Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 25 (Tidak Akan Menyesal Memilihmu)


__ADS_3

Ketika sampai di rumah Putri Ajeng, suasana memang cukup ramai. Ternyata Sarah dan Keanu juga datang, membuat suasana semakin terasa ramai. Saat Yara dan Fadil datang, mereka langsung disambut baik oleh keluarga ini.


Mungkin rasanya sedikit aneh, ketika mereka bisa hidup berdampingan seperti keluarga selayaknya. Padahal pada awalnya mereka saling kenal hanya karena sebuah kesalahan.


Tentang Fadil yang bahkan pernah sampai menikah dengan Putri Ajeng, namun sekarang mereka malam seperti keluarga seperti ini. Mungkin kebanyakan orang yang mengetahui tentang kisah mereka selama ini, akan menganggap hal ini aneh.


Tapi bagi mereka, ini adalah rasa ikhlas dalam memaafkan sesungguhnya. Bisa menerima orang yang pernah berbuat salah pada kita menjadi sebuah keluarga. Sungguh tidak akan mudah untuk bisa melakukan hal ini


"Wah, jadi ada kabar baik apa? Sepertinya ada hal membahagiakan" ucap Yara yang sudah ikut bergabung dengan mereka.


Yara menoel gemas anak Sarah yang sudah berusia beberapa bulan itu. Sangat menggemaskan, apalagi dengan pipinya yang semakin gembil.


"Sudah diberi makan ya Mbak? Lucu banget" ucap Yara.


Sarah tersenyum, dia melihat Yara yang selalu saja gemas setiap melihat anaknya ini. "Yaudah dong Ra, kan sudah hampir satu tahun. Masih merangkak dan sudah mulai mau berdiri dan berjalan"


Yara tersenyum mendengar itu, sungguh dia sangat senang sekali melihat anak-anak seperti ini. Karena dia yang begitu mengharapkan bisa mempunyai seorang anak. Semoga saja Tuhan segera memberikannya.


"Jadi ada kabar apa sampai semuanya kumpul disini?" tanya Yara lagi, saat tadi dia malah teralihkan oleh Kiana.


Putri Ajeng tersenyum, dia mengelus perutnya dengan lembut. "Aku hanya ingin mengundang kalian makan malam saja untuk rasa syukur kami karena sekarang aku sedang mempunyai kabar bahagia. Sebentar lagi, Sherin akan mempunyai adik"


Mendengar itu semua orang langsung tersenyum dan mengucap syukur. Sarah juga baru tahu tentang ini, karena dia juga baru saja datang dan belum banyak berbicara dengan adiknya ini. Tentu saja dia cukup terkejut mendengar itu, tapi juga bahagia ketika melihat rumah tangga adiknya begitu dipenuhi kebahagiaan.


"Ya ampun, selamat ya Dek. Akhirnya Sherin jadi seorang Kakak juga" ucap Sarah dengan antusias.

__ADS_1


"Iya Kak, aku juga gak nyangka si. Tadinya memang tidak berniat menunda kehamilan, tapi mala secepat ini bisa memberi Sherin adik"


Bimo dan kedua orang tua Felix juga begitu bahagia mendengar ucapan anaknya itu. Sebuah kebahagiaan yang tidak akan dia rasakan jika Bimo terus egois. Nyatanya bisa memberikan seorang anak dengan pilihannya sendiri, cukup membuatnya tenang. Daripada harus menekan mereka dengan semua keegoisannya.


Yara tersenyum, dia juga ikut bahagia mendengar kabar itu. Meski hatinya terus bertanya-tanya, kapan dia bisa merasakan hal itu. "Wah, Sherin sudah akan menjadi Kakak sekarang. Selamat ya, Ajeng"


"Iya Ra, makasih. Semoga kamu cepat nyusul ya" ucap Putri Ajeng yang langsung di aminkan semua orang.


Fadil langsung menggenggam tangan istriny, dia bisa melihat wajah Yara yang murung setelah mendengar kabar ini. Meski dia tetap menunjukan sebuah senyuman.


"Sebiaknya ayo kita makan semuanya" ucap Ajeng.


"Em, kita sudah makan barusan. Hari ini anniversarry pernikahan kita. Jadi tadi makan dulu" ucap Fadil.


