Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
Ternyata Hanya Mimpi


__ADS_3

Keringat dingin bercucuran di dahinya dan seluruh tubuhnya. Fadil baru saja terbangun dari mimpi buruknya. Seolah dalam kenyataan Fadil merasa sangat tegang, jantungnya berdebar kencang.


Fadil turun dari atas tempat tidur, dia berlari ke luar kamar dengan tergesa-gesa. Dia berteriak memanggil Yara, dia benar-benar takut kehilangan Yara. Mimpinya itu telah menbuat Fadil sangat panik saat ini.


"Sayangku, Yara.. Kamu dimana?"


Yara yang sedang berada di dapur, tentu terkejut mendengar suara Fadil yang berteriak begitu kencang.


"Fadil, aku disini"


Fadil langsung berlari ke arah dapur, dia langsung memeluk Yara dengan erat. Sangat takut kehilangan Yara, mimpinya benar-benar seolah kenyataan. Yara tentu saja terkejut dengan apa yang Fadil lakukan.


"Fadil, kamu kenapa?"


Fadil melerai pelukannya, dia menatap Yara dengan matanya yang berkaca-kaca. "Sayangku, kamu gak boleh jauh-jauh dari aku"


Fadil kembali memeluk Yara dengan erat, seolah dia sangat takut kehilangan Yara. Fadil tidak bisa kehilangan Yara, cukup sekali dia melakukan kesalahan sampai meninggalkan Yara. Saat ini dia tidak ingin kehilangan Yara lagi.


"Fadil, kamu kenapa? Aku tidak akan 'kan sekarang ada disini"


Fadil melerai pelukannya, memegang lengan Yara dengan terus menatap lekat Yara. "Jangan pernah tinggalkan aku, kamu harus tetap sehat. Aku tidak bisa kehilangan kamu, Sayang"


Yara menatap Fadil dengan tersenyum menenangkan. Dia mengelus pipi Fadil dengan lembut. "Aku tidak bisa mengubah takdir Tuhan, apalagi tentang umur yang telah di tentukan oleh Tuhan"


Fadil menatap Yara dengan matanya yang basah. Dia sudah tidak bisa menahan kesedihannya, ketika dia ingat mimpinya itu. "Kita ke rumah sakit ya sekarang, kamu melakukan pengobatan lagi dengan rutin. Kata Dokter, kamu akan bisa sembuh jika melakukan pengobatan yang rutin"


Yara tersenyum, dia berbalik dan kembali menatap sarapan di atas meja. "Dokter memang sering berkata seperti itu padaku. Bahkan saat operasi, juga mengatakan hal yang sama. Tapi sampai saat ini aku tetap harus melakukan pengobatan"


"Sayang, kita coba lagi ya. Aku yakin kamu akan sembuh, kita pengobatan lagi ya. Aku akan menemani kamu sampai sembuh" Fadil mengelus kepala Yara dengan lembut, dia sangat berharap jika Yara mau melakukan kembali pengobatan.


"Sarapan dulu saja, nanti kita bicarakan lagi"

__ADS_1


Yara sengaja mengalihkan pembicaraan karena memang dirinya tidak mau membahas tentang pengobatan yang menurutnya hanya sia-sia.


"Sayang plis, kamu harus melanjutkan pengobatan kamu"


Yara menatap Fadil yang baru saja duduk di kursi meja makan. Bibir pucatnya tersenyum pada Fadil. "Kalau misalkan aku melakukan pengobatan dan penyakit aku ini tidak sembuh-sembuh, bagaimana?"


Deg..


Fadil jelas melihat keputus asaan dalam diri Yara ketika dia mendengar kata itu. Jelas saja, karena Yara sudah banyak menjalani pengobatan. Bahkan dia sampai pindah lagi ke kota ini hanya untuk melakukan pengobatan itu, tapi hasilnya tetap tidak membuahkan hasil apa-apa.


"Sayang, dengar aku..." Fadil memegang tangan Yara yang berada di atas meja. "...Semuanya memang tidak akan bisa melawan maut. Tapi, penyakit kamu ini masih bisa kita obati dan kita harus tetap berusaha. Jangan menyerah begitu saja"


Yara menghela nafas pelan, dia jelas melihat bagaimana Fadil yang sangat berharap jika Yara setuju dengan permintaannya untuk melakukan pengobatan kembali.


