
Pagi ini Yara mendapatkan sebuah paket yang di kirim dari kota Keanu dan Sarah. Mungkin ini adalah sebuah hadiah yang diucapkan Sarah waktu itu, untuk hadiah anniversarry pernikahannya.
Yara membawa kotak itu ke dalam rumah, duduk di atas sofa dan membuka kotak itu dengan tidak sabar. Sampai Yara berhasil membuka bungkusan yang cukup tebal dan berlapis itu, dia bisa melihat sebuah botol berukuran sedang seperti botol obat.
"Apa ini?" Yara kembali melihat nama pengirim dan alamat rumah di pembungkus paket ini. Takut kalau salah mengirim paket kurirnya. Tapi ternyata memang tidak salah sedikit pun tentang alamat dan nama pengirimnya.
Yara mengerutkan keningnya sambil membolak-balikan botol di tangannya itu. Masih merasa bingung kenapa Sarah mengirimnya ini. Sampai dia menemukan sebuah kertas kecil berwarna pink yang di lipat jadi dua. Yara mengambilnya dan langsung membuka kertas itu, membaca tulisan di dalam kertas itu.
Ini obat herbal penyubur kandungan, tapi kamu jangan tersinggung ya karena aku memberikan ini untuk kamu. Aku yakin kok kalau kesuburan kamu baik dan kamu akan segera mempunyai anak. Tapi saat pertama menikah, aku juga meminum ini. Cukup bagus untuk hormon kita dan daya tahan tubuh juga. Semoga kamu mau menerimanya ya hadiah dari aku ini.
Yara tersenyum membaca tulisan Sarah itu, lalu dia menatap botol ditangannya. Sama sekali tidak merasa tersinggung seperti ucapan Sarah dalam tulisannya itu. Karena dia juga merasa kalau dia membutuhkan obat ini untuk memperluas harapan dirinya yang bisa mempunyai anak.
"Apa itu, Sayang?"
Yara sedikit terlonjak kaget saat melihat suaminya yang sudah berdiri disamping sofa. "Dari Mbak Sarah, katanya hadiah untuk anniversarry kita kemarin"
Fadil mengangguk, dia langsung duduk disamping istrinya. Mengambil botol di tangan istrinya dan melihatnya dengan kening berkerut, sepertinya Fadil juga sama tidak tahu apa botol obat itu.
"Apa ini, kenapa Sarah memberikan hadiah pernikahan seperti ini?"
Yara tersenyum, dia mengambil kembali botol itu dari tangan suaminya. "Katanya ini obat herbal penyubur kandungan"
Fadil langsung terdiam mendengar itu, dia menatap istrinya dengan lekat. Lalu dia merebut kembali botol itu dari tangan suaminya. Melemparnya ke atas lantai.
__ADS_1
"Buat apa dia mengirimkan kamu obat ini? Apa maksudnya? Apa dia menganggap kamu tidak subur lagi dan tidak akan bisa mengandung. Kamu tidak perlu minum obat itu, karena kamu bukan wanita yang tidak subur. Hanya butuh waktu saja untuk bisa sampai hamil"
Yara terkejut dengan sikap suaminya ini, kenapa malah Fadil yang tersinggung. Padahal dirinya saja tidak merasa tersinggung sedikit pun.
"Sayang, kamu kenapa si? Kenapa harus marah-marah" Yara mengambil kembali botol itu dari atas lantai. Untung saja tidak sampai pecah. "...Maksud Mbak Sarah 'kan baik. Lagian aku juga tidak papa kok, aku akan mencoba meminum obat ini. Siapa tahu aku akan segera hamil. Kita itu harus banyak berusaha untuk bisa mendapatkan seorang anak. Jadi aku akan mulai berusaha dengan meminum obat ini"
Fadil memejamkan matanya, sungguh dia tidak akan pernah bisa melihat istrinya yang direndahkan seperti itu. Meski sebenarnya Yara juga tidak merasa tersinggung atau apapun itu, namun Fadil hanya takut kalau sampai istrinya merasa sedih karena hal ini.
"Sayang, kamu itu pasti hamil dan kamu juga tidak mungkin tidak subur. Aku yakin kamu akan hamil, jadi kamu tidak perlu obat itu" ucap Fadil.
