
Seolah Fadil sudah bisa mengerti apa yang diinginkan istrinya, hingga dia tidak berada jauh dari Yara saat acara ini berlangsung. Meski Sherin tetap menempel padanya, Fadil tetap bersama dengan Yara. Menghindari kesalah fahaman.
Beberapa kali menghela nafas pelan, rasanya melihat orang-orang yang begitu bahagia melihat kehadiran Kiana dalam keluarga baru mereka. Namun bukan Yara yang merasa iri karena dirinya masih dalam keadaan seperti ini. Hanya saja berharap suatu saat nanti dia juga bisa melihat wajah orang-orang yang bahagia karena kelahiran anaknya.
"Sayang, kamu ambil makanan gih. Masa dari tadi hanya diam saja. Kamu harus banyak makan" ucap Fadil.
Yara menoleh pada suaminya dan tersenyum. "Kamu mau makan apa Sayang? Biar aku ambilkan ya"
Fadil langsung mengelus kepala Yara dengan lembut. "Bukan aku yang ingin makan, tapi kamu yang harus makan. Tadi juga habis muntah-muntah, harus segera makan"
Yara tersenyum saja, dia berdiri dan segera berjalan ke stand makanan yang tersedia di rumah ini. Memilih beberapa cemilan dan buah saja, karena Yara sedang malas makan berat.
"Hai Yara"
Namun saat dia baru saja akan kembali pada suaminya, Putri Ajeng menghampirinya. Membuat Yara terdiam sebentar. Dia tersenyum pada Putri Ajeng.
"Ra, maaf banget kalau kejadian kemarin saat Sherin sakit membuat kamu marah dan bertengkar dengan Fadil. Aku janji aku akan berusaha untuk tidak merepotkan dia lagi, meski tentang Sherin" ucap Putri Ajeng, mungkin dia masih merasa bersalah atas kejadian baberapa hari kemarin.
Yara tersenyum mendengar itu, tentu saja dirinya juga tidak bisa menyalahkan Putri Aejng, karena dalam keadaan seperti itu pastinya Putri Ajeng sangat bingung. Apalagi dia yang tidak mempunyai suami.
"Tidak papa Ajeng, lagian aku mengerti kok bagaimana situasi kamu saat itu. Pasti bingung banget pas lihat anak kamu sakit seperti itu. Jadi sudahlah tidak usah di pikirkan" ucap Yara sambil menepuk pelan bahu Putri Ajeng.
Entah apa yang membuat Putri Ajeng langsung memeluk Yara dengan erat. Seolah dia sangat tidak ingin kehilangan sosok ini. "Yara, ternyata aku bisa melihat apa yang ada alam diri kamu dan yang tidak ada dalam diri aku. Maafkan aku karena sudah pernah membuat kamu terluka"
Yara tersenyum, dia mengelus punggung Putri Ajeng. "Sudahlah, saat itu bukan hanya kamu yang salah. Rasanya tidak adil sekali jika aku hanya menyalahkanmu. Karena tidak akan ada sebuah perselingkuhan jika tidak dua orang itu memang sama-sama suka dan mau. Jadi tidak sepenuhnya salah kamu"
__ADS_1
Putri Ajeng mengangguk, mungkin memang seperti itu seharusnya jalan hidupnya. Tapi setidaknya dia bisa melihat Sherin bahagia saat bisa bersama dengan Fadil, karena dia yang menganggap jika Fadil itu adalah Ayahnya. Meski kenyataan ini lambat laun akan diketahui oleh Sherin suatu saat nanti, jika Fadil bukanlah Ayahnya.
"Kalau begitu terima kasih ya Yara, kamu sudah begitu baik padaku"
Yara hanya mengangguk saja, lalu dia segera berpamitan pada Putri Ajeng untuk kembali pada suaminya dengan membawa makanan. Yara kembali duduk disamping Fadil yang memangku Sherin yang sudah tertidur.
"Wah Sherin tidur ya, kalau berat sini sama aku saja" ucap Yara.
Fadil menggeleng pelan, dia menatap istrinya dengan lekat. "Sayang, kamu tadi bicara apa dengan Putri Ajeng?"
