Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 34 (Seandainya Hatimu Itu Untukku)


__ADS_3

Fadil langsung terdiam mendengar itu, tentu saja dia sangat khawatir jika keadaan istrinya ini tidak baik-baik saja. "Sayang yakin tidak papa? Aku tidak mau kalau sampai ada hal yang terjadi pada tubuhmu, dan kita terlambat memeriksakan ke Dokter"


Yara mengelus pipi suaminya untuk menenangkan dia yang terlihat sangat panik dengan keadaannya yang sebenarnya baik-baik saja. "Sayang, mungkin saja kesuburan hormon aku sudah kembali setelah aku meminum obat penyubur kandungan itu. Ternyata obat itu cukup efektif juga"


Fadil hanya mengangguk saja, berharap jika ucapan istrinya itu memang benar. Tidak terjadi apa-apa pada keadaan istrinya ini.


Dan akhirnya mereka pun berangkat ke Supermarket untuk membeli kebutuhan Yara itu.


Berbelanja di malam hari bersama dengan suami, selalu menjadi dambaan banyak wanita. Ketika berbelanja kebutuhan dengan seorang suami yang mendorong kereta belanja, dan mengikuti sang istri yang membawa beberapa barang yang memang di butuhkan.


"Sayang, shampo habis deh kayaknya. Kamu tolong ambilkan disana" ucap Yara.


Fadil mengangguk, dia berjalan ke arah rak yang di tunjuk oleh Yara barusan. Sementara Yara masih memilih beberapa barang yang dia butuhkan. Sampai ketika dia memegang barang yang ingin diambilnya, sebuah tangan juga ingin mengambil barang itu dan akhirnya tangan mereka saling bersentuhan. Yara menoleh dan terdiam saat melihat seorang pria yang berdiri di sampingnya itu.


"Yara?"


Mendengar seseorang menyebut nama istrinya, membuat Fadil langsung menoleh. Dia melihat pria yang dia kenal berdiri disamping istrinya, membuat tangannya mengepal erat. Fadil menyambar barang yang di tuduhkan istrinya itu. Lalu segera menghampiri istrinya.


"Mau apa kau disini?" tanya Fadil dengan penuh penekanan.


Yara langsung terkejut, dia masih terlalu kaget dengan kedatangan teman kuliahnya dulu. Yara langsung memegang tangan Fadil karena takut suaminya akan kehilangan kendali dan malah membuat keributan di tempat ini.

__ADS_1


"Wah, ternyata kalian masih bersama ya. Bukannya kau sudah menikah dengan anak pengusaha itu, Fadil? Kenapa sekarang kembali lagi pada Yara?"


"Kak Gino udah, jangan bicara seperti itu. Aku memang sudah menikah dengan Fadil" ucap Yara, sengaja menghentikan Gino agar tidak terus berbicara yang akan memancing kemarahan Fadil.


Gino tersenyum saja, dia menatap Yara dengan tatapan penuh arti. "Kau masih sama ya, terlalu baik dan tulus sama pria yang sudah jelas-jelas mengkhianati kamu. Seandainya hati kamu itu untukku"


"Apa kau bilang?!" Fadil sudah ingin mendekat pada Gino dan ingin melayangkan pukulan di wajahnya. Namun, Yara langsung menahan tangannya.


"Kak Gino, sudah ih jangan membahas masa lalu. Sekarang Kakak sebaiknya pergi saja, jangan ganggu aku dulu" ucap Yara yang langsung menarik suaminya agar menjauh dari Gino.


"Apasi tuh orang, cari masalah terus menerus" kesal Fadil.


Yara menghela nafas pelan, dia melihat wajah suaminya yang merah padam sedang menahan amarah. "Sayang, sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Kamu kayak yang gak mengenal dia saja. Kan dari dulu Kak Gino memang seperti itu"


"Kita pulang sekarang saja, kamu jangan kesal terus seperti itu dong, Sayang. Biarkan saja Kak Gino seperti itu" ucap Yara.