Yara menghembuskan nafas pelan, dia menghampiri suaminya. Langsung duduk begitu saja di atas pangkuan Fadil. Yara mengelus pipi suaminya dan mengecupnya dengan lembut.
"Sayang, tidak ada yang merendahkan aku. Lagian aku juga harus banyak berusaha untuk mendapatkan keturunan bersama dengan kamu. Dan mungkin ini adalah jalan untuk kita agar aku bisa segera hamil dan memberikan keturunan untuk kamu"
Yara sedikit mengerutkan keningnya, ingin sekali dia tertawa. Karena baru kali ini ada seorang laki-laki yang mau meminum obat penyubur, padahal jelas dirinya baik-baik saja.
"Kamu ini aneh-aneh saja deh, lagian kamu 'kan baik-baik saja. Kenapa harus meminum obat penyubur segala" ucap Yara dengan terkekeh pelan.
Fadil menggeleng pelan dengan menatap istrinya dengan lembut. "Karena setiap pasangan belum mempunyai anak, kenapa harus selalu wanita yang dipojokan dan dianggap tidak subur. Padahal bisa saja gangguan kesehatannya itu ada di suaminya. Jadi ketika kita berjuang, maka tidak hanya kamu. Aku juga"
Mata Yara langsung berkaca-kaca mendengar itu. Entah apa yang membuat suaminya bisa berubah menjadi sosok pria yang setulus ini. Bahkan Yara hampir tidak menyangka akan mendengar kata yang begitu mengharukan dari suaminya ini.
"Tidak perlu Sayang, kan jelas kalau kamu sehat. Jadi kamu tidak perlu meminum obat penyubur apapun" ucap Yara.
__ADS_1
"Memangnya kamu tidak sehat? Buktinya istriku ini sangat sehat" ucap Fadil, membantah ucapan Yara itu.
Yara hanya tersenyum saja, dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Terima kasih ya karena sudah mau menerima aku apa adanya"
Fadil mengecup puncak kepala istrinya ini, mungkin yang harus mengatakan itu adalah Fadil sendiri. Karena dirinya yang bisa kembali diterima oleh Yara setelah apa yang pernah dia lakukan, sudah sangat bersyukur.
"Kamu yang terbaik untuk aku. Jadi jangan lagi mendengarkan tentang ucapan orang lain yang bilang kalau kamu tidak pantas untuk aku. Karena kamu yang paling pantas untuk aku. Tidak ada yang lain. Faham!"
Yara mengangguk, dia akan berusaha untuk bisa terlihat pantas bersanding dengan Fadil di depan orang-orang. Karena dia hanya ingin terlihat orang-orang jika dia adalah wanita yang pantas untuk suaminya ini.
"Sudahlah, sekarang kita makan siang dulu. Aku siapkan dulu ya, kamu mau makan apa hari ini?" tanya Yara
"Apa saja, kamu minta Mbak saja untuk dibuatkan makanan untuk makan siang" ucap Fadil.
Yara menggeleng pelan, memang suaminya ini selalu takut kalau dia kecapean. Padahal nyatanya hanya untuk memasak dia bisa melakukannya dan tidak akan membuatnya kelelahan juga.
"Aku sudah lama tidak masak, jadi hari ini karena kamu sedang libur bekerja, aku akan membuat masakan enak untuk kamu. Spesial untuk suamiku tercinta" ucap Yara yang langsung berlalu ke arah dapur.
Fadil hanya tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Bahkan dirinya tidak akan pernah memikirkan apapun lagi saat melihat istrinya tersenyum penuh bahagia seperti itu. Karena dunianya hanya Yara.
"Ya Tuhan, semoga kami bisa segera mempunyai seorang anak. Agar dia tidak terus menganggap dirinya tidak sempurna. Meski aku akan tetap mencintainya, mau dia mempunyai anak atau tidak"
Ternyata tidak akan pernah lagi Fadil menemukan rasa cinta yang sebesar ini. Karena selamanya dia hanya akan mencintai istrinya ini yang begitu tulus mencintainya dan mau menerima dia kembali setelah banyaknya kesalahan yang dia perbuat sampai membuat hatinya terluka dan kecewa.
__ADS_1
Bersambung