
Entah memang waktu yang berlalu terlalu cepat, atau memang Yara yang menikmati setiap waktu yang berlalu ini. Dia begitu menikmati saat waktunya sebagai Ibu. Tentu saja dia tidak banyak mengeluh, karena memang dia begitu menikmati masa-masa ini. Sampai tidak terasa jika anaknya sudah berusia dua tahun sekarang.
Rasanya waktu berlalu begitu cepat karena dia yang terlalu menikmati semuanya hingga tidak pernah merasa jika waktu sudah lama berlalu.
Yara menatap anaknya yang selalu bisa berbaur dengan orang-orang. Bayi kecilnya yang sekarang sudah menjadi seorang gadis kecil dan terlihat sangat cantik. Kayra yang selalu bermain dengan Sherin, sepertinya mereka begitu dekat karena memang kini keluarga mereka sudah bersatu. Yara merasa telah mempunyai keluarga yang baru.
"Ra, kamu kenapa? Kok seperti sedang sakit seperti itu?" tanya Sarah.
Yara langsung meraba pipinya sendiri, dia tidak merasa sedang sakit. Merasa dirinya baik-baik saja, meski akhir-akhir ini selalu merasa sedikit lemas. "Tidak papa, aku baik-baik saja Mbak. Memangnya wajah aku pucat ya?"
Sarah mengangguk, dia memang melihat wajah Yara yang begitu pucat hari ini. Jadi dia merasa jika Yara memang sedang sakit. "Iya, wajah kamu sedikit terlihat lebih pucat. Mungkin kamu kurang tidur dan kelelahan"
"Mungkin ya, Mbak. Soalnya aku memang terkadang sulit tidur"
Fadil langsung menghampiri istrinya ketika dia mendengar obrolan Yara dan Sarah. Fadil takut kalau istrinya sampai sedang sakit dan dia tidak menyadarinya.
"Sayang, kamu sakit? Kita ke Dokter saja yuk" ucap Fadil, dia mengecek suhu tubuh Yara dengan punggung tangannya.
Yara langsung menggeleng pelan, tentu saja dia tidak merasa sakit atau apapun. "Aku baik-baik saja, mungkin hanya sedikit lelah"
"Beneran tidak papa?" Tanya Fadil, terlihat jelas kekhawatiran dari wajahnya itu.
Yara tersenyum dan menggeleng pelan, dia memang tidak merasa sedang sakit saat ini. "Tidak Sayang, kamu tenang saja. Aku baik-baik saja"
Fadil tidak bisa percaya begitu saja dan membiarkan Yara dengan keadaan yang seperti ini. Jadi dia mengajak istrinya itu untuk ke kamar mereka, hanya untuk sekedar istirahat. Meski Yara menolak, tapi Fadil tetap memaksanya.
"Sayang, aku benar-benar tidak papa. Lagia tidak enak juga dengan yang lain kalau aku malah diam di kamar seperti ini"
__ADS_1
"Kamu memang sangat pucat, pasti kamu sedang sakit sekarang. Sudah, jangan pedulikan mereka. Lagian mereka juga akan mengerti" ucap Fadil, dia membantu menaikan kedua kaki Yara ke atas tempat tidur.
"Ya ampun Sayang, aku tidak papa. Lagian masa di acara ulang tahun anak kita, aku malah harus diam seperti ini di dalam kamar"
Fadil tetap tidak menuruti keinginan Yara, yang dia takutkan hanya satu. Istrinya sakit. Karena terakhir kali Yara sakit, dia hampir kehilangan nyawa. Semua kenangan tentang Yara yang pernah sakit parah, sudah seperti bom waktu yang seakan-akan bisa meledak di depannya. Fadil sangat takut hal itu kembali terulang.
"Kamu nurut sama aku ya, sekarang kamu sedang sakit dan harus benar-benar istirahat. Jangan membuat aku khawatir, kalau kamu tidak mau istirahat sekarang. Bagaimana kalau kita pergi ke rumah sakit saja, agar kamu langsung diperiksa"
Yara langsung menggeleng cepat mendengar itu, tentu saja dia tidak ingin mendengar hal itu terjadi. Karena dia tidak mau untuk pergi ke rumah sakit, disaat dia saja merass baik-baik saja.