Yara langsung tersenyum, dia melihat tatapan penuh curiga dan cemas dari suaminya itu. "Hanya berbicara biasa saja, Ajeng meminta maaf tentang semuanya. Entahlah, kenapa dia terus meminta maaf seperti itu. Tapi aku hanya bilang, jika bukan hanya dia yang salah, karena kamu juga mau saat itu. Tidak mungkin hanya Putri Ajeng yang hanya disalahkan, kan tidak adil"
Fadil tersenyum mendengar itu, lihatlah bagaimana Yara yang bisa menerima semuanya dengan lapang. Meski sebenarnya dia sudah sangat terluka dengan semuanya. "Ya Sayang, aku juga salah saat itu. Maafkan aku karena sudah membuat kamu terluka"
Jelas arti dari ucapannya itu adalah Yara yang masih merasa cemas dan ragu dengan semuanya. Bagaimana dia yang sekarang merasakan luka setelah Fadil mengkhianatinya. Hingga sebuah trauma yang tertanam dalam hatinya saat ini masih belum bisa hilang seutuhnya. Namun, Fadil akan berusaha untuk memberikan yang terbaik agar istrinya bisa menghilangkan trauma itu.
********
Putri Ajeng mengambil Sherin dari Fadil dan membawa ke kamar tamu untuk dia tidurkan. Ajeng menatap anaknya yang terlelap begitu tenang. Kejadian kemarin saat melihat Sherin yang sakit, sungguh membuat Ajeng sangat takut. Sekarang ini yang dia punyai adalah Sherin sebagai penyemangat hidupnya. Dan dia tidak mau sampai harus kehilangan anak yang pernah dia sia-siakan selama satu tahun yang lalu.
"Sherin, kamu harus tetap bahagia bersama dengan Mami Nak. Jangan sampai meninggalkan Mami ya, Nak. Karena Mami selalu bersemangat untuk menjalani kehidupan setiap melihat pancaran indah mata kamu itu"
Putri Ajeng keluar dari kamar dan menitipkan Sherin pada Mbak pelayan disana. Dia berjalan melewati lorong menuju ruang tengah untuk kembali menghabiskan waktu bersama keluarga. Tapi seketika tubuhnya mematung saat dia melihat siluet orang yang jelas dia kenal di ujung lorong ini. Perlahan kakinya melangkah untuk mendekati orang itu dan memastikan jika penglihatannya tidak salah.
"Ajeng, aku mencarimu"
__ADS_1
Deg,, suara itu, adalah suara yang sangat dia kenal dan dia rindukan selama ini. Putri Ajeng menggeleng kuat, dia merasa jika dirinya hanya sedang berhalusinasi.
"Tidak, tidak mungkin dia ada disini"
Namun, sebuah tangan yang memegang lengannya membuat Putri Ajeng mulai tidak bisa menganggap jika semua ini adalah sebuah halusinasi. Perlahan mata yang sejak tadi terpejam itu langsung terbuka. Dan dia benar-benar melihat Felix yang berdiri di depannya.
Ya Tuhan, aku tidak salah. Dia memang ada disini sekarang, tepat di depanku.
Rasanya Ajeng ingin langsung berlari dan bersembunyi. Dia tidak siap jika harus bertemu dengannya lagi, setelah tiga tahun lebih mereka berpisah dan tidak pernah ada komunikasi apapun lagi.
"Ajeng, aku mencarimu"
Sekali lagi Felix berkata seperti itu, dia juga tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan Ajeng setelah sekian lama. Sebenarnya di selalu mengikuti semua berita tentang gadis ini, meski sadar dia tidak akan bisa memilikinya. Namun kenyataan yang baru saja dia ketahui, membuat Felix sadar jika memang dia harus kembali lagi pada Ajeng.
"Ke-kenapa kamu disini? Mau apalagi?" tanya Putri Ajeng dengan suara bergetar.
Felix tidak berkata apapun, dia langsung menarik tubuh Putri Ajeng ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat, sampai saat ini masih tidak bisa dia melupakan pelukan yang membuatnya nyaman seperti saat ini. Ah, rasanya Felix tidak ingin lagi melepaskan pelukan ini.
"Lepas Felix! Kamu mau apa datang kesini? Jangan mencari lagi masalah, jelas kamu tahu kita tidak bisa bertemu lagi seperti ini" Ajeng yang mencoba melepaskan pelukan Felix yang begitu erat itu.
"Aku juga berpikir begitu kalau tidak ada yang memberi tahuku jika anakmu adalah anak kandungku"
Deg....
Bersambung
__ADS_1