
Selesai dengan pembahasan pekerjaan, Keanu memaksa untuk makan siang bersama dengan Yara dan Sarah. Kini mereka bertiga sudah berada di Restaurant di sebrang perusahaan Sarah.
"Kamu hobby apa saat ini Ra?"
Sebenarnya Yara sedikit bingung dengan Keanu yang terus bertanya banyak hal tentangnya. Namun Yara juga tidak bisa jika tidak menjawab pertanyaan dari Keanu. Merasa tidak enak dan tidak sopan.
"Aku lagi suka gym Kak, pengen nurunin berat badan"
"Kenapa di turunin? Padahal kamu gemesin banget loh kayak gini. Kamu manis"
Deg..
Yara benar-benar tidak tahu harus menjawab apa saat ini. Dia hanya tersenyum saja tanpa berniat menanggapi apapun atas ucapan Keanu barusan.
Pulang dari Restaurant, Yara langsung kembali pada pekerjaannya. Sementara Sarah dan Keanu masih duduk santai di dalam ruangan Sarah.
"Kamu suka dengan Yara?"
Mendengar pertanyaan Sarah membuat Keanu tersenyum dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Melihat senyuman Keanu, sudah cukup sebagai jawaban bagi Sarah. Tangannya mengepal kuat di bawah meja dengan meremas rok yang dia pakai.
Selama ini Sarah menyukai Keanu, namun dia terlalu malu untuk mengatakan tentang perasaannya itu. Hingga sekarang dia jelas melihat Keanu yang sedang menyukai seorang gadis, membuatnya merasa panas dan tidak bisa hanya diam saja.
"Kira-kira Yara mau tidak ya kalau aku ajak dia pacaran"
Sarah hanya memalingkan wajahnya dengan hembusan nafas pelan, dia merasa harus menahan diri saat ini. "Kau coba tanyakan saja, tapi aku dengar jika dia sudah punya pacar. Terus pacarannya juga sudah cukup lama"
Bahu Keanu langsung lemas mendengar itu, dia menghela nafas pelan. "Tapi aku akan coba tanyakan saja dulu. Lagian baru pacaran 'kan, kalau belum menikah masih ada kesempatan untuk aku"
Sarah hanya diam dan tidak menjawab apapun.
######
__ADS_1
"Kamu yakin Ra?"
Yara menoleh pada sahabatnya dan tersenyum. "Yakin Na, aku harus tunjukin kalau aku juga masih baik-baik saja saat ini. Meski dia sudah meninggalkan aku"
Erna mengangguk mengerti, saat ini mungkin Yara sedang tidak ingin memperlihatkan kelemahannya di depan Fadil yang sudah tega memngkhianatinya.
Erna dan Yara pergi ke acara pesta pernikahan Fadil dan Putri Ajeng. Ketik masuk ke aula gedung tempat dimana acara pernikahan ini di laksanakan. Yara menghembuskan nafas kasar. Hubungannya dengan Fadil berakhir sampai disini.
"Yakin Ra? Kalau gak kuat, kita balik lagi aja yuk"
Yara menggeleng pelan, meski sebenarnya hatinya begitu terluka dan dia juga bingung harus melakukan apa saat ini. Akhirnya Yara memilih untuk tetap kuat dan tegar saat dia naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat pada sepasang pengantin baru itu.
Fadil juga tidak menyangka jika Yara akan hadir diacara pernikahannya ini. Senyuman Fadil langsung sirna ketika melihat Yara yang datang diacara pernikahannya ini.
Yara tersenyum pada Fadil, namun dengan matanya yang berkaca-kaca jelas terlihat. Da mengulurkan tangannya pada Fadi. "Selamat ya, akhirnya menemukan jodoh yang cantik dan mungkin yang terbaik buat kamu. Terima kasih untuk semuanya"
Untuk luka yang mendalam dan rasa kecewa yang entah bisa hilang atau tidak.Rasanya Yara ingin berteriak seperti itu pada Fadil yang telah menanamkan luka yang begitu dalam.
Yara mengangguk dan segera melepaskan tautan tangannya dengan Fadil. Yara mengucapkan selamat juga pada Putri Ajeng yang terlihat begitu cantik dengan gaun pernikahan yang mewah. Yara turun dari atas pelaminan di ikuti dengan Erna. Yara tidak bisa berlama-lama berada di tempat yang akan membuatnya sakit.
