
Sebuah dering ponsel yang mengganggu tidur Yara malam ini. Sebenarnya itu adalah ponsel milik suaminya, namun karena Fadil masih di ruang kerja dan dia lupa tidak membawa ponselnya, membuat Yara terpaksa bangun untuk melihat siapa yang sejak tadi terus menghubungi suaminya itu. Namun ketika dia baru saja memegang ponsel itu, tapi sambungan telepon sudah terlanjur mati.
Hingga suara notifikasi pesan membuat Yara langsung membukanya. Ternyata itu dari Putri Ajeng yang meminta bantuan Fadil untuk mengantarnya ke Dokter karena Sherin yang tiba-tiba demam.
"Aku harus beritahu Fadil tentang ini, kasihan juga kalau Sherin sampai telat di bawa ke Dokter"
Yara bukanlah wanita egois yang harus membawa masa lalu denganĀ keadaan sekarang. Sherin tidak salah apapun dalam keadaan ini. Jadi tidak seharusnya Yara egois tentang hal di masa lalu yang juga sudah berlalu.
Yara masuk ke dalam ruang kerja sambil membawa ponsel suaminya. Hingga dering ponsel kembali terdengar, Yara segera mengangkatnya sebelum dia sampai di depan suaminya yang sedang berada di meja kerja.
"Ya hallo, Ajeng"
Sejenak hanya ada keheningan setelah Yara berkata seperti itu. Mungkin Putri Ajeng sedikit terkejut saat tahu Yara yang mengangkatnya.
"Em Yara, maaf ya mengganggu"
"Tidak papa, sebentar ya biar aku berikan ponselnya pada Fadil"
Fadil yang sejak tadi menatap istrinya dan menatapnya. Sampai Yara menyerahkan ponsel padanya, Fadil pun segera mengambil ponsel itu dan mendengarkan ucapan Ajeng dalam telepon. Terlihat sekali wajah Fadil yang tiba-tiba cemas, wajar saja karena selama ini dia tetap menganggap Sherin seperti anaknya sendiri, meski dia tahu jika anak itu bukanlah anaknya.
"Aku akan segera kesana, kau bersiaplah" ucap Fadil sebelum memutuskan sambungan telepon.
"Kamu akan pergi, kalau begitu segera ganti baju" ucap Yara.
Fadil mengangguk, dia terlihat begitu panik. Yara memaklumi itu, karena dia juga sudah menyayangi Sherin. Mengingat anak kecil itu tidak salah apapun. Jadi Yara tidak pernah menyalahkan dia dalam hal yang pernah terjadi dalam hidupnya.
__ADS_1
Fadil selesai ganti baju dan pakai jaket, dia mengambil kunci mobil di atas meja. Menatap Yara yang berdiri menunggunya di dekat tempat tidur. Fadil menghampirinya dan mengecup keningnya sebelum dia pergi.
"Hati-hati" ucap Yara, namun tidak mendapat jawaban karena Fadilyang sudah terlanjur pergi keluar dari kamar.
Yara hanya menghela nafas pelan, dia kembali duduk di pinggir tempat tidur. "Sebaiknya aku tidur saja, nanti juga Fadil akan pulang kembali setelah mengantar Sherin ke Rumah sakit"
Yara merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, mencoba untuk kembali memejamkan matanya. Namun sepertinya karena tadi dia sudah tertidur cukup lelap, hingga sekarang sulit untuk tertidur kembali. Akhirnya Yara hanya duduk diam sambil menyalakan televisi berukuran sedang di kamarnya dan menonton drama kesukaannya.
Denting jarum jam terus berbunyi dan berputar, sampai sudah tengah malam dan Fadil masih belum juga kembali. Yara mencoba mengirim pesan dan bertanya apa dia akan pulang atau tidak malam ini? Namun pesannya juga sama sekali tidak mendapatkan balasan.
"Ah, mungkin Sherin tidak ingin Fadil pergi"
Yara hanya tidak ingin berburuk sangka, karena memang dia tahu bagaimana Sherin saat bertemu dengan Fadil. Anak berusaha 2 tahun lebih yang selama ini tidak mempunyai sosok seorang Ayah itu, maka selalu senang ketika Fadil menemuinya. Menganggap Fadil adalah sosok Ayah yang sangat dia inginkan selama ini. Jadi, Yara tidak berpikir buruk untuk malam ini ketika suaminya tidak pulang.
