
Beberapa hari ini Yara benar-benar kerja lembur setiap hari. Membuat dia tidak punya cukup waktu untuk istirahat. Yara juga bingung kenapa sekarang Sarah menjadi berubah padanya. Sarah yang berubah menjadi judes dan selalu mempekerjakan Yara di luar kemampuan yang dia punya.
Pagi ini Yara merasa kepalanya yang amat terasa pusing dan sakit. Dia juga merasa tubuhnya akhir-akhir ini sangat lemah, mungkin karena dia yang kecapean setiap harinya. Yara terkejut saat merasakan ada sesuatu yang mengalir di hidungnya, dan ketika dia usap dengan tisu terlihat noda merah yang kental disana.
"Kenapa aku sampai mimisan? Mungkin karena terlalu kecapean akhir-akhir ini"
Hari ini adalah hari libur, Yara bisa beristirahat lebih lama di kamar kosnya. Namun baru saja dia akan memejamkan matanya, tiba-tiba suara ketukan pintu kamar kosnya membuat Yara tidak bisa melanjutkan waktu istirahatnya. Yara bangun dan berjalan dengan gontai menuju pintu, membuka pintu dengan perlahan.
Yara menghela nafas pelan ketika dia melihat Fadil yang berdiri di depannya saat ini. "Mau apalagi datang kesini? Aku sudah bilang untuk tidak mengganggu aku lagi Fadil"
"Yara, aku kesini hanya ingin mengecek keadaan kamu saja. Sudah beberapa kali aku datang kesini dan kamu selalu tidak ada, katanya selalu bekerja lembur sampai tidak sempat untuk pulang dulu ke kosan kamu ini"
Yara menghela nafas pelan, jelas dia sudah tidak perlu lagi mendapatkan perhatian dari Fadil. Karena mau bagaimana pun, sekarang mereka berdua sudah bukan siapa-siapa lagi. Sudah tidak ada hubungan apapun diantara mereka.
"Cukup berpura-pura peduli padaku, Fadil. KIta sudah bukan sepasang kekasih lagi, jadi kamu jangan membuat aku terus berharap lebih padamu. Aku sedang berusaha untuk melupakanmu dan menghilangkan perasaan cinta ini padamu"
Fadil meraih tangan Yara dan menggenggamnya erat, meski Yara mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Fadil. "Yara, aku tahu aku memang salah di masa lalu. Tapi sekarang aku benar-benar menyesal dan aku juga sadar jika sekarang aku merasa hampa tanpa kehadiran kamu. Banyak hal dari kamu yang membuat aku rindu"
Yara terkekeh lucu mendengar itu, namun matanya berkaca-kaca. Yara memukul dada Fadil dengan kesal dan dia sedang ingin meluapkan semuanya pada Fadil. Kekecewaannya dan luka di hatinya.
"Seharusnya sebelum kamu melakukan itu, kamu berfikir terlebih dahulu Fadil. Kamu jahat, kamu sudah membuat aku hancur dan hampir tidak percaya lagi akan cinta"
Fadil meraih tubuh Yara dan memeluknya dengan erat. Dia membiarkan Yara yang terus memukul-mukul bagian dadanya dengan tangisan yang pecah.Fadil tahu jika Yara memang sangat terluka dan kecewa dengan apa yang dia lakukan padanya. Namun, benar jika sebuah rasa bosan hanya sesaat dan ketika kita menuruti rasa bosan itu pada pasangan kita, maka akan ada sebuah penyesalan yang besar yang akan kita rasakan saat itu.
"Kamu jahat Fadil, kamu jahat"
__ADS_1
"Iya, aku memang jahat. Aku minta maaf Yara. Izinkan aku untuk menebus semuanya sama kamu"
Arghh...
Yara tidak menjawab, namun dia malah berteriak kesakitan ketika perut bagian kanannya terasa begitu sakit. Hal itu tentu membuat Fadil panik.Dia melerai pelukannya dan melihat Yara yang meringis sambil memegangi bagiian perutnya.
"Yara, kamu kenapa? Apa yang sakit?"
"Perut aku sakit, ahh"
Fadil langsung menggendong Yara dan membawanya masuk ke dalam kamar kosnya. Mendudukan Yara di atas tempat tidur dan Fadil berlutut di atas lantai dan menatap Yara dengan penuh rasa khawatir.
