
Fadil menghela nafas pelan, meski sedikit kecewa namun akhirnya dia hanya mengangguk saja. Karena tidak mungkin juga dia memkasa istrinya itu yang jelas belum siap untuk melakukannya. Fadil ingat bagaimana dengan perjuangan Yara untuk melahirkan anaknya, jadi dia tidak mungkin memaksa Yara untuk hal seperti ini. Karena perjuangan istrinya itu tidak akan pernah terbayarkan oleh apapun.
"Sekarang ayo bangun, aku siapkan air untuk mandi ya. Kamu makan dulu sarapannya" ucap Yara.
Fadil mengangguk, dia bangun dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Tentunya kurang tidur membuatnya sedikit lemas dan malas untuk bekerja. Tapi Fadil tetap harus memenuhi tanggung jawabnya.
"Aku buatkan sup untuk kamu, dimakan ya agar tubuh kamu lebih baik dan semangat untuk kerja" ucap Yara.
"Terima kasih Sayang"
Yara hanya mengangguk saja, dia langsung berlalu ke ruang ganti untuk menyiapkan perlengkapan mandi suaminya dan juga pakaian kerjanya.
Sementara Fadil menikmati sup hangat yang dibuatkan oleh istrinya. Benar-benar terasa nyaman dan hangat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Fadil tersenyum saat melihat anaknya yang sudah cantik, tapi malah terlelap di dalam box bayi itu.
"Princeess Ayah masih tidur ya, padahal sudah cantik begitu" gumamnya pelan.
Sampai saat ini masih sedikit tidak menyangka kalau ternyata hari ini Fadil sudah menjadi seorang Ayah. Memiliki seorang anak cantik seperti Kayra dan istri yang begitu penuh perhatian dan tulus, tentu saja adalah hal yang Fadil syukuri sampai saat ini. Jika saja Yara bukan wanita yang berlapang dada dan pemaaf, mungkin Fadil tidak akan pernah bisa sampai menikah dengannya.
"Aku mencintai kalian, dan kalian berdua adalah yang sumber kebahagiaan dalam hidupku"
******
Hari ini Fadil lewati dengan begitu melelahkan, sampai ke rumah dia langsung menjatuhkan tubuhnya dia atas sofa di ruang tengah. Tubuhnya terasa sangat lelah, Fadil memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan lelah di tubuh dan pikirannya.
__ADS_1
Yara yang baru saja turun ke lantai bawah, melihat suaminya yang tertidur di atas sofa dengan pakaian kantor yang masih belum dia lepas. Bahkan kaos kakinya saja masih belum terlepas.
Yara menghela nafas pelan, dia berjalan menghampirinya. Berlutut di depan Fadil yang tertidur di atas sofa, membuka kaos kaki dan juga dasi yang terpasang di tubuh Fadil. Pastinya dia sangat gerah dan tidak nyaman dengan pakaian Kantor yang masih menempel pada tubuhnya. Namun rasa lelah membuat dia tidak bisa menahan lagi, bahkan hanya untuk mengganti pakaiannya.
"Kasihan sekali Sayangnya aku, pasti dia sangat kelelahan"
Yara mengelus kepala Fadil, lalu memberikan kecupan di keningnya. Membiarkan suaminya tertidur dengan nyaman, pastinya dia sangat kelelahan dengan kegiatan akhir-akhir ini. Tentu saja, setelah menjadi seorang Ayah, maka dia mempunyai pekerjaan yang double. Membantu istrinya merawat anak dan juga pekerjaan di Kantor yang tidak akan bisa di tinggalkan.
Entah pukul berapa, tapi Fadil benar-benar baru bangun dan dia baru tersadar kalau dia ternyata tertidur di sofa. Saat dia bangun, dia melihat istrinya yang sedang menyusui anaknya di sofa tunggal yang berada disana. Fadil langsung bangun dan duduk di atas sofa, melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ya ampun Sayang, kenapa tidak membangunkan aku. Lama sekali aku tidur" ucap Fadil.