"Iya, aku juga tidak tahu. Kalian tidak bilang-bilang si. Nanti aku belikan hadiah juga deh buat hari pernikahan kalian ini" ucap Putri Ajeng yang ikut menimpali.


Yara tersenyum mendengar itu. "Tidak perlu repit-repot Mbak, Ajeng. Do'a kalian yang terbaik untuk kami"


Dan malam ini mereka banyak berbincang dengan banyak canda tawa. Yara juga merasa bahagia meski dirinya memikirkan tentang dirinya yang masih belum juga mengalami datang bulan sampai saat ini. Ternyata efek dari pengobatan yang cukup membuat tubuhnya mengalami banyak perubahan. Bahkan hormon kesuburan tubuhnya masih belum bisa kembali normal seperti sebelumnya.


Setelah cukup lama disana, Fadil dan Yara segera berpamitan untuk pulang. Melihat suaminya yang begitu bahagia saat bermain dengan Sherin barusan. Sungguh membuat Yara sering merasa dirinya belum menjadi istri yang tidak sempurna.


"Sayang, hebat ya Putri Ajeng sudah bisa hamil saat usia pernikahan mereka saja baru beberapa bulan" ucap Yara, dia menatap pemandangan di luar jendela. Sama sekali tidak menoleh pada Fadil.


"Jangan mulai deh Sayang, kamu juga akan hamil. Tenang saja"

__ADS_1


Yara hanya tersenyum mendengar ucapan Fadil barusan. Dia juga sangat mengharapkan saat itu. Namun dia sedikit pesimis, karena sudah dua tahun lebih setelah dia menjalani operasi saat itu, namun dirinya bahkan belum mengalami datang bulan sampai saat ini. Dirinya sadar jika kesuburannya saja masih belum normal.


"Semoga saja ya"


Sesampainya di rumah, Yara dan Fadil segera masuk ke dalam kamar. Selesai mandi dan berganti pakaian, keduanya menghbiskan waktu dengan duduk santai di atas tempat tidur. Yara bersandar di atas dada suaminya, mendengarkan detak jantung suaminya yang sudah seperti irama penghantar tidur yang membuatnya nyaman.


"Sayang, kalau dulu kamu tidak cerai dengan Putri Ajeng, pasti sekarang kamu sudah mempunyai anak" ucap Yara tiba-tiba.


Entah kenapa dia jadi kepikiran tentang Ajeng yang sudah hamil lagi setelah menikah beberapa bulan saja. Membuat Yara berpikir kalau suaminya pasti akan sedikit menyesal karena sudah berpisah dengannya dan memilih Yara yang sampai saat ini masih belum bisa memberikan dia keturunan. Yara yang semakin tidak percaya diri dengan dirinya sendiri.


Fadil langsung melerai pelukannya, menjauhkan Yara dari tubuhnya dengan memegang lengannya. Fadil menatap Yara dengan lekat. "Kenapa kau berbicara seperti itu? Apa kau sedang menyesal karena kembali denganku yang sudah pernah menikah dengan Ajeng?"


Yara langsung menggeleng pelan, tentu saja dia tidak pernah merasa menyesal akan hal itu. Karena menikah dengan Fadil adalah mimpi terbesarnya sejak mereka berpacaran dulu.


"Aku hanya takut kamu merasa menyesal karena lebih memilih aku daripada Putri Ajeng yang jelas bisa lebih cepat mempunyai anak" lirih Yara.


Fadil menghembuskan nafas berat, entah harus bagaimana lagi dia membuat istrinya ini berhenti untuk berpikir yang tidak-tidak seperti saat ini. "Sayang, bisa tidak untuk berhenti berpikir hal yang hanya akan membuat kamu sedih dan kecewa dengan diri kamu sendiri. Kamu harus tahu kalau saat ini aku bahagia dengan kamu. Dan aku tidak akan pernah menyesal karena sudah menjadikan kamu istriku"


Yara hanya tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Tentu saja dia juga tidak akan pernah menyesal bisa menikah dengan Fadil. Namun Yara yang selalu merasa tidak bisa memberikan apa yang Fadil inginkan.


"Kamu tidak perlu memikirkan tentang seorang anak. Karena kita berdua saja sudah membuat aku bahagia" ucap Fadil sambil mengelus pipi istrinya dengan lembut.


Yara mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan Fadil barusan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2