
Rasa sakit di perutnya masih terasa di hari kedua ini. Darah haid yang juga masih keluar cukup banyak. Yara jadi merasa lemas dan tidak banyak melakukan hal apapun. Belum lagi pikirannya yang masih kacau ketika dia mengingat pertengkaran yang terjadi diantara dirinya dan suaminya. Bahkan sekarang Fadil masih belum mengajaknya banyak bicara tadi pagi. Pastinya Fadil masih marah padanya.
"Apa benar ya aku se-toxic itu? Hanya bisa menyalahkan orang lain dan diriku sendiri. Tapi semuanya hanya karena aku pernah mengalami luka dan trauma besar yang orang lain tidak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya saat ini"
"Nona tidak salah, dan Nona wajar bersikap seperti itu"
Yara langsung menoleh saat dia mendengar suara Mbak pelayan yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping sofa yang dia duduki. Yara tersenyum tipis pada Mbak pelayan itu. Tidak banyak bicara, karena dia rasa memang suaminya benar. Semua yang dia katakan adalah benar.
"Nona mengalami trauma yang besar, entah separah apa luka di hati Nona. Namun, sama sekali tidak ada orang lain yang mengetahuinya dan bisa mengerti keadaan Nona ini. Jadi, saya rasa sikap Nona wajar untuk seorang perempuan yang memiliki banyak luka yang dipeluknya sendiri. Seolah tidak ada tempat untuk bersandar dan berlindung"
Yara terdiam mendengar ucapan Mbak pelayan yang entah kenapa membuat matanya langsung berkaca-kaca begitu saja. Yara mengusap kasar air mata yang mengalir begitu saja di pipinya. Ucapan Mbak pelayan itu benar-benar membuat Yara tersentuh, merasa jika dirinya yang sekarang ini memang berada di posisi yang seperti itu.
"Tapi tidak seharusnya aku bersikap seperti itu pada suamiku. Karena tidak harus semua orang mengerti tentang perasaanku ini" ucap Yara, dia terisak pelan. Seolah sudah tidak bisa lagi menahan tangisannya ini.
"Semuanya akan baik-baik saja kalau Nona mulai mempunyai kepercayaan diri untuk diri sendiri. Jangan terus meminta orang lain mengerti perasaan Nona, coba untuk menjadi diri yang penuh dengan percaya diri. Jangan terus menyalahkan diri Nona sendiri"
Dan ucapan Mbak pelayan itu membuat Yara sedikit berpikir. Mungkin banyak mengeluh pada suaminya hanya akan membuatnya merasa jengah.
Mungkin mulai saat ini aku harus berubah menjadi wanita mandiri dan tidak manja lagi. Aku harus mempunyai kepercayaan diri yang tinggi.
Yara harus merubah dirinya, mungkin dia terlalu banyak mengeluh dan manja. Jadi dia tidak akan lagi melakukan itu pada suaminya.
Ketika malam ini Fadil baru saja kembali dari Kantor, dia melihat istrinya yang sedang menyiapkan makan malam. Fadil menghela nafas pelan, setelah seharian ini terus berpikir. Memang apa yang dia lakukan pada Yara sudah begitu keterlaluan. Ucapannya karena terkuasai emosi pasti akan membuat Yara terluka.
Fadil menghampiri istrinya yang sepertinya masih belum menyadari kehadirannya disana. "Sayang, aku bawa donat kesukaan kamu ini"
__ADS_1
Yara langsung menoleh, dia melihat Fadil meletakan paper bag di atas meja. Yara tersenyum tipis, setidaknya mendengar suaminya sudah mau memulai pembicaraan sudah cukup melegakan baginya.
"Iya, terima kasih ya. Mau mandi dulu atau makan dulu?" tanya Yara sambil tersenyum.
"Makan dulu kayaknya deh, aku lapar sekali. Melihat masakan kamu buat aku tergiur" ucap Fadil.
Yara tersenyum saja, dia mengambilkan makanan untuk suaminya itu. "Makan yang banyak kalau gitu, biar kamu gak kelaparan lagi"
Fadil tersenyum, dia harus membuka pembicaraan yang baik dengan istrinya itu. Mengingat kemarin malam dia sudah mengeluarkan banyak kata-kata yang cukup kasar, pasti akan membuatnya sangat terluka.
