
Fadil mengusap air mata yang menetes di sudut mata Yara. "Sayang, aku akan selalu bersama denganmu mulai sekarang. Izinkan aku untuk tetap bersamamu"
Yara tidak bisa berkata apapun lagi, dia hanya tersenyum lirih pada Fadil. Tidak mengiyakan dan juga tidak menolak ucapan Fadil barusan. Yara masih bingung dengan keadaan saat ini.
Cup...
Yara terbelalak kaget saat Fadil tiba-tiba mencium bibirnya dan memberikan sebuah luma*tan halus di bibirnya itu. Fadil seolah sedang menunjukan perasaan cintanya pada Yara dengan sebuah ciuman.
"Sayangku harus sembuh, kita akan menikah nanti"
Deg...
Ucapan Fadil membuat Yara terdiam, tentu saja dia tidak percaya Fadil akan mengatakan hal itu. Menikah? Mungkin jika situasinya tidak seperti saay ini, Yara akan sangat bahagia mendengar kata itu terucap dari Fadil.
Tapi sekarang situasinya berbeda, Fadil yang sudah menikah dan keadaan Yara yang membuat dirinya tidak lagi percaya diri untuk kembali bersama dengan Fadil. Yara tidak mau menyusahkan Fadil dengan penyakit yang dia derita. Bisa melihat Fadil yang baik-baik saja, sudah cukup bagi Yara. Tidak perlu untuk dirinya kembali bersama dengan Fadil.
"Fadil, aku tidak bisa. Kamu juga sudah menikah. Jadi jangan pernah berharap yang tidak mungkin. Pergilah Fadil, aku tidak bisa kembali bersamamu"
Yara berbalik, dia membelakangi Fadil karena dia tidak bisa terus jatuh pada harapan yang di berikan oleh Fadil padanya. Yara tahu jika semuanya hanya harapan yang sia-sia.
Fadil menghela nafas pelan, dia tahu jika Yara pastinya sangat kecewa padanya dan tidak mungkin dia langsung menerima kembali kehadiran Fadil dalam hidupnya setelah apa yang Fadil lakukan padanya.
"Aku tahu kamu tidak akan mudah menerima maaf dariku. Tapi aku tidak akan menyerah Yara, aku akan tetap berusaha untuk bisa mendapatkan hati kamu kembali"
Yara hanya diam, sudut matanya menetes cairan bening yang tidak bisa dia tahan. Meski bibirnya terus menolak kehadiran Fadil, tapi hatinya tetap merindukan sosok itu. Pria yang selama ini selalu menjadi pelindung dalam hidup wanita lemah seperti Yara.
__ADS_1
Tapi sekarang, Yara harus sadar jika Fadil bukanlah miliknya. Fadil hanya tinggal seorang mantan kekasih baginya. Dia sudah menikah dan mempunyai keluarga, Yara tidak bisa jika harus menjadi perusak rumah tangga orang.
"Aku pergi untuk kembali Yara, aku akan tetap menemui kamu disini"
Suara pintu ruangan yang terbuka lalu tertutup kembali menandakan jika Fadil sudah pergi dari sana. Yara langsung membalikan tubuhnya dengan helaan nafas panjang. Dia harus tetap bersikap seperti ini meski hatinya tetap menolak.
"Aku hanya tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang lain"
Keluar dari ruang rawat Yara, Fadil langsung menemui Dokter untuk membicarakan tentang penentuan jadawal operasi yang akan di jalaninya.
"Besok kita sudah bisa melakukan operasi. Melihat dari kondisi Yara yang cukup memungkinkan untuk melakukan operasi"
Fadil menghela nafas lega mendengar itu, karena memang dia ingin Yara segera sembuh. Fadil tidak mau kalau sampai dia terlambat menolong Yara. Melihat dari keadaannya yang sekarang begitu memprihatinkan, tentu saja pikiran buruk selalu menghantui Fadil. Takut kalau Fadil tidak bisa melihat Yara sembuh.
