Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 45 (Akan Selalu Menjaga Yaraku)


__ADS_3

Oekkk... Suara tangisan bayi yang menggema di ruangan ini menyadarkan Yara dari segala ingatan tentang perjalanan kisahnya bersama Fadil. Setetes air mata yang langsung menetes begitu saja, sebuah kebahagiaan yang tidak pernah Yara rasakan sebelumnya. Ketika ada bayi mungil yang berada di atas dadanya dan tangan kecilnya itu menggenggam jari Yara. Suara tangisnya membuat Yara begitu terharu.


Fadil langsung mengecup kening Yara, entah harus bagaimana lagi dia mengungkapkan perasaannya saat ini.  Setelah banyak sekali melewati banyak hal, akhirnya dia bisa melihat anaknya lahir dari wanita yang dia cintai.


"Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan yang tidak pernah terkira dalam hidupku" bisik Fadil.


Yara hanya tersenyum saja, dia masih merasa lemah setelah mengeluarkan tenaganya untuk melahirkan bayi mungil ini.


********


Fadil duduk di pinggir ranjang pasien yang ditempati oleh istrinya ini. Yara sudah kembali lagi ke ruang rawat. Fadil menatap ke arah box bayi, dimana bayi mereka sedang terlelap disana.


"Sayang, makan dulu. Kamu harus banyak makan untuk mengganti tenaga yang keluar tadi" ucap Fadil.


Yara tersenyum mendengar itu, dia menatap bayi mungil yang sedang terlelap di dalam box bayi. Tentu saja dia begitu bahagia karena akhirnya bisa merasakan sakitnya melahirkan, namun kebahagiaan yang di dapat setelah anak itu lahir, tentu saja tidak sebanding dengan rasa sakit yang dia rasakan.


"Aku mencintaimu, Fadil"


Fadil terdiam saat tiba-tiba sekali istrinya mengucapkan itu. Dia tersenyum penuh bahagia ketika Yara mengucapkan kata cinta dengan tatapan yang penuh ketulusan.


"Aku lebih mencintaimu. Sekarang kita sudah mempunyai kelengkapan dalam keluarga ini. Semoga kedepannya akan semakin bahagia" ucap Fadil.


Yara mengangguk, tentu saja tidak akan mudah menjalani sebuah pernikahan. Karena pasti ada saja sebuah kesalah fahaman atau apapun itu. Namun, semuanya akan bisa terselesaikan kalau mereka terus bersama dan terus menjalani kehidupan membahagiakan bersama.


"Makan dulu, nanti bayi kita keburu bangun dan minta asi lagi. Kamu harus mengisi nutrisi dulu untuk asinya" ucap Fadil.

__ADS_1


Yara hanya mengangguk, dia mulai menerima suapan demi suapan dari suaminya. Matanya berkaca-kaca, karena akhirnya dia bisa merasakan hari ini. Dimana Yara yang sudah menjadi seorang Ibu yang seutuhnya. Hanya saja dia tinggal menjadi seorang Ibu yang baik untuk anaknya nanti. Yara akan terus berusaha untuk itu.


"Aku kapan bisa pulang, Sayang? Bukannya semuanya baik-baik saja ya?" tanya Yara.


"Kita tunggu saja dulu kabar dari Dokter. Kalau keadaan kamu dan bayi kita baik, mungkin akan bisa segera pulang. Tapi Sayang, apa tidak sebaiknya kamu tetap tinggal disini saja untuk beberapa hari" ucap Fadil, tentu saja dia juga sangat khawatir dengan keadaan istrinya ini.


"Apasi Sayang, aku tidak papa. Jadi kalau sudah diperbolehkan pulang, aku akan segera pulang. Kamu tenang saja, aku akan selalu baik-baik saja" ucap Yara.


"Yakin kamu baik-baik saja? Jangan sampai membuat aku khawatir ya. Pokoknya aku tidak mau kalau sampai kamu kenapa-napa"


"Iya Sayang, iya"


********


Saat sudah bisa kembali ke rumah, mereka kedatangan beberapa orang yang ingin melihat kelahiran bayi mereka. Sampai barulah menjelang malam, Yara bisa membawa bayinya ke dalam kamar. Dia bahagia sekali karena kelahiran anaknya bisa membuatnya banyak orang bahagia.