"Sayang, aku minta maaf" lirih Fadil setelah mereka selesai makan bersama.
Yara menghela nafas pelan, dia menatap suaminya dengan tenang. "Yang kamu bicarakan benar kok. Aku terlalu toxic selama menjadi istri kamu. Wajar saja kalau kamu jengah dengan sikap aku itu. Tapi kamu tenang saja, mulai saat ini aku akan mencoba untuk berubah"
Fadil tertegun mendengar ucapan Yara barusan, sungguh dia tidak menyangka Yara malah akan berpikir seperti itu. Padahal Fadil sama sekali tidak bermaksud membuat istrinya berpikir seperti itu.
"Sudahlah, kita tidak perlu membahas yang sudah berlalu. Yang penting sekarang hubungan pernikahan kita akan selalu baik-baik saja" ucap Yara. Dia langsung berdiri dan membereskan semua bekas makan mereka di atas meja.
"Sebaiknya kamu mandi dulu, mau aku siapkan airnya?" ucap Yara.
Fadil masih tertegun dengan ucapan Yara itu dan dia juga bingung kenapa sekarang Yara jadi berubah seperti ini. "Sayang, aku bisa siapkan sendiri. Kamu juga masih datang bulan, pasti masih sakit perutnya"
Yara tersenyum, dia menggeleng pelan. "Tidak papa kok, aku baik-baik saja dan bisa melakukannya"
Lagi, Fadil dibuat tertegun oleh sikap Yara padanya. Dulu, ketika datang bulan seperti ini, maka Yara selalu begitu manja padanya. Bahkan untuk makan saja selalu minta disuapi. Tapi entah kenapa saat ini Yara bahkan tidak lagi bermanja padanya.
__ADS_1
Fadil menatap punggung Yara yang berjalan menaiki anak tangga. "Apa mungkin dia masih marah padaku ya. Kenapa dia jadi berubah seperti ini"
Fadil segera menyusul Yara ke kamarnya, dia masih bingung dengan sikap Yara yang tiba-tiba berubah seperi ini. Aneh sekali rasanya melihat sikap istrinya ini.
"Sayang, airnya sudah siap. Kamu cepetan mandi ya. Aku mau siapin donat yang tadi kamu bawa" ucap Yara.
"Kan bisa minta saja Mbak yang siapin, kenapa harus kamu" ucap Fadil.
Yara tersenyum dan menggeleng pelan. "Tidak perlu, aku bisa sendiri"
Fadil hanya diam mendengar ucapan istrinya itu. Rasanya masih terasa aneh dengan sikap istrinya saat ini. Fadil berendam di bak mandi sambil terus memikirkan tentang sikap Yara yang benar-benar berubah.
"Sebenarnya dia kenapa? Apa masih marah padaku sampai aku merasa dia mulai menjaga jarak dariku"
Sikap Yara ini benar-benar membuat Fadil kebingunga. Karena biasanya istrinya itu selalu lembut dengan sedikit manja, tapi kenapa sekarang malah berubah menjadi sosok yang mandiri yang seolah tidak membutuhkan bantuannya lagi.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Fadil keluar dari ruang ganti dan melihat Yara yang sedang memakan donat yang dibawakan olehnya tadi. Fadil tersenyum pelan, dia menghampirinya dan mengelus kelapa Yara dengan lembut.
"Enak donatnya? Kamu suka, hmm?" tanya Fadil, dia memberikan kecupan di puncak kepala istrinya sebelum dia duduk disamping Yara.
"Iya, makasih ya sudah membelikan ini untuk aku" ucap Yara.
"Asal kamu senang, aku juga ingin meminta maaf karena kejadian kemarin malam. Aku tahu kalau aku terlalu kasar padamu. Maafkan aku ya, Sayang" ucap Fadil sambil mengelus kepala istrinya dengan lembut.
Yara tersenyum, dia menangkup wajah suaminya. "Aku yang harusnya minta maaf, maaf karena selama ini aku tidak bisa mengerti perasaan kamu. Aku yang terlalu egois dan selalu menyalahkan kamu atas kesalahan di masa lalu. Maafkan aku"
__ADS_1
"Kamu tidak salah, dan kamu tidak perlu meminta maaf padaku" tekan Fadil, seolah dia tidak ingin istrinya berkata seperti itu lagi.
Bersambung