
"Sayang sini duduk, kamu malah berdiri terus disitu"
Yara mengerjap, memang dia yang masih terkesima dengan suasana di ruangan ini. Merasa tidak percaya jika saat ini dia berada di dalam rumah yang benar-benar mewah hingga ada ruang menonton khusus. Jauh sekali dengan kehidupannya dan Fadil di masa lalu.
Masih berada di ruang menonton, dimana Yara yang duduk di samping Fadil. Dia menatap layar televisi besar di depannya yang sedang menayangkan film yang mereka tonton. Di atas meja ada cemilan dan juga minuman yang baru saja di antarkan oleh pelayan.
Yara terdiam dengan segala bayangan masa lalu, dimana suasana seperti ini juga pernah dia alami sebelumnya. Namun kenapa saat ini situasinya sangat canggung saat ini.
"Sayang, sini peluk"
Yara menoleh pada Fadil, dia melihat pria itu yang merentangkan tangannya, menginginkan Yara untuk masuk ke dalam pelukannya. Namun tentu saja Yara merasa ragu untuk itu, karena apa? Karena hubungan mereka yang saat ini sudah bukan siapa-siapa. Mungkin hanya pantas disebut sebagai teman.
"Kenapa?" Wajah Fadil langsung berubah sendu saat Yara bahkan tidak mau memeluknya lagi.
"Tidak papa, aku hanya ingin bersandar saja" Yara yang mencoba mencari alasan dengan langsung bersandar di sofa bed itu.
Seolah tidak kehabisan cara, Fadil malah merebahka keapalanya di atas pangkuan Yara. Menatap wajah Yara dari bawah dengan tersenyum. Meski wajah yang dulu gembil dan sangat chubby. Namun sekarang dia malah terlihat begitu tirus dengan wajah yang pucat. Lingkaran hitam di sekitar matanya membuat Fadil hampir tidak menyangka jika dia adalah Yara yang gendut.
Fadil meraih tangan Yara, mengecupnya dengan lembut. Tangan yang kini hanya terlhat kulit dan tulangnya saja. Fadil menaruh tangan itu di dadanya, mendekap tangan itu dengan lembut.
"Aku bahagia bisa bersama kamu lagi seperti ini"
Yara tidak menjawab, bukan karena dirinya yang sedang fokus pada layar lebar di depannya. Tapi memang dia yang tidak bisa menanggapi ucapan Fadil itu.
"Sayangku. kamu semakin cantik"
Yara terkekeh lucu mendengar itu, tentu saja dia tidak percaya dengan ucapan Fadil itu. "Aku kurus begini, kamu bilang cantik ya? Mungkin karena aku yang gendut jadi kamu lebih memilih Putri Ajeng yng tubuhnya jelas sangat cantik dan indah"
"Sayang plis, jangan terus membahas tentang itu"
__ADS_1
Yara hanya tersenyum, dia kembali fokus pada layar besar di depannya. Mencoba untuk tidak memperdulikan Fadil yang tiduran di atas pangkuannya.
"Fadil, nanti kalau aku sudah lebih baik aku akan mencari tempat tinggal sendiri. Aku masih mempunyai tabungan dari sisa pengobatan"
Fadil langsung bangun, dia menatap Yara dengan tidak suka. "Memangnya kamu tidak suka tinggal disini bersama denganku?"
Yara menatap Fadil dengan tersenyum tipis, dia menghembuskan nafas pelan. "Kita sudah tidak mempunyai hubungan apapun selain teman. Aku tidak mau menyimpan harapan yang lebih padamu lagi"
Tidak menjawab apapun, Fadil langsung pergi dari hadapan Yara. Membuat Yara sedikit terkejut. "Tidak papa kalau dia marah, karena memang aku tidak ingin menjadi beban untuknya"
Yara mematikan layar di depannya, lalu dia segera menuju kamarnya. Yara masuk ke dalam kamar, duduk di atas tempat tidur. Menatap ke sekeliling ruangan ini yang begitu luas. Yara tidak menyangka kalau dirinya bisa tinggal di rumah ini. Rumah yang pernah menjadi tempat impian dan tujuan dari cerita hidupnya dan Fadl. Namun ternyata kenyataan tidak seindah angan-angan yang di ciptakan.
