepon Papi, sekarang malah tidak aktif"
"Ajeng, kamu susui dulu anak kamu ini. Dia belum kamu kasih asi sejak tadi"
Ajeng yang mempunyai anak, tapi Sarah yang kerepotan mengurus anaknya itu. Sarah sampai heran kenapa adiknya itu sampai tidak peduli pada anak yang dia lahirkan baru saja.
"Aku tidak mau Kak, dia tidak boleh merusak tubuhku. Sudah cukup dia yang membuat aku kesusahan saat mengandungnya, sekarang jangan membuat aku kesusahan juga ketika dia sudah lahir"
"Ya ampun Ajeng, kamu ini sudah menjadi seorang Ibu. Kenapa kamu tidak mau mengurus anak kamu sendiri, ini sudah menjadi kewajiban kamu dan tugas kamu untuk mengurus anak kamu ini"
"Sudahlah Sarah, Papi 'kan sudah membeli susu fomula. Kamu kasih saja bayinya Ajeng susu itu"
__ADS_1
Sarah sampai menggelengkan kepala heran saat dia melihat bagaimana Ayahnya sendiri yang selalu mendukung dan membela Ajeng dalam hal apapun. Sementara dirinya yang selalu menjadi korban dan akhirnya Sarah yang selalu mengalah.
Akhirnya Sarah membuatkan susu formula untuk keponakannya itu. Dia menatap bibir mungil yang sedang menyedot susu dalam botol itu dengan prihatin.
"Maafkan Ibu kamu ya, Tante juga bingung kenapa Ibu kamu begitu tega sama kamu. Padahal kamu ini sangat menggemaskan"
Putri Ajeng benar-benar tidak peduli dengan semua itu. Yang dia pikirkan saat ini hanya tentang Fadil dan pernikahannya yang sudah di ambang kehancuran.
Pintu ruangan terbuka dan Fadil muncul disana, jelas sekali jika Fadil sebenarnya sangat malas untuk datang kesini dan menemui Ajeng.
"Akhirnya kamu datang juga, Honey. Apa kamu tidak ingin melihat anak kita"
Fadil melirik Sarah yang sedang duduk di atas sofa sambil memberikan susu pada bayi mungil dalam gendonganya yang Fadil yakin jika itu adalah anaknya Putri Ajeng.
"Kalau dia anak kamu, tidak mungkin kamu tidak mungkin kamu membiarkan anak kamu minum susu formula. Sudah seperti bayi yang tidak punya Ibu saja"
Putri Ajeng terdiam mendengar ucapan Fadil barusan. Jelas dia bingung sendiri harus menjawab apa, karena Fadil sudah terlanjur melihatnya. Padahal tadinya Putri Ajeng akan menarik simpati Fadil dengan menunjukan sosok keibuannya, meski hanya berpura-pura. Tapi ternyata semuanya tidak sesuai rencananya.
"Aku datang kesini untuk segera melakukan tes DNA, sebentar lagi Dokternya akan datang"
"Fadil, apa kamu tidak mau menunggu beberapa hari dulu? Setidaknya sampai aku benar-benar pulih"
Fadil tersenyum saja mendengar ucapan itu. Karena dia tahu jika ucapan Putri Ajeng barusan, hanya untuk mengundur rencana Fadil ini. Namun Fadil tidak akan bisa terbodohi begitu saja. Karena dia butuh sebuah kepastian tentang anak yang di lahirkan Putri Ajeng barusan. Fadil ingin mengetahui apa kebenarannya.
"Aku harus segera mengetahui apa kebenarannya. Apa anak itu memang benar anakku atau bukan. Aku ingin mengetahui semuanya. Dan melihat dari kegelisahan kamu, membuat aku semakin yakin untuk melakukan tes DNA itu"
__ADS_1
Bersambung