
"Fadil, apa kamu menyesal mengenal aku?"
"Tentu saja tidak, aku tidak pernah menyesal mengenal kamu dalam hidupku. Karena hadirnya kamu, telah membuat hidupku banyak warna"
Yara melepaskan lingkaran tangan Fadil di perutnya, dia berbalik badan untuk menghadap Fadil. Lalu dia menatap pria itu dengan lekat.
"Kalau bertemu dengan Putri Ajeng, apa kamu menyesal?"
Fadil terdiam beberapa saat, memang ada takdir yang tidak bisa dia hindari. Tapi pertemuannya dengan Putri Ajeng telah membuat Fadil menyesal dengan semuanya. Entah itu memang sebuah takdir atau hanya kebetulan, tapi memang Fadil menyesali semuanya.
"Ya, aku menyesal bertemu dengannya. Karena aku yang bertemu dengannya membuat kebahagiaan aku hilang seketika. Pertemuan aku dengan dia telah membuat aku kehilangan kamu dalam hidupku"
Yara sedikit terkejut dengan jawaban Fadil barusan, Tidak menyangka jika jawaban dari Fadil akan seperti itu. Apa mungkin memang Fadil benar-benar telah sadar jika hanya Yara yang bisa mencintainya dengan tulus? Entahlah.. Keraguan dalam diri Yara masih terlalu besar.
Cup..
Fadil mengecup bibir Yara dengan lembut, tidak peduli Yara yang memukul dadanya agar Fadil menghentikan aksinya itu. Fadil hanya ingin membuat Yara yakin dengan perasaannya ini, Fadil hanya ingin Yara tahu jika perasaan cintanya masih untuk dirinya sampai saat ini dan sampai kapan pun juga.
"Fadil, kamu apaan si?"
Yara mengusap bibirnya yang basah, untuk pertama kalinya Yara marah karena Fadil yang menciumnya. Padahal dulu saja dia tidak pernah marah ketika Fadil mellakukan lebih dari ini. Ternyata hubungan mereka berdua memang sudah berbeda.
Fadil menangkup wajah Yara, menatap bola mata yang menyimpan banyak luka dan kerapuhan itu. "Aku mencintaimu Yara, dan selamanya hanya akan mencintai kamu. Sempat berpaling, tapi ternyata hanya kamu yang memiliki hatiku hingga aku tidak bisa melupakanmu"
Yara terdiam dengan menatap Fadil yang juga menatapnya dengan lekat. "Maafkan aku Fadil, tapi kamu telah melakukan hal yang tidak pernah aku duga akan kamu lakukan dengan wanita lain. Kamu sudah membuat Putri Ajeng hamil dan melahirkan anak kamu, aku tidak mau menjadi wanita jahat yang merebut kamu dari anak kamu sendiri"
__ADS_1
"Dia bukan anakku!"
"Hah?!"
Yara sangat terkejut mendengarnya, apa yang Fadil katakan benar-benar membuatnya terkejut. Membuat Yara sedikit penasaran dengan apa yang di alami oleh Fadil selama ini dengan pernikahannya bersama Putri Ajeng.
Fadil berdiri di samping Yara, menatap lurus ke arah taman dan kolam berenang disana. "Putri Ajeng sudah mengandung ketika dia bertemu denganku. Entah anak siapa, aku juga tidak tahu. Nyatanya aku hanya sengaja di jebak dengan segala rencananya agar bisa mendapatkan status yang jelas untuk anak dalam kandungannya. Agar anaknya tidak lahir tanpa Ayah"
Yara benar-benar terkejut dan merasa sedikit tidak percaya dengan cerita Fadil. Seolah cerita ini memang terjadi dengan nyata, cerita yang bisa Yara lihat dalam sebuah cerita fiksi.
"Apa ini alasan kamu menceraikan Putri Ajeng?"