Dan pagi ini dia sudah berada di rumah sakit untuk melakukan pengecekan kesehatan sebelum menjalani operasi. Tidak sedikit pun terlihat ketakutan dalam diri Fadil saat dia akan melakukan operasi. Karena yang ada dalam pikirannya hanya tentang kesembuhan Yara, meski Dokter juga belum menjamin akan kesembuhan Yara.
#######
"Tidak! Saya tidak menyetujui suami saya mendoniorkan ginjalnya"
Teriak Purti Ajeng sambil menggedor pintu ruangan operasi. Dia baru tahu kabar tentang Fadil yang menjadi pendonor untuk Yara dan tentu saja Putri Ajeng tidak setuju dengan keputusan yang Fadil ambil.
"Nona tolong jangan mengganggu konsentrasi Dokter. Operasi sedang berjalan sekarang" Seorang perawat yang menahan Putri Ajeng untuk tidak terus berontak di depan ruang operasi itu.
Ajeng menghempaskan tangan perawat yang memegang tangannya itu. "Lepas! Aku sudah bilang jika aku tidak mengizinkan suamiku mendonorkan ginjalnya untuk wanita itu. Apa kau tidak dengar?!"
__ADS_1
"Tapi suami anda sudah menyetujui semuanya untuk menjadi pendonor"
Arghhh...
Putri Ajeng berteriak kesal, dia duduk di atas kursi tunggu di depan ruang operasi itu. "Kenapa dia harus berkorban sampai seperti ini untuk wanita itu. Padahal jelas sekali kalau dia pasti akan mendapatkan pengaruh pada kesehatannya jika mendonorkan ginjalnya pada Yara. Apa memang secinta itu Fadil pada Yara?"
Rasanya Putri Ajeng benar-benar heran dengan Fadil yang sampai rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk Yara.
"Kau lihat sendiri bagaimana besarnya cinta mereka berdua"
Putri Ajeng langsung menoleh pada Keanu yang tiba-tiba muncul dan sekarang sedang duduk di sampingnya. "Bukannya kau mneyukainya? Kenapa tidak kau saja yang mendonorkan ginjal untuk Yara? Kenapa harus suamiku?"
Kenau tersenyum, tatapannya lurus ke depan. Menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat. "Itulah perbedaannya, entah kenapa aku tidak sampai terpikirkan untuk menjadi pendonor untuk Yara. Aku malah mencari orang lain yang bisa menjadi pendonor untuk Yara. Dan hal ini membuat aku sdar, jika Fadil yang memang mencintai Yara dengan begitu tulus"
Perbedaaannya hanya satu, di saat Fadil bisa berkorban untuk Yara bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya, sementara Keanu hanya bisa mendukung Yara dan berusaha mencarikan pendonor untuk Yara. Dari sini Yara pasti bisa menilai semuanya.
"Pada akhirnya aku tetap kalah dengan cinta mereka yang memang sudah besar. Meski Fadil sempat berpaling padamu, tapi aku yakin kalau dia hanya merasakan kebosanan sesaat saja dengan Yara. Dia tidak benar-benar mencintaimu, Ajeng"
Ajeng terdiam mendengar itu, dia juga jelas menyadari hal itu. Bedanya Putri Ajeng tidak siap untuk menerima kenyataan itu. Dia yang masih ingin memaksakan dirinya untuk tetap bersama dengan Fadil.
"Aku tahu jika kamu pun tidak benar-benar mencintai Fadil"
Keanu berdiri dan berlalu meninggalkan Putri Ajeng setelah dia mengatakan hal itu. Dan Putri Ajeng hanya terdiam mendengar ucapan Keanu barusan. Egoisnya masih terlalu tinggi untuk di kalahkan. Putri Ajeng yang tidak pernah mau mengalah pada siapapun sejak dia kecil. Maka saat ini dia juga tidak akan mudah mengalah dan menyerahkan Fadil pada Yara begitu saja.
Ajeng yang masih menjadi sosok yang egois dan tidak mau mengalah dengan siapapun.
__ADS_1
Bersambung