
Fadil tersenyum saja mendengarnua, dia bangun dan memeluk istrinya itu dengan erat. Menyandarkan kepalanya di bahu Yara. "Rasanya aku malas bekerja, ingin bersama denganmu saja seperti ini"
Yara mengelus kepala suaminya dengan lembut, sedikit mengacak rambutnya. "Cepat mandi Sayang, kamu harus semakin giat bekerja. Nanti kalau kamu sudah mempunyai anak, biaya hidup kita pastinya akan semakin besar"
Fadil tersenyum, tentu saja sekarang dia sedang berusaha untuk semakin membuat Perusahannya maju. Meski belum terlalu besar dan terkenal, tapi Fadil akan selalu berusaha. Apalagi dia mempunyai cita-cita untuk membuat Perusahaan yang awalnya hanya sebuah Perusahaan kecil dengan beberapa kolega bisnis saja, bisa menjadi sebuah Perusahaan yang cukup dikenal di tanah air, bahkan di dunia ini.
"Aku akan selalu berusaha Sayang. Kamu selalu do'akan aku ya. Karena sekarang aku akan menandatangani sebuah proyek cukup besar, semoga saja sukses dan bisa semakin membuat Perusahaan kita itu terkenal" ucap Fadil.
Yara mengangguk sambil tersenyum, dia menggenggam tangan Fadil. "Aku akakn selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu. Karena aku yakin kalau kamu akan menjadi seorang pengusaha yang mendunia"
Fadil mengangguk dan mengaminkan ucapan Yara barusan. "Terima kasih Sayang"
Fadil segera berlalu ke kamar mandi, sementara Yara langsung membantu menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya. Untuk kali ini, Yara meminta bantuan Mbak untuk selalu memasak. Karena dia yang tidak biasa mencium bau bawang. Entah kenapa, tapi memang sejak dia hamil maka dia selalu merasa mual saat mencium bawang yang baru saja di goreng di atas wajan.
Jadi, setiap pagi dia hanya diam saja setelah membantu suaminya besiap. Berhenti dulu untuk kegiatannya untuk memasak.
"Sayang, aku bantu pakaikan kemejanya" ucap Yara, dia membantu Fadil untuk memakai pakaiannya. Fadil hanya tersenyum saja dengan semua yang dilakukan oleh istrinya ini.
"Kayaknya untuk sekarang ini, aku memang tidak bisa membuatkanmu sarapan atau memasak makanan lainnya. Aku mual kalau mencium bawang goreng" ucap Yara yang sedang mengancingkan kemeja suaminya itu.
"Lagian kamu itu jangan terlalu banyak pekerjaan saat kamu sedang hamil. Kan harus sekali menjaga kesehatan" ucap Fadil.
__ADS_1
Yara hanya tersenyum saja mendengar itu, tentu saja dia akan selalu memperhatikan kesehatannya ini. Karena memang dia juga tidak ingin sampai kandungannya ini kenapa-napa. Apalagi saat untuk bisa hamil seperti ini, sangat susah dan harus melewati perjuangan yang panjang. Jadi, Yara akan sangat menjaga kandungannya ini.
"Kamu baik-baik ya di rumah, jangan lupa untuk minum susunya. Aku akan pulang sedikit malam hari ini karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan" ucap Fadil.
Yara mengangguk dan tersenyum mendengar itu. "Tentu saja, kamu juga jangan lupa makan dan selalu jaga kesehatan"
*********
Malam yang sebenarnya tidak pernah terasa aneh untuk Yara. Bukan hanya malam ini saja dia harus tidur sendirian, karena Fadil yang pulang terlambat. Sudah sering seperti ini sebelumnya. Namun, entah kenapa malam ini Yara merasa jika dia tidak bisa tidur dengan sendiri seperti ini. Terus saja mengingat Fadil yang sebenarnya jelas tidak kemana-mana. Suaminya itu hanya sedang ada pekerjaan yang harus di selesaikan malam ini juga.