"Kamu kenapa? Mana yang sakit? Kita ke Dokter ya"
Yara menggeleng pelan, dia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba perutnya merasa sangat sakit. "Tidak usah, mungkin hanya karena aku belum makan saja"
"Tidak usah, aku bisa pesan makan sendiri. Lebih sekarang kamu pulang saja"
"Yara bisa tidak untuk saat seperti ini kamu mengesampingkan dulu masalah diantara kita. Anggap saja aku adalah teman kamu"
Akhirnya Yara tidak banyak bicara saat Fadil sudah mengambil keputusan. Sampai saat ini, bahkan Yara tidak bisa membantah ucapan Fadil yang tegas itu.
Setelah makanan pesanan Fadil datang, dia langsung menyiapkannya dna menyuapi Yara makan.
"Aku bisa makan sendiri, kamu bisa pulang sekarang"
__ADS_1
"Diam! Kau sedang sakit dan orang sakit itu diam saja"
Yara menghela nafas pelan, meski dalam hatinya tidak bisa berbohong jika dia juga begitu merindukan perhatian Fadil yang seperti ini. Rasanya waktu beberapa bulan memang sudah cukup lama untuk Yara tidak bisa bersama Fadil dan mendapatkan perhatian dari pria itu lagi.
"Aku hanya sakit perut, bukan lumpuh Fadil. Aku bisa makan sendiri. Kamu harus pulang kalau tidak mau istri kamu tahu jika kamu datang kesini dan menemuiku. Semuanya akan menjadi masalah besar"
Fadil tahu itu, namun baru menikah hampir 3 bulan saja bersama dengan Ajeng membuat dia merasa perbedaan yang sangat jauh diantara Putri Ajeng dan Yara. Bahkan perhatiannya pun sangat berbeda. Hal itu yang membuat Fadil mulai merasa menyesal karena telah mengkhianati Yara dan membuat gadis itu terluka. Fadil baru sadar jika memang hanya Yara yang rela menemaninya dari titik terendah sampai sekarang. Bodohnya karena Fadil yang tidak bersyukur mempunyai wanita seperti Yara.
"Yara, aku benar-benar minta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu. Aku benar-benar menyesal Yara"
Yara tertegun mendengar suara Fadil yang parau, belum lagi ketika wajah pria itu yang menunduk dengan sedikit mengusap ujung matanya.
Dia menangis?
Ini adalah hal yang aneh bagi Yara, karena selama hidup dua tahun lamanya dengan Fadil. Yara tidak pernah melihat sosok Fadil yang serapuh ini. Dalam keadaan sesulit apapun, Fadil tidak pernah sampai menangis seperti saat ini.
"Fadil, aku sudah memaafkan kamu. Tapi aku juga mohon sama kamu untuk tidak terus menerus mengganggu hidup aku. Kamu sudah mempunyai istri dan tidak baik jika terus menemui aku seperti ini. Aku tidak mau terkena masalah lagi, biarkan aku hidup tenang sekarang"
Fadil mendongak dan menatap Yara dengan matanya yang berkaca-kaca. Ternyata memang hanya Yara yang bisa membuat dirinya lemah seperti ini, belum lagi penyesalan yang dia rasakan saat ini semakin menyiksa perasaan Fadil.
"Aku akan mencari cara agar kita bisa bersama lagi seperti dulu, Yara"
Yara menggeleng pelan, dia merasa jika semua itu tidak mungkin terjadi. Fadil sudah hidup dengan pilihannya sendiri, jadi tidak mungkin dia bisa kembali pada Yara setelah apa yang dia lakukan saat ini.
"Tidak mungkin Fadil, semua ini sudah menjadi pilihan kamu. Jadi kamu tidak perlu melakukan apapun lagi hanya untuk bisa kembali bersama denganku. Karena semua itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Sekarang pergilah dan hidup bahagia bersama istrimu. Aku juga akan bahagia jika kamu bahagia dengan pilihan hidupmu itu"
__ADS_1
Yara hanya bisa mengembalikan Fadil pada wanita yang sudah lebih berhak atas dirinya itu. Dia adalah istrinya, wanita yang Fadil pilih untuk menjadi pendamping hidupnya.
Bersambung