"Baiklah, jika memang itu kenginanmu. Aku akan turuti"


Fadil tersenyum dengan begitu lega, akhirnya Yara mau melakukan pengobatan itu lagi. Fadil mengecup punggung tangan Yara yang berada di genggamannya itu.


Yara mengangguk mendengarnya, meski dia tidak benar-benar yakin. Dia sudah terlalu banyak berharap selama ini, namun semuanya tidak seperti apa yang dia harapkan. Tentang cinta yang dia jalani, Fadil yang selalu dia harapkan bisa bersamanya.


Namun tidak ada yang terwujud dalam semua harapan itu. Cintanya yang kandas, dirinya yang sakit dan Fadil yang malah menikah dengan wanita lain. Semua itu membuat Yara takut untuk mencoba harapan yang baru lagi.


######


Yara terdiam di bawah sinar matahari sore di taman rumah ini. Tersenyum ketika melihat air kolam berenang yang terlihat tenang. Angin menerpa wajahnya dengan perlahan. Yara hanya sedang menikmati semuanya. karena dia tidak tahu sampai kapan dia akan bertahan dan bisa menikmati suasana seperti ini.


"Sayang, masuk yuk anginnya semakin kencang"


Yara menoleh dan tersenyum pada Fadil yang sedang berjalan ke arahnya. Pria itu baru saja pulang bekerja. Fadil langsung memeluk Yara dan mencium keningnya dengan lembut.


"Kamu sudah pulang ternyata, bagaimana pekerjaannya?"

__ADS_1


"Lancar saja, besok kita ke Dokter ya. Aku sudah bikin janji dengan Dokter untuk jadwal pengobatan kamu"


"Fadil..."Yara berbalik dan menatap Fadil dengan lekat, tangannya meraih tangan Fadil dan menggenggamnya. "...Aku minum obat saja di rumah, tidak perlu lagi untuk ke rumah sakit. Aku sudah bosan terus berada di rumah sakit"


Fadil mengelus kepala Yara yang menggunakan penutup kepala itu. "Sayangku, kamu harus benar-benar sembuh. Dan aku ingin kamu menjalani pengobatan yang seharusnya. Tenang saja, aku akan selalu menemani kamu. Kamu jangan takut sendiri di saat melakukan pengobatan itu"


Yara tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya diam dan kembali mengalihkan tatapannya ke arah kolam berenang. Rasanya dia ingin sekali mencoba untuk berenang di kolam itu, tapi dengan keadaannya yang seperti ini tentu saja tidak mungkin.


"Ayo masuk, nanti kamu masuk angin lagi"


Yara mengangguk, dia berbalik dan berjalan berdampingan dengan Fadil untuk kembali masuk ke dalam rumah.


"Aku mau mandi dulu ya, kamu tunggu saja disini"


Yara mengangguk, dia duduk di atas sofa dengan televisi yang menyala di depannya itu. Yara mencoba membuka penutup kepalanya, dan rambutnya banyak yang menempel di penutup kepala itu. Air mata Yara menetes begitu saja, dia memegang kepalanya yang sudah hampir tidak tertutup semua dengan rambut. Kulit kepalanya sudah terlihat jelas karena hanya tinggal beberapa helai rambut saja yang masih berada di kepalanya itu.


Ya Tuhan, aku benar-benar tidak bisa harus tetap bersama dengan Fadil dengan keadaan yang seperti ini.


Yara segera memakai kembali penutup kepalanya, karena dia takut ada pelayan yang datang dan akan merasa jijik jika melihat kondisinya ini.


"Sayang.."


Fadil baru saja selesai mandi, dan dia melihat Yara yang langsung menghapus sisa air matanya. Fadil segera menghampirinya, berlutut di depan Yara dan memegang tangannya yang berada di atas pangkuannya itu.


"Kenapa hmm?" tanya Fadil dengan begitu lembut.


Yara menggeleng pelan, tentu saja dia juga bingung harus menjelaskan apa pada Fadil atas apa yang sedang dia rasakan saat ini.


"Tidak papa, aku hanya lelah saja. Ayo kita istirahat"


"Yaudah ayo" Fadil menuntun Yara ke dalam kamar untuk istirahat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2