Namun seolah nalurinya sebagai perempuan tiba-tiba muncul, dia mengelus perutnya yang masih rata. "Mungkin juga Fadil sangat senang bisa bersama dengan Sherin karena memang dia juga pastinya merindukan kehadiran seorang anak. Tapi aku masih belum bisa memberikannya"
*******
Ketika pagi ini dia terbangun dan memang tidak menemukan Fadil disampingnya. Jelas jika suaminya itu menginap di Rumah sakit untuk menemani Sherin. Yara segera mandi dan melakukan aktivitas paginya. Karena suaminya yang belum juga datang, jadi Yara memilih untuk berjemur di taman samping rumah sambil merawat beberapa tanaman bunga dan strawberry yang dia tanam sebelumnya.
Saat dia sedang asyik menyiram tanamannya di pagi hari ini. Terdengar mobil suaminya yang baru saja memasuki halaman rumah. Segera Yara menghentikan aktivitasnya dan menghampiri Fadil.
"Sayang, kamu pulang juga" ucap Yara, menyambut Fadil dengan senyuman.
Fadil langsung mencium kening dan kedua pipi Yara dengan lembut. "Maaf ya semalam tidak pulang, Sherin terkena demam berdarah. Jadi harus di rawat, dan dia tidak mau aku tinggal. Semalaman terus menangis, Ajeng juga terlihat kewalahan. Jadi aku tidak tega untuk meninggalkannya"
__ADS_1
Yara mengangguk mengerti, karena dia juga sudah menduga jika alasan suaminya tidak pulang adalah Sherin. "Yaudah, kalau gitu sekarang kamu mandi dulu. Biar aku siapkan sarapan untuk kamu. Apa sekarang akan pergi ke Kantor?"
"Iya, ada rapat penting pagi ini"
Yara menyiapkan sarapan untuk Fadil dengan dibantu oleh Mbak pelayan di rumah ini. Setelah semuanya siap, Yara segera ke kamar untuk memanggil suaminya.
"Sayang, sarapannya sudah siap. Ayo kita ke bawah dulu" ucap Yara.
"Em Sayang, aku sepertinya tidak jadi sarapan di rumah. Sherin kembali tantrum, barusan Ajeng telepon. Jadi aku beli sarapan di jalan saja sambil membawakan untuk Ajeng juga. Kasihan dia"
Yara terdiam mendengar ucapan suaminya, tentu ada rasa tidak nyaman dalam hatinya. Namun Yara mencoba mengerti kenapa Fadil seperti ini.
"Yaudah kalau gitu biar aku bungkus saja sarapannya. Sekalian untuk Putri Ajeng juga" ucap Yara.
Fadil hanya mengangguk saja, dia juga sebenarnya tidak enak pada istrinya ini. Tapi Fadil benr-benar khawatir dengan keadaan Sherin. Apalagi Ayah Putri Ajeng juga sedang berada di luar kota, menemani Sarah yang baru saja melahirkan dan sedang mempersiapkan untuk acara penyambutan bayi mereka. Jadi Putri Ajeng benar-benar sendiri, dan dia tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi.
"Maaf ya Sayang"
Yara hanya tersenyum, dia tidak mempermasalahkan tentang ini. Karena memang Sherin sedang sakit. "Nanti kalau ada waktu, aku akan menjenguknya ke Rumah sakit. Kasihan sekali Sherin"
Fadil memeluk Yara dari belakang saat istrinya itu sedang memasukan makanan ke dalam kotak bekal untuk dibawa oleh Fadil pagi ini. Fadil mengecup bahu Yara beberapa kali.
"Semoga saja keadaan Sherin segera membaik, supaya dia segera pulang. Kamu tahu sendiri kalau Putri Ajeng tidak terlalu pandai mengahadapi anak yang sedang tantrum"
Yara hanya mengangguk mengerti, karena dia juga tahu bagaimana dulu Sherin besar dengan Sarah sampai dia berusia satu tahun lebih, barulah Putri Ajeng memutuskan untuk merawatnya sendiri. Jadi dia belum terlalu faham dalam mengurus anak.
__ADS_1
Bersambung