Fadil hanya diam saja, sepertinya dia masih kesal karena kembali bertemu dengan orang yang selalu saja membuatnya kesal. Selalu saja Gino berusaha untuk mengambil Yara dari dirinya.


Setelah di dalam mobil, Fadil masih terlihat kesal. Apalagi ketika dia mengingat ucapan Gino pada Yara tadi. Tentu saja membuatnya kesal sekali, bagaimana dia yang begitu menunjukan dengan terang-terangan kalau Gino itu menginginkan Yara.


"Sayang, sudah dong jangan terus kesal seperti itu"

__ADS_1


"Apa maksudnya ucapan dia itu? Dia memang menginginkan kamu sejak dulu" ketus Fadil.


Yara menghela nafas pelan, dia tahu bagaimana Gino yang sering mendekatinya sejak dulu. Namun Yara juga tidak bisa terus memberikan harapan palsu padanya, karena dia yang mencintai Fadil. Yara tidak mau membuat Gino kecewa dengan harapan palsu yang diberikan Yara padanya. Itulah yang membuatnya tidak pernah memberikan sebuah harapan yang lebih pada Gino.


"Sayang, kamu jangan memikirkan tentang ucapannya itu. Kan aku hanya akan menjadi milik kamu saja. Tidak akan menjadi milik orang lain. Kamu tenang saja, karena aku tidak bisa berpaling pada orang lain" ucap Yara, mencoba menanangkan suaminya itu.


Fadil melirik istrinya sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan di depannya. "Pokoknya kamu akan selalu menjadi milikku sampai kapan pun"


Yara mengangguk, dia mengelus tangan Fadil dengan lembut. "Iya Sayang, iya"


Setidaknya memang Yara tidak akan bisa berpaling pada siapapun. Pernah mencoba hal baru dengan Keanu saja, dia tetap tidak bisa melupakan Fadil. Jadi apa yang bisa Yara lakukan ketika hatinya hanya untuk Fadil seorang.


********


Sepertinya pertemuan mereka dengan Gio waktu itu, cukup membuat Fadil kesal. Sampai dia takut sekali kalau Yara bertemu dengannya saat tidak bersama Fadil. Karena Fadil jelas melihat tatapan Gio yang masih sama pada Yara, pria itu memang tertarik pada istrinya ini.


Yara seolah mengetahui bagaimana kegelisahan suaminya ini. Dia mengelus pipi suaminya itu. "Kamu tenang saja dan tidak perlu memikirkan tentang dia. Lagian dia juga tidak mungkin mau padaku Sayang. Apa kamu tidak lihat bagaimana penampilanku saat ini. Rambutku saja masih setipis ini, meski sudah tumbuh. Jadi, mana mungkin dia tertarik padaku. Dia itu hanya bermain-main saja karena ingin membuat kamu kesal. Kan kamu tahu kalau sejak dulu dia itu paling senang membuat kamu kesal"


Fadil menghela nafas pelan, dia menatap istrinya dengan lekat.  Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Sekarang rambut Yara sudah mulai kembali tumbuh, meski belum lebat maksimal. Namun setidaknya, kulit kepalanya sudah tertutup oleh rambut. Dia sudah tidak lagi memakai penutup kepala jika keluar rumah.


"Aku juga seorang pria, tentu aku tahu mana tatapan seseorang yang memiliki ketertarikan pada seorang wanita. Dan dia mempunyai tatapan itu" tekan Fadil.

__ADS_1


"Kalau memang begitu pemikiran kamu, tetap saja kamu tidak perlu khawatir seperti ini. Bukannya kamu tahu sendiri, meski banyaknya pria yang mungkin merasa tertarik atau apapun padaku, tentu saja aku tidak akan bisa berpaling dari kamu. Dulu saja pernah dengan Mas Keanu, buktinya aku tidak bisa bertahan lama. Tidak sperti saat aku bersama kamu, aku bisa sesabar ini"


Bersambung


__ADS_2