Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
Kenapa Seperti Ini?


__ADS_3

Pagi ini Yara terbangun dengan suasana hati yang sebenarnya tidak baik-baik saja. Apalagi ketika dia melihat suaminya yang malah tidur di atas sofa, tentu Yara berpikir jika Fadil memang tidak ingin lagi tidur bersamanya. Di atas ranjang yang sama.


Yara turun dari atas tempat tidur, berjalan perlahan ke arah sofa. Dia berlutut di atas lantai, menatap wajah suaminya yang terlelap begitu tenang. Yara mengelus lembut pipi suaminya itu.


"Emmh"


Fadil menggeliat pelan, dia tersenyum ketika melihat istrinya. Fadil langsung bangun dan terduduk di atas sofa itu. "Sayang duduk di lantai si, dingin. Berdiri dan duduk disini"


Yara berdiri dan duduk di samping suaminya itu. Menatap wajah Fadil yang terlihat lelah, Yara mengelus tangan Fadil yang berada di sampingnya.


"Kamu kenapa tidur di sofa?"


Fadil menoleh, dia meraih kepala istrinya dan membawanya masuk ke dalam pelukannya. Mengecup puncak kepala Yara beberapa kali. "Aku menyelesaikan pekerjaan semalam, dan malah ketiduran disini"


Yara mengangguk mengerti, dia mencoba untuk menghilangkan kegelisahan dalam hatinya tentang suaminya. Yara yakin jika Fadil tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama. Suaminya telah berjanji untuk itu.


"Nanti malam aku pulang telat ya, ada urusan sebentar"


"Mau kemana memangnya?"


Yara bertanya seperti itu karena selama ini Fadil tidak pernah pulang terlambat karena dia selalu mengkhawatirkan keadaan Yara di rumah. Jadi saat ini Yara merasa heran dengan Fadil yang tiba-tiba izin untuk pulang terlambat.


"Putri Ajeng ajak aku ketemu, jadi aku tidak bisa menolak. Katanya Sherin sakit selama dia membawa anak itu pindah dan untuk tinggal di kota ini"


Deg..


Jawaban Fadil benar-benar tidak seperti yang Yara duga. Putri Ajeng? Mantan istrinya yang bersama Fadil juga saat di acara Sarah. Yara melepaskan tubuhnya dari pelukan Fadil, namun dia mencoba untuk terlihat biasa saja.


"Yaudah, kalau begitu aku ke kamar mandi dulu ya"


Yara berlalu ke ruang ganti dengan perasaan yang begitu sesak. Nyatanya dia tidak bisa bersikap baik-baik saja. Hatinya tetap sakit dan takut jika Fadil akan kembali mengkhianatinya.


Ya Tuhan, kenapa seperti ini?


Yara masuk ke kamar mandi dan memilih untuk berendam dengan air hangat agar dia bisa lebih tenang dari segala pemikiran buruknya.


Sementara di dalam kamar, Fadil hanya tersenyum melihat sikap Yara itu. "Maaf Sayang, tapi memang aku harus melakukan ini"

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Yara keluar dari ruang ganti dan tidak menemukan keberadaan suaminya. Namun Yara melihat sebuah kertas kecil di atas sofa yang di tempati oleh Fadil tadi.


Aku mandi di kamar sebelah, aku harus segera pergi ke Kantor. Kamu baik-baik di rumah ya Sayang.


Yara terdiam melihat tulisan dalam kertas kecil itu. Tidak biasanya Fadil seperti ini, membuat Yara semakin bingung dan curiga dengan sikap suaminya ini.


"Sudahlah Yara, mungkin memang suami kamu itu ada pekerjaan mendadak, hingga dia harus datang lebih pagi"


Yara hanya mencoba untuk tetap berpikir positif pada sikap suaminya ini. Yara hanya tidak mau menaruh curiga yang berlebih pada Fadil.


######


"Terus aku harus ngapain disini sekarang? Kalian ini memang benar-benar ya, padahal aku masih ingin di rumah tadi"


"Udah si, jangan marah-marah kalau memang mau rencana ini berjalan lancar"


Fadil hanya menghela nafas pelan, dia tidak bisa menolak juga apa perkataan dari orang-orang yang terlibat dalam rencana dia ini.