Yara hanya tersenyum mendengar itu, dia menatap wajah suaminya yang tampak lebih baik setelah dia tertidur cukup lelap di sofa. "Kamu kelihatan sangat lelap, aku tidak tega untuk membangunkanmu. Jadi aku membiarkan saja kamu tidur dengan nyenyak"
"Terima kasih ya, Sayang"
Yara hanya tersenyum saja.
*******
Yara yang merasa hawa panas dari suaminya yang memeluknya itu, langsung terbangun seketika. Dia melihat Fadil yang menggigil dengan terus memeluknya erat. Yara mengelus pipi Fadil dan dia merasakan suhu panas dari tubuhnya itu.
"Sayang, ya ampun kamu demam"
__ADS_1
Yara langsung bangun dan melihat suaminya yang begitu menggigil. Yara langsung turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar. Menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Yara meminta bantuan Mbak pelayan untuk memanggilkan Dokter dan juga membuatkan sarapan untuk suaminya.
"Tolong bikinkan bubur saja ya, Mbak"
Yara segera kembali ke kamar dengan membawa kompresan. Dia mencoba meredakan demam Fadil dengan mengompresnya sebelum Dokter datang. Fadil hanya bergumam pelan, sama sekali tidak membuka matanya karena tubuhnya yang terasa sangat lemas dan kepalanya yang pastinya juga terasa sangat berat.
"Kamu pasti terlalu kecapean, jadi seperti ini sekarang. Kenapa juga kamu tidak pernah mendengarkan ucapanku untuk lebih menjaga kesehatan"
Yara jadi mengomel sendiri karena kesal dan juga khawatir dengan keadaan suaminya ini. Fadil yang memang terlalu kelelahan akhir-akhir ini. Yara melirik anaknya yang masih terlelap di dalam box bayi. Beruntung karena Kayra tidak rewel, mungkin dia mengerti jika Ayahnya sedang sakit dan membutuhkan Ibunya saat ini.
Tangan Fadil meraih tangan Yara dan menggenggamnya di atas dada. Dia mengecup sekilas tangan itu. "Jangan pergi, aku ingin kamu selalu bersamaku selamanya"
Yara menghela nafas pelan, dia mengerti jika Fadil selalu mengatakan hal itu karena dia takut jika Yara akan meninggalkannya. Padahal sudah jelas jika Yara tidak mungkin melakukannya. Dia saja belum tentu bisa hidup tanpa bersama Fadil seperti ini.
"Sayang, aku tidak akan kemana-mana. Aku akan selalu bersama denganmu. Sekarang kamu harus sembuh, dan jangan terus bekerja terlalu keras. Sekarang jadi sakit seperti ini 'kan" ucap Yara.
Perlahan mata Fadil mulai terbuka, dia tersenyum dengan bibirnya yang pucat saat melihat istrinya itu. "Aku tidak papa kok, ini hanya demam biasa saja. Minum obat penurun demam akan segera sembuh"
Yara berdecak kesal mendengar ucapan Fadil barusan. "Seharusnya kamu sadar kalau keadaan kamu yang sekarang ini, karena kamu terlalu lelah bekerja. Sekarang diam di rumah, kamu jangan bekerja dulu sampai benar-benar sembuh"
Fadil mencoba bangun dan tentu saja Yara langsung membantunya. Menempatkan bantal di belakang tubuh Fadil agar dia lebih nyaman. Fadil menggenggam tangan istrinya dengan lembut.
"Aku sedang ada proyek besar yang memang harus selesai dalam waktu cepat untuk anggaran dana dan proposalnya. Jadi aku harus segera menyelesaikannya sebelum pembangunan berjalan" ucap Fadil, menjelaskan kenapa akhir-akhir ini dia harus benar-benar bekerja dengan sedikit keras.
__ADS_1
Bersambung