Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 44 (Perhatian Fadil)


__ADS_3

Fadil mengambil sesuatu dari dalam laci nakas di samping tempat tidur. Ternyata dia mengambil minyak gosok, lalu mengoleskan minyak itu ke kaki Yara dan memijatnya dengan lembut.


"Sayang, tidak perlu seperti ini" ucap Yara yang tidak enak ketika suaminya malah memijat kakinya.


"Sudah diam saja, aku hanya tidak tega melihat istriku kesakitan. Apalagi semua ini karena mengandung anakku, masa aku hanya diam saja" ucap Fadi yang terus melanjutkan kegiatannya itu.


Rasa hangat dari minyak gosok itu dan juga pijatan lembut tangan Fadil di kakinya, membuat Yara cukup nyaman. Rasa pegal di kakinya juga mulai menghilang karena pijatan dari suaminya ini.


Rasanya Yara begitu terharu dengan perlakuan Fadil selama dia hamil. Bagaimana Fadil yang begitu perhatian padanya, membuat Yara tidak pernah menyangka jika suaminya akan mempunyai sisi yang sangat perhatian seperti ini.


"Terima kasih ya Sayang, kamu sudah menjadi suami yang begitu baik untuk aku. Mungkin ketika nanti anak kita lahir, maka kamu akan menjadi Ayah idamannya" ucap Yara.


Fadil tersenyum, membayangkan bagaimana nanti anaknya yang akan menganggap dia sebagai Ayah terbaik di dunia ini. Karena seorang anak akan selalu mengangap Ayahnya sebagai Ayah terbaik dari yang lainnya.


"Tentu saja, aku akan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk kamu dan anak kita nanti"


Yara mengangguk, dia percaya dengan ucapan suaminya. Karena sudah mulai terlihat bagaimana Fadil yang begitu perhatian padanya yang sedang hamil. Bahkan Yara tidak menyangka jika Fadil akan mempunyai sisi yang begitu lembut dan penuh dengan perhatian seperti ini.


"Sekarang kita mandi bersama ya, aku siapkan dulu airnya. Kamu diam saja disini" ucap Fadil yang langsung turun dari atas tempat tidur.


Yara hanya tersenyum saja, dia menatap punggung Fadil yang berjalan menuju ruang ganti. Yara bermaksud ingin mengikutinya, dia sudah menurunkan kedua kakinya ke atas lantai, namun teriakan Fadil yang baru akan masuk ke ruang ganti, membuat Yara langsung menghentikannya.


"Diam di tempat tidur Sayang, nanti aku akan menjemputmu kesini kalau sudah selesai menyiapkan air"


Akhirnya Yara hanya menurut saja, dia duduk diam di atas tempat tidur dan tidak jadi turun karena suaminya melarang.

__ADS_1


Berendam di dalam bak mandi dengan air hangat dan juga aromaterapi yang tercium cukup menenangkan. Tangan Fadil terus mengelus perut buncit Yara, tendangan-tendangan kecil dari dalam perut istrinya ini selalu membuat Fadil bahagia.


"Dia sangat aktif ya Sayang, apa tidak sakit saat dia menendang seperti ini?" tanya Fadil.


"Tentu saja tidak, mungkin hanya sedikit kram saja kalau tendangannya memang cukup kuat. Tapi hanya sesaat saja"


Fadil menyandarkan dagunya di bahu Yara. "Kenapa tidak pernah bilang kalau kau kram saat di tendang si bayi?"


"Tidak kok, hanya waktu itu saja sekali. Selebihnya baik-baik saja. Kamu tenang saja karena semuanya baik-baik saja" ucap Yara.


Dan Fadil hanya tersenyum, dia mengecup pipi chubby Yara beberapa kali dengan gemas.


Akhirnya  waktu yang di tunggu-tunggu selama ini terjadi juga. Bagaimana Fadil yang harus di buat panik di pagi hari ketika melihat ketuban istrinya yang sudah pecah. Apalagi ketika melihat Yara yang begitu kesakitan.


Tapi yang dirasakan saat ini sungguh berbeda, Fadil benar-benar dibuat sangat panik. Melihat istrinya yang terus meringis kesakitan. Dia hanya bisa menggenggam tangan Yara untuk sekedar menyadarkannya agar bisa lebih kuat.