"Terus gimana untuk nanti malam?"


"Semuanya beres, kamu hanya perlu mengikuti isntruksi kita saja"


Fadil mengerjakan beberapa pekerjaan hari ini hingga hari menjelang malam. Barulah dia pulang, dan ternyata memang Putri Ajeng sudah berada disana bersama dengan Sherin.


"Hai, Sherin ayo sini sama Ayah Nak"


Putri Ajeng tersenyum karena Fadil yang mau menyebut dirinya sebagai Ayah dari Sherin. Meski sebenarnya Sherin bukanlah anaknya.


"Sudah selesai kerjanya? Bisa kita berangkat sekarang saja?"


Fadil mengangguk, dia berjalan keluar perusahaan bersama dengan Putri Ajeng. Fadil menggendong Sherin yang terlihat mulai mengantuk.


"Dia ngantuk ya, emangnya kalian habis darimana?"


"Enggak kemana-mana si, tadi aku ajak dia jalan-jalan ke taman bermain. Sherin senang banget sampai dia berlarian kesana kemari"


Fadil tersenyum, dia menyerahkan kembali Sherin ke pangkuan Putri Ajeng, karena dia yang akan mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


"Kita berangkat sekarang?"


"Iya"


######


Yara terbangun entah pukul berapa sekarang, dia tertidur lebih awal hari ini. Hingga dia terbangun karena mendengar suara mobil suaminya di halaman rumah. Yara melirik jam dinding yang sudah menunjukan hampir tengah malam.


"Fadil benar-benar pulang sangat terlambat, sudah jam segini dan dia baru saja pulang. Memangnya apa saja yang dia lakukan bersama dengan Putri Ajeng"


Yara keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah untuk menyambut kedatangan suaminya. Namun ketika Fadil masuk ke dalam rumah, Yara tidak bisa menahan diri lagi saat melihat Fadil yang merangkul pinggang Putri Ajeng dan keduanya tersenyum dengan penuh kebahagiaan.


"Fadil..."


Rasanya Yara sampai tidak bisa berkata apapun lagi ketika melihat suaminya bersama dengan Putri Ajeng.


Fadil menoleh dan tersenyum pada Yara, dia berjalan menghampirinya. "Sayang, Putri Ajeng izin menginap sehari saja disini ya. Kasihan dia, ini sudah terlalu malam, jadi aku tidak bisa mengantarkan dia ke rumahnya"


Yara menggeleng tidak percaya dengan ucapan suaminya barusan. "Bisa-bisanya kamu masih bisa berbicara dengan santai begitu. Fadil, kamu ingat jika dia itu mantan istri kamu. Kenapa kamu harus berdekatan dengan dia, sementara kamu sudah menikah denganku. Apa kamu ingin menghancurkan lagi hubungan kita ini?"


"Memangnya kenapa si? Aku hanya bersikap baik saja padanya"


Yara tidak bisa lagi menahan air mata yang menetes begitu saja di pipinya. Dia tidak menyangka jika Fadil akan kembali mengulangi hal yang sama.


"Sepertinya memang aku sudah salah memilih kembali denganmu. Kalau memang kamu ingin kembali dengan Putri Ajeng, kamu bisa langsung ceraikan aku sekarang! Aku sadar jika aku memang tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk kamu. Tapi aku juga tidak siap jika harus berbagi cinta dengan orang lain"


Duar...Duar..


Suara kembang api di halaman rumahnya membuat Yara tertegun.


"Suprise...."


Yara tertegun ketika banyak orang yang tiba-tiba keluar dari persembunyian mereka. Bahkan para pelayan yang bekerja disana pun ikut memegang terompet dan meniupnya untuk memeriahkan acara ini.


"Kalian?"


Yara bingung dengan semua ini, apalagi ketika dia melihat Sarah yang membawakan kue dengan lilin yang menyala di atasnya. Dan Yara baru ingat jika besok hari adalah ulang tahunnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2