Yara terus berguling kesana kemari, entah dia harus bagaimana. Tapi ketika dia memejamkan matanya, dia tetap tidak bisa tidur. Malah terus teringat pada suaminya. Akhirnya Yara memilih bangun dan duduk bersandar di atas tempat tidur. Dia mengelus perutnya yang masih terlihat rata.
"Ah, apa ini efek dari kehamilan ya? Tidak biasanya aku seperti ini. Ayolah Nak, jangan membuat Ibu jadi wanita yang begitu manja pada Ayahmu. Sudah jelas kalau Ayah kamu itu sedang sibuk dengan pekerjaan"
Akhirnya Yara malah menyalakan televisi dan menonton saja, meski acara di televisi itu tidak terlalu menarik untuknya. Namun hanya menemaninya disaat dia kesepian untuk menunggu suaminya. Dia tidak bisa tidur untuk saat ini.
Sampai hampir larut malam, Fadil baru kembali. Dia sangat terkejut saat masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya yang masih terjaga selarut ini. Dengan cahaya televisi yang menyala di tengah lampu kamar yang sudah mati. Fadil segera menghampirinya.
"Sayang, kenapa jam segini belum tidur? Kan aku sudah bilang akan pulang sedikit terlambat malam ini, kenapa kamu tidak tidur duluan saja" ucap Fadil.
Yara tersenyum, dia langsung memeluk suaminya. Menghirup aroma tubuh Fadil yang sebenarnya belum mandi sejak dari pagi tadi. Namun Yara malah seperti menyukai wangi aroma tubuhnya itu.
__ADS_1
"Sayang, aku belum mandi. Lepas dulu, aku mau mandi dulu" ucap Fadil yang merasa tidak nyaman dengan pelukan istrinya itu.
"Gak perlu mandi Sayang, kamu masih wangi kok" ucap Yara yang malah semakin mengeratkan pelukannya.
Mendengar itu langsung membuat Fadil merasa heran dengan istrinya ini. Padahal jelas dia saja sudah merasa sangat gerah dengan tubuhnya ini. Sudah sangat ingin mandi dan berganti pakaian, tapi istrinya ini malah bilang kalau dia mending tidak usah mandi. Membuat Fadil heran saja.
"Sayang, kamu aneh banget deh. Masa iya aku tidak mandi. Sudah tahu kalau aku sekarang sedang sangat gerah. Aku ingin segera mandi, lagian tidak biasanya kamu seperti ini" ucap Fadil.
Yara melerai pelukannya, dia menatap Fadil dengan lekat. Dia sendiri merasa bingung kenapa dia seperti ini. Namun memang dia merasa senang saja mencium aroma tubuh Fadil yang belum mandi.
"Aku juga bingung kenapa, tapi yang jelas aku suka saja dengan aroma tubuh kamu ini" ucap Yara apa adanya.
Fadil menggeleng tidak percaya, dia mengacak rambut Yara dengan gemas. "Dasar kau ini, sudahlah aku mau mandi dulu sekarang. Aku sudah sangat gerah ini"
Akhirnya Yara membiarkan suaminya pergi ke ruang ganti, setelah dia merasa puas mencium aroma tubuh Fadil. "Ah, kenapa aku seperti ini ya? Tapi memang aroma tubuhnya sangat wangi"
Yara mengangkat bahu acuh, dia kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mematikan televisi yang sejak tadi menyala, dan kali ini perlahan dia mulai terlelap.
Sampai ketika Fadil selesai mandi, dia langsung menghampiri istrinya yang ternyata sudah terlelap itu. Fadil naik ke atas tempat tidur, dia duduk disamping istrinya yang terlelap. Menatap wajah istrinya yang terlihat begitu tenang.
"Mungkin memang efek dari hormon kehamilan membuatmu jadi sedikit manja padaku. Tapi tak apa, aku senang melihatmu seperti ini"
__ADS_1
Fadil mengelus perut Yara, lalu dia mengecupnya dengan lembut. Rasa bahagia yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Masih tidak menyangka kalau akhirnya kesabaran istrinya selama ini berbuah hasil yang baik juga. Senang sekali rasanya, ketika Fadil membayangkan kala beberapa bulan lagi dia akan resmi menjadi seorang Ayah.
Bersambung