Suara deruman mesin mobil membuat Yara turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah jendela. Membuka tirai jendela dan menatap mobil Fadil yang keluar dari gerbang rumah ini. Dalam hatinya mempertanyakan kemana Fadil akan pergi di hari yang sudah malam.
"Kemana Fadil pergi? Apa dia memang sangat marah padaku sampai harus pergi dari rumah ini ya"
######
"Jadi bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Fadil yang langsung to the point.
Dokter membuka berkas di depannya, semua riwayat pengobatan Yara dan perkembangan penyakitnya ada disana.
"Sepertinya dia harus menjalani Radioterapi selanjutnya. Atau menjalani kemoterapi dengan dosis yang lebih tinggi. Karena memang sekarang tinggal cara menyembuhkan kanker yang menyebar di tubuhnya. Untuk saat ini masalah ginjalnya yang sudah teratasi, maka tinggal melakukan pengobatan ini"
"Apa operasi waktu itu tidak bisa dengan penyembuhan kanker itu?"
"Kami sudah mengambil pusat pertama kanker itu, tapi karena penyakitnya yang sudah menyebar hampir ke seluruh tubuh. Beruntung karena belum sampai ke otak. Jadi Yara masih mempunyai kesempatan untuk sembuh sekarang dengan melakukan pengobatan itu"
Tidak ada pilihan lain, maka Fadil hanya harus menyetujui semua proses pengobatan yang Dokter anjurkan padanya. Fadil tidak bisa melihat Yara yang seolah sudah menyerah dan tidak mempunyai tujuan hidup lagi.
__ADS_1
Saat ini Fadil hanya ingin memperjuangkan kesembuhan Yara. Dia harus memberikan Yara kesembuhan dan kehidupan yang bahagia di selanjutnya.
"Kamu pasti bisa bertahan Sayang, aku yakin itu"
Fadil kembali ke rumah, dia langsung membersihkan tubuhnya dan tidur. Malam ini dia sengaja untuk tidak tidur di kamar yang sama dengan Yara. Karena Fadil tahu jika Yara yang masih menjaga jarak dengannya.
Dan ketika pagi ini dia terbangun, dia langsung mandi dan ingin menemui Yara di kamarnya. Namun ketika Fadil masuk ke dalam kamar Yara, dia melihat gadis itu yang sedang meringkuk di atas tempat tidur dengan hidung yang mengeluarkan darah dan terdengar ringisan pelan.
"Sayang, kamu kenapa?"
Fadil langsung berlari menghampirinya, dia naik ke atas tempat tidur dan mengecek keadaan Yara. Fadil memangku kepala Yara di atas pangkuannya.
"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang ya"
Mata Yara terbuka perlahan, menatap wajah Fadil yang terlihat samar. Tangan lemahnya perlahan terangkat dan menyentuh pipi Fadil.
"Tidak usah, aku rasa memang sudah saatnya aku menyerah dan pergi dari dunia ini"
Fadil mengeleng cepat dengan air mata yang menetes begitu jatuh, air matanya berjatuhan di atas wajah Yara. "Enggak Sayang, kamu pasti baik-baik saja. Kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia bersama ya"
Nafas Yara yang mulai tidak beraturan, nafasnya yang mulai berat. "Fa-Fadil, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu"
"Iya Sayang, aku tahu itu. Aku juga sangat mencintai kamu. Kita ke rumah sakit sekarang ya"
Yara menggeleng pelan, dia tersenyum dengan matanya yang mulai terpejam dan nafasnya yang semakin terdengar berat. Tangan Yara yang memegang pipi Fadil langsung lunglai dan jatuh begitu saja seiring dengan hembusan nafas panjangnya.
"Tidak! YARAAA...." Fadil berteriak dengan kencang sambil memeluk kepala Yara di dadanya.
"Tidak Sayang, ayo bangun dan buka matamu. Aku akan menjagamu dan tidak akan membiarkan kamu pergi begitu saja. Ayo bangun, Yara. Kesayanganku.."
__ADS_1
Bersambung