Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
Pasti Akan Sembuh


__ADS_3

Setelah membayar makanan, Fadil kembali menggendong Yara dan membawanya ke dalam mobil.  Membuat orang-orang yang melihat adegan itu langsung menahan nafas karena merasa sesak sendiri dengan keromantisan yang Fadil lakukan di tempat umum.


"Sayang, kamu ngapain si lakuin kayak tadi. Aku 'kan malu sama orang-orang disana" kesal Yara saat mereka sudah berada dalam perjalanan pulang.


"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya sedang memperhatikan calon istriku ini. Memangnya salah?"


"Ya tidak salah juga, tapi itu 'kan di tempat umum. Masa kamu pake gendong aku segala, padahal aku bisa jalan loh"


Fadil menoleh sekilas pada Yara dengan matanya yang menyipit tajam. "Memangnya tidak sakit kalau kamu paksain jalan?"


"Ya, sakit sedikit..."


"Yaudah, kalau sakit nurut saja sama aku"


Masih dalam perjalanan pulang, Yara lebih banyak diam. Dia mengingat kalau sebentar lagi dia akan mejalani pengobatan yang mungkin akan lebih menyakitkan.


"Sayang, kamu kok diam saja?"


Yara menoleh dan tersenyum pada Fadil. Dia menggeleng pelan. "Tidak papa, hanya kenyang saja habis makan"


Fadil mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Sayang, kamu senang ya bisa makan disana. Syukur deh kalau kamu bisa makan sampai kenyang hari ini"


Yara mengangguk dan tersenyum, dia menyandarkan kepalanya di lengan Fadil yang sedang mengemudi. "Fadil, kalau misalkan nanti aku tidak sem.."


"Kamu akan sembuh, kamu harus yakin tentang itu. Jangan membuat perjuangan kamu sia-sia dan harapan aku hancur"


Yara terdiam, dia tidak menjawab apapun lagi karena memang dia juga bingung harus menjawab apa. Perjuangannya selama ini yang Yara sendiri tidak tahu hasilnya akan seperti apa. Entah mungkin akan berhasil atau tidak.


Mobil terparkir di pekarangan rumah, Fadil meoleh pada Yara yang masih saja diam dengan tatapan yang menerawang.

__ADS_1


"Sudah, jangan pikirkan apapun. Sekarang ayo kita turun"


Yara mengangguk, dia turun lebih dulu dari Fadil karena tidak mau Fadil sampai menggendongnya lagi, padahal dia masih kuat untuk berjalan.


"Sayang, aku gendong ya"


"Tidak usah, aku masih bisa jalan kok. Kamu tenang saja"


Fadil hanya menghela nafas pelan, dia menuntun Yara untuk berjalan masuk ke dalam rumah. Yara memang bisa berjalan, hanya sedikit terpincang saja. Fadil membawa Yara ke dalam kamar.


"Kamu mandi dulu ya, biar aku bantu"


Yara menggeleng pelan, dia memegang tangan Fadil dan menatapnya dengan lekat. "Aku bisa sendiri, lagian kita belum menikah. Jadi jangan melakukan dosa lagi Fadil. Mungkin apa yang aku alami ini adalah karma Tuhan setelah apa yang aku lakukan selama ini. Dosa yang aku perbuat bersama kamu"


Fadil tersenyum, dia mengecup kening Yara dengan lembut. Tentu saja dia mengerti apa maksud Yara barusan. "Ya, aku tahu apa yang aku lakukan dulu memang salah. Yaudah, sekarang kamu mandi sendiri. Tapi hati-hati ya, kalau butuh bantuan langsung panggil aku. Aku akan menunggu kamu disini"


Yara menganguk, dia berjalan ke kamar mandi dengan sedikit terpincang-pincang. Sementara Fadil menunggu di dalam kamar. Duduk di atas sofa dengan ponsel di tangannya.


Plak..Plak...


Dua kali tamparan mengenai wajah Putri Ajeng. Sarah yang baru saja mengetahui apa yang telah adiknya lakukan pada Yara benar-benar membuat dia murka.


"Apalagi yang akan kamu lakukan demi obsesi kamu itu, Ajeng? Apa kamu akan sampai membunuh orang untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginan kamu itu?"


"Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang sudah menjadi milikku"


Sarah menggeleng tidak percaya dengan ucapan adiknya barusan. "Apa yang sudah menjadi milkmu? Sadar Putri Ajeng, sejak awal Fadil itu memang bukan milik kamu. Tapi milik Yara, jadi wajar saja kalau sekarang dia memilih kembali pada Yara. Karena sejak awal, kamu hanya sebatas persinggahan kebosanannya saja. Karena cintanya yang sesungguhnya hanya untuk Yara. Faham!"


"Sudah cukup! Kalian ini kenapa tidak ada bosannya untuk terus berantem setiap hari..." Bimo yang mencoba melerai perdebatan kedua putrinya ini. Dia menatap ke arah Sarah. "...Dan kamu Sarah, sebagai Kakaknya seharusnya kamu mengalah. Kamu harusnya mendukung adik kamu yang sedang ingin mendapatkan cintanya, bukan malah mendukung orang lain"

__ADS_1


Hah...


Sarah menghela nafas berat, sudah terbiasa dengan Ayahnya yang selalu membela Putri Ajeng dalam hal apapun. Tidak peduli jika hal yang dilakukannya memang salah.


"Inilah yang membuat Ajeng tidak bisa dewasa sampai sekarang. Harusnya Papi membuat Ajeng bisa berpikir dewasa. Bukan terus membiarkan Ajeng melakukan kemauannya. Karena tidak semua yang dia inginkan harus selalu dia dapatkan"


"Papi tahu itu, tapi kamu sebagai Kakaknya harus bisa mendampingi adik kamu. Bukan marah pada adik kamu seperti ini"


Sarah lagi-lagi hanya menghembuskan nafas kasar. "Terserah Papi saja, karena apapun yang aku lakukan tidak pernah benar dalam pandangan Papi"


"Sarah, kamu mau kemana? Putri Sarah!"


Sarah tidak menghiraukan teriakan Ayahnya, dia terus berjalan keluar rumah dengan menyambar kunci mobil di atas meja. Saat ini dia harus pergi dan menenangkan diri. Tidak mau terus berada di rumah dengan keadaan yang kacau seperti ini.


Sarah membenturkan kepalanya pada kemudi. Kesal dengan dirinya sendiri dan keadaan di sekitarnya. "Aku sudah melakukan banyak hal, tapi tetap tidak pernah membuat Papi bangga sedikit pun padaku. Apa salah aku sebenarnya? Apa karena aku anak pertama? Jadi di tuntut harus kuat dalam segala hal"


Sarah melajukan mobilnya tanpa arah tujuan. Dia hanya sedang ingin mempunyai waktu sendiri untuk menenangkan diri dan pikirannya ini. Berhenti di sebuah taman kota. Sarah hanya duduk diam di sebuah bangku taman yang dekat dengan kolam ikan yang ada disana.


Di sisi lain, Keanu yang baru saja keluar dari Restaurant di sebrang taman ini. Dengan tidak sengaja melihat Sarah yang duduk sendirian di taman. Seolah banyak sekali kebetulan yang mempertemukan mereka berdua akhir-akhir ini.


Keanu berdiri di balik pohon yang tidak jauh darisana. Sengaja melihat  dan ingin mendengarkan apa yang Sarah lakukan dan bicarakan disana. Bertemu dengan Sarah beberapa kali terakhir, membuat Keanu yakin jika Sarah memang sedang memiliki masalah dalam hidupnya. Terlihat dari beberapa kali tingkah Sarah yang sedikit berbeda dari biasanya.


"Seandainya Mami masih ada, mungkin Sarah tidak akan sendirian seperti ini. Karena hanya Mami yang mengerti Sarah dan selalu membela Sarah"


Keanu jelas mendengar suara isak tangis dari wanita itu. Membuat dia semakin yakin jika Sarah memang sedang ada masalah.


"Tidak perlu menangis, semua orang pasti mempunyai masalahnya masing-masing"


Deg..

__ADS_1


Sarah langsung menoleh dan melihat Keanu yang muncul dari balik pohon. Sarah langsung menghapus air matanya karena dia tidak mau sampai orang lain lihat keadaannya yang sedang lemah.


Bersambung


__ADS_2