Fadil menatap punggung Yara yang menjauh, entah kenapa ada rasa nyeri di hatinya ketika melihat Yara yang menjauh darinya. Mungkin akan menjauh selamanya dari kehidupan Fadil. Ini sudah menjadi pilihan Fadil dan dia harus menerima semuanya dengan lapang.
Yara dan Erna duduk di salah satu meja yang yang ada disana. Tanpa menghambil hidangan makanan apapun. Yara menatap ke arah pelaminan dengan helaan nafas panjang. Yara tidak bisa lagi melakukan apapun hanya untuk memperjuangkan Fadil dan hubungan mereka. Karena kenyataannya semua perjuangannya hanya sia-sia dan tidak menghasilkan apapun.
"Ra, are you okay?"
Yara tersenyum pada Erna dan mengangguk. Dia baik-baik saja, tapi tidak dengan hati dan perasaannya.
"Loh Yara, kamu ada disini juga?"
Yara menoleh dan merasa terkejut ketika melihat Sarah dan Keanu yang menghampirinya. Yara langsung berdiri dan menatap Sarah dan juga Keanu dengan bingung.
__ADS_1
"Kak, kenapa bisa ada disini? Aku sedang menghadiri pesta pernikahan teman aku"
"Ini pernikahan adik aku, Yara. Jadi yang kamu bilang harus datang ke acara pernikahan teman kamu adalah ini. Haha.. Lucu sekali ya"
Yara tersenyum, meski pikirannya sedang berpikir kerasa. Adiknya Sarah tidak mungkin Fadil, karena Yara tahu sendiri bagaimana Fadil yang tidak mempunyai saudara setelah orang tuanya meninggal dunia.
"I-ya Kak, aku juga tidak tahu kalau ternyata adik Kakak yang menikah dengan Fadil"
"Iya Ra, dia adik aku"
Ternyata dunia begitu sempit, bahkan selama hampir dua tahun Yara bekerja dengan Sarah, dia tidak tahu jika Sarah mempunyai seorang adik. Karena memang Putri Ajeng juga tidak pernah berkunjung ke perusahaan milik Sarah.
Sarah berpamitan untuk menyapa tamu yang lain, dan Keanu yang saat ini sedang berada di sini. Duduk di depan Yara dengan menatap gadis itu lekat.
"Kamu berbeda sekali hari ini Ra, cantik"
Yara yang mendengar pujian itu hanya tersenhuym. Rasanya hatinya sudah tidak mempan mendengar gombalan seperti itu. Yara sudah terlalu tersakiti dengan yang namanya cinta dan pria. Hingga dia tidak lagi ingin membuka hati untuk cinta yang baru.
Erna yang melihat itu hanya diam, dia tahu jika pria di depannya ini sedang merasa tertarik pada Yara. Namun, Erna juga tahu kalau sahabatnya ini masih belum bisa menerima pria mana pun untuk saat ini.
######
Fadil duduk menyandar di atas tempat tidur, dia memijat pelipisnya yang terasa pening. Merasa jika pernikahan ini juga bukan hal yang dia inginkan, tapi hal yang dia pilih. Fadil kembali mengingat saat acara pernikahannya tadi, dia jelas melihat Yara yang sedang mengobrol dengan seorang pria yang terlihat begitu akrab.
Siapa pria yang mendekati Yara itu? Kenapa aku merasa tidak rela melihatnya berdekatan dengan Yara. Ayolah Fadil, kamu sudah memilih keputusan dalam hidupmu dan kamu sudah harus tidak lagi memikirkan Yara.
"Honey, sana kamu mandi dulu"
Fadil menoleh ke arah istrinya yang baru saja selesai mandi dan keluar dari ruang gati. Ajeng duduk di depan meja rias, dia mulai mengoleskan lotion di tangannya.
Fadil menatap wanita cantik yang baru saja dia persunting untuk menjadi istrinya. Namun, ada perasaan aneh dalam diri Fadil, seolah dia tidak menyangka jika sudah mengambil keputusan sebesar ini.
__ADS_1
Bersambung