"Salah satunya itu, tapi yang utama hanya karena aku yang telah sadar akan kebodohan yang aku alami. Tentang kamu yang ternyata pemilik hatiku seutuhnya. Aku menceraikan dia, karena aku sadar jika menjalani pernikahan tanpa cinta itu hanya sebuah luka yang diciptakan sendiri"
Yara melihat Fadil yang mengusap ujung matanya, terlihat jelas jika pria itu memang sangat rapuh dengan keadaan ini. Fadil yang ternyata juga terluka dengan apa yang dia alami dalam pernikahannya bersama dengan Putri Ajeng. Yara memeluk Fadil dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung lebar pria itu.
Fadil memegang tangan Yara yang melingkar di perutnya. Tersenyum ketika dia kembali merasakan pelukan hangat Yara yang selalu menenangkan baginya.
#######
Yara menghela nafas berat ketika dia baru saja selesai makan dan melihat beberapa butir obat yang rutin dia konsumsi setiap harinya. Rasanya Yara sudah sangat lelah dengan semua obat-obatan ini.
Fadil yang menyadari kelelahan dalam diri Yara saat harus terus meminum obat-obatan yang membuatnya muak. Fadil mengelus kepala Yara dengan lembut.
"Di minum obatnya ya, kan biar cepat sembuh. Aku yakin kamu akan segera sembuh"
__ADS_1
Yara menoleh pada Fadil, dia menghembuskan nafas pelan sebelum meminum obat-obatan itu. Fadil langsung memberinya minum, karena melihat Yara yang hampir memuntahkan kembali obat yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
"Pait banget Ya Tuhan, bau lagi"
Fadil mengelus tangan Yara yang berada di atas meja, dia tahu jika Yara sedang mengeluh karena dirinya yang harus terus meminum obat-obatan itu. Tapi semua ini juga demi proses kesembuhannya itu.
"Sabar ya, kan biar kamu cepat sembuh. Jadi harus rutin minum obatnya"
Yara menjatuhkan kepalanya di atas meja dengan tangannya yang menjadi bantalan. "Apa aku akan benar-benar terlepas dari obat-obatan itu?"
"Tentu saja, kamu akan sembuh selamanya. Penyakit kamu tidak cukup kuat untuk membuat kamu menyerah begitu saja"
Yara menatap Fadil yang tersenyum padanya dengan tangannya yang terus mengelus kepalanya. "Tapi kalau misalkan aku lelah?"
"Sayangku, siapa bilang kamu tidak boleh merasa lelah dan mengeluh. Itu wajar saja, tapi untuk menyerah, jangan pernah!"
Yara menatap Fadil yang terus memberinya semangat. Tidak jauh berbeda dengan Keanu yang selalu memberikan Yara semangat untuk sembuh. Tapi entah kenapa semangat yang di berikan Fadil lebih terasa dan cukup memberikan efek pada Yara. Bukan berarti Yara tidak menerima semangat yang di berikan oleh Keanu. Tapi memang berbeda jika yang memberikan semangat itu dari orang yang dicintai.
"Sekarang istirahat ya, sudah malam"
Yara mengangkat wajahnya yang sejak bersandar di atas meja. "Aku belum ngantuk, tadi siang juga tidur. Jadi nanti saja tidurnya, sebentar lagi"
Fadil tidak bisa memaksa juga, karena xia juga tidak mau membuat wanitanya menjadi stres jika dia terus memaksa Yara untuk tertidur sekarang. "Yaudah, sekarang mau apa? Nonton, mau?"
Yara mengangguk, dulu mereka sering sekali menghabiskan akhir pekan dengan nonton bersama di Apartemen. Tidak perlu datang ke bioskop, karena Fadil selalu bilang kalau dia ingin menghabiskan waktu akhir pekannya berdua dengan Yara. Jika pergi nonton di luar, maka Fadil tidak akan bisa banyak mengobrol dan berbagi cerita dengan Yara.
__ADS_1
Namun ruang menonton di rumah ini ternyata sangat berbeda dengan ruang menonton di Apartemen mereka dulu. Ruangan yang cukup luas dengan layar besar dan sofa bed yang nyaman. Benar-benar mirip dengan bioskop yang sebenarnya.
Bersambung