"Ini kenapa lama sekali si, Dokter kenapa lama sekali" teriak Fadil yang sudah tidak tahan melihat keadaan Yara yang terlihat lemah.


"Kita tunggu sampai pembukaannya maksimal, Tuan. Kasihan juga pada ibu jika harus di paksa keluar sebelum pembukaan full" ucap Dokter.


Fadil hanya menghela nafas pelan, dia bahkan bingung harus bagaimana ketika melihat Yara yang terus kesakitan. Bahkan air matanya sampai keluar.


"Sayang, kuat ya. Demi anak kita" ucap Fadil, dia mengelus kepala Yara dengan lembut.


Yara hanya tersenyum lembut, meski rasa sakit yang luar biasa ini cukup membuatnya tidak tahan. "Aku tidak papa, aku akan selalu berjuang untuk bisa melahirkan anak kita dengan sehat dan selamat"

__ADS_1


Fadil mengusap air mata Yara yang menetes begitu saja. Tentu saja melihat istrinya seperti ini, membuat Fadil tidak tega dengan kesakitan Yara.


Jika saja bisa ditukar, mungkin lebih baik dia yang merasakan sakitnya. Melihat kembali istrinya yang kesakitan seperti ini, sungguh mengingatkan kembali Fadil pada kejadian masa lalu. Dimana dia menemani Yara menjalani pengobatan yang begitu menyakitkan baginya. Saat itu dalam pikiran Fadil hanya tentang Yara yang mungkin saja akan meninggalkannya.


"Sayang, kenapa menangis?" Yara mengusap air mata di pipi Fadil, sedikit terkejut melihat suaminya yang tiba-tiba meneteskan air mata seperti itu.


Fadil menggeleng pelan, bahkan dia juga tidak mengerti dan tidak tahu harus melakukan apapun saat ini. Melihat istrinya yang begitu kesakitan sungguh membuatnya begitu terluka sampai tidak tahu harus melakukan apa saat ini.


"Aku hanya takut..." Fadil menatap Yara dengan mata berkaca-kaca. Mengangkat tangan mereka yang saling menggenggam, lalu mengecup bagian punggung tanganYara. "...Kamu harus baik-baik saja ya. Apapun yang terjadi, kamu harus tetap bersamaku. Selamanya"


Yara tersenyum tipis, meski rasa sakit yang semakin menjadi. Mengelus pipi Fadil dengan lembut. Yara mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Fadil saat ini. "Semuanya akan baik-baik saja, kamu tenang saja. Aku sudah berjanji akan berjuang untuk anak kita ini"


Fadil menggeleng pelan, dia mengelus pipi Yara dengan lembut. "Kau juga harus berjuang untukku agar kau bisa tetap bertahan denganku"


"Tentu saja, aku juga akan tetap bertahan bersamamu"


Dan satu jam kemudian, barulah Yara dibawa ke ruang bersali. Disini perjuangan seorang Ibu baru dimulai sebenarnya. Karena dia yang harus mengeluarkan sisa tenaganya untuk melahirkan anaknya dengan sehat dan selamat.


Fadil terus berada disamping Yara, menggenggam tangan istrinya itu dengan erat. "Kamu pasti bisa Sayang, aku yakin kamu pasti kuat. Demi aku dan anak kita"


Dengan mengikuti arahan dari Dokter, Yara terus mendorong dengan sekuat tenaganya. Mengerahkan semua sisa tenaganya hanya untuk bisa mengeluarkan anak mereka. Dalam ingatan Yara tiba-tiba terlintas tentang perjuangannya selama ini untuk bisa sampai di titik ini.


Awal pertemuannya dengan Fadil, hingga mereka pacaran dan sebuah kisah rumit terjadi ketika Fadil memutuskan untuk berkhianat. Dan akhirnya mereka tetap bisa kembali bersatu, meski dengan begitu banyak rintangan. Dan akhirnya Yara bisa menjadi istri yang sempurna untuk suaminya. Sekarang dia tinggal belajar untuk menjadi Ibu yang baik untuk anaknya ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2