Yara hanya tersenyum saja ketika Fadil memperlakukannya seperti orang yang sedang sakit. Tapi dengan begini, Yara bisa melihat kalau Fadil begitu menyayanginya dengan segala perhatian yang dia berikan padanya.


"Aku tidak papa Sayang, kamu tenang saja" ucap Yara.


"Tapi kamu harus tetap berhati-hati. Lihatlah cara jalanmu saja masih seperti itu" ucap Fadil, dia ngilu sendiri saat melihat cara berjalan istrinya itu.


"Tidak papa Sayang, kan memang seperti ini setelah aku melahirkan. Jadi tidak papa" ucap Yara sambil mengelus pipi suaminya itu.


Fadil mengelus kepala istrinya itu, merasa sangat tidak tega dengan perjuangan yang sudah dilakukan oleh istrinya. Membuat Fadil semakin mencintai Yara dan tidak akan pernah dia mengkhianati wanita yang sudah banyak berjuang untuk kebahagiaannya ini.

__ADS_1


"Sekarang kamu tidur, harus banyak istirahat"


Yara mengangguk saja, dia merebahkan tubuhnya dengan dibantu oleh Fadil. Untuk bergerak dan berjalan seperti ini, sungguh Yara masih sedikit kesulitan. Mungkin memang semua wanita yang sudah melahirkan akan merasakan hal seperti ini. Merasa seluruh tubuhnya sakit dan tulang-tulang seolah patah semua.


Fadil mengecup kening Yara. "Tidurlah, kamu harus banyak istirahat"


Yara mengangguk, dia memang sudah cukup mengantuk sekarang ini. Apalagi saat dia sudah berjuang dengan sekuat tenaga hari ini, membuatnya harus mengistirahatkan tubuhnya agar kembali fit.


Akhirnya Yara terlelap juga, menatap istrinya yang sedang tidur membuat Fadil merasa tenang. Entahlah, mengingat bagaimana perjuangan Yara untuk melahirkan seorang anak untuknya, membuat Fadil begitu terharu. Sebesar itu perjuangan seorang wanita hanya untuk memberikan gelar seorang Ayah pada suaminya.


"Yaraku, aku akan selalu menjaga kamu dan menyayangi kamu sampai kapan pun. Maaf kalau aku masih banyak kekurangan saat menjadi suamimu. Tapi kamu sudah menjadi istri yang begitu sempurna untukku dan tentunya kamu juga aksn menjadi Ibu yang baik untuk anak kita"


Ketika satu jam kemudian, bayinya tiba-tiba terbangun dan menangis. Fadil berusaha untuk tidak membangunkan Yara yang masih terlelap. Pastinya istrinya itu sedang sangat kelelahan.


Fadil memegang popok bayinya yang terasa basah. Hingga dia mencoba untuk mengganti popok bayinya itu. Dia sudah beberapa kali mengikuti kelas Ibu hamil dan akhirnya dia mempraktikan apa yang dia pelajari di kelas Ibu hamil itu.


Setelah selesai mengganti popok sang bayi, Fadil menggendongnya dan menimang bayinya untuk bisa kembali terlelap. Karena sepertinya bayi tu terbangun karena popoknya yang basah.


"Tidur ya Sayang, kasihan Bunda masih kelelahan"


Fadil melirik ke arah istrinya yang masih terlelap. Pasti Yara membutuhkan istirahat yang cukup setelah dia melahirkan. Tentu saja, karena dirinya sudah mengeluarkan begitu banyak tenaga untuk melahirkan anaknya ini ke dunia.


Setelah anaknya ini terlelap, Fadil kembali menidurkan anaknya di atas box bayi. Lalu dia segera naik ke atas tempat tidur dan ikut terlelap sambil memeluk Yara. Dirinya juga cukup lelah setelah melihat istrinya itu berjuang untuk melahirkan anaknya. Rasanya yang begitu berbeda ketika dia tahu kalau Putri Ajeng melahirkan. Mungkin memang rasa cintanya hanya untuk Yara, sehingga hanya wanita ini yang mampu membuatnya khawatir.


Entah pukul berapa sekarang, Yara terbangun saat dia merasa tidak nyaman dengan tidurnya karena pendarahan selepas melahirkan masih banyak, dan rasanya pembalut yang dia pakai sudah hampir penuh.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2