"Iya, iya. Aku akan istirahat sekarang"
Fadil tersenyum, akhirnya istrinya itu menyerah juga. Fadil mengecup kening Yara dengan lembut. "Istirahatlah, aku akan keluar lagi untuk menemui semua tamu"
Yara hanya mengangguk saja, meski wajahnya terlihat cemberut karena kesal dengan suaminya yang selalu saja seperti ini ketika mendengar Yara sakit. Padahal Yara sendiri tidak merasa jika dirinya sedang sakit sekarang. Dia merasa baik-baik saja.
"Sayang.."
Fadil tidak menemukan istrinya di dalam ruang ganti. Sampai dia mendengar suara keran air terbuka di dalam kamar mandi, membuat Fadil yakin jika istrinya itu sedang berada di dalam kamar mandi. Segera Fadil masuk ke dalam kamar mandi yang ternyata pintunya memang tidak dikunci oleh Yara.
"Sayang, kamu kenapa?"
Fadil langsung berlari menghampiri istrinya yang sedang muntah-muntah di atas wastafell. Dia melihat wajah Yara yang begitu pucat, Fadil langsung membantu Yara untuk memegang rambutnya yang berantakan. Memegangnya menjadi satu di belakang.
"Sayang, kita ke rumah sakit saja ya. Kamu harus diperiksa kalau begini"
Yara membasuh wajahnya, lalu dia menoleh pada Fadil. Rasanya dia sangat lemas ketika dia sudah banyak memuntahkan isi perutnya. Yara juga bingung kenapa dia jadi seperti ini, ketika dia bangun dan langsung merasa mual hingga akhirnya muntah-muntah seperti ini.
__ADS_1
"Aku tidak papa"
"Jangan terus bilang tidak papa, lihat saja wajah kamu sudah lemah begitu" tekan Fadil, kesal juga karena istrinya yang selalu mengatakan kala dia tidak papa, padahal keadaannya jelas tidak sedang baik-baik saja.
Yara mengerjapkan matanya saat dia mulai merasa berkuanang-kunang dan pandangannya yang perlahan mulai kabur hingga akhirnya menghitam dan semuanya menjadi gelap. Yara jatuh pingsan.
Fadil dengan sigap langsung menangkap tubuh istrinya. Tidak bisa lagi berkata-kata, dia langsung menggendong tubuh istrinya dan membawanya keluar kamar.
"Mbak, jaga Kayra ya. Aku mau bawa istriku ke rumah sakit, tiba-tiba saja dia pingsan" pesan Fadil pada pengasuh Kayra.
"Iya Tuan"
Fadil segera membawa Yara ke rumah sakit, dia benar-benar panik dan cemas dengan apa yang terjadi pada istrinya saat ini. Entah kenapa dia jadi terus kepikiran dengan keadaan Yara.
"Sayang, bangun. Jangan membuat aku ketakutan seperti ini"
Entahlah, bayangan yang terus melintas dalam kepala Fadil ketika dia melihat Yara yang seperti ini adalah ketika Yara yang sedang sakit parah saat itu. Bagaimana setiap hari dia melihat Yara dengan penuh ketakutan kalau Yara akan meninggalkannya untuk selamanya saat itu juga.
"Pak cepat sedikit" ucap Fadil pada Pak sopir yang sedang mengemudi.
Fadil terus memangku Yara, dia bahkan tidak tahu lagi harus melakukan apa saat ini. Melihat istrinya yang tidak sadarkan diri, sudah seperti melihat Yara yang sedang sakit di masa lalu. Sakit parah yang pernah hampir merenggut nyawanya.
"Sayang, kamu harus baik-baik saja. Aku tidak akan memaafkan kamu, kalau sekarang kamu kenapa-napa"
Fadil terus berusaha mencoba membuat Yara terbangun. Tapi istrinya itu tetap tidak sadarkan diri, meski Fadil malah mengucapkan sebuah ancaman karena dia takut kalau sampai istrinya kenapa-napa.
Bersambung
__ADS_1