Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
Ketertarikan Keanu


__ADS_3

Fadil kembali ke Apartemennya, ketika dia masuk dia merasa ada suasana yang beberda. Merasa ada yang hilang dari Apartemennya ini. Entah kenapa Fadil merasa jika banyak kenangan yang hiang. Fadil merasa suasana yang sepi dan hampa.Dia duduk diatas sofa dengan kedua tangan menutupi wajahnya, bayangan saat-saat bersama Yara langsung terlintas di ingatannya.


"Apa aku sudah mengambil keputusan yang benar?"


Tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul dalam ingatan Fadil. Namun Fadil merasa sangat yakin jika Ajeng adalah jodohnya. Tapi ternyata hatinya tetap tidak seyakin itu dengan keputusan yang telah dia ambil.


Fadil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan mata terpejam. Dia sedang mencoba meyakinkan diri untuk menikahi Ajeng dan meninggalkan Yara adalah keputusan yang benar.


Pagi ini Fadil pergi ke rumah Ajeng, dia sudah ambil cuti bekerja untuk menyiapkan pernikahannya yang untuk sebentar lagi. Melihat kedatangan kekasihnya tentu membuat Ajeng tersenyum bahagia.


"Honey, ayo kita berangkat. Hari ini fitting terakhir baju pernikahan kita"


Fadil mengangguk, dia mencium keninga Ajeng dan membawanya ke mobil. Fadil masuk ke dalam mobil  bersama Ajeng. Melajukan mobilnya menuju butik yang menjadi tempat untuk menyiapkan gaun pengantin.


Ketika mereka sampai disana, Yara langsung mencoba gaun pengantinnya. Melihat itu Fadil tersenyum dan merasa lebih yakin jika menikahi Ajeng adalah keputusan yang benar. Selain karena kariernya yang semakin bagus dan juga dia yang akan hidup bahagia bersama dengan Putri Ajeng.


"Bagaimana Honey? Apa bagus?"


Fadil mengangguk, dia memeluk Ajeng dari belakang dan mengecup bahunya lembut. "Sangat cantik"


Ajeng tersenyum mendengar itu, akhirnya dia bisa mendapatkan pria yang dia sukai. "Sekarang kita pulang, atau mau kemana dulu? Oh ya bagaimana hubungan kamu dengan pacarmu?"


"Sudah berakhir, kau tenang saja, aku tetap akan menikahimu apapun yang terjadi"


"Iyalah, kamu juga sudah meniduriku masa tidak mau meikahiku"


Deg..


Fadil terdiam mendengar ucapan itu, dia merasa bersalah karena sebenarnya dia juga sudah melakukan hal yang lebih dari itu pada Yara. Namun gadis itu sama sekali tidak menuntut apapun padanya.


Sudahlah, dia juga tidak menuntut apapun. Mungkin memang Yara tidak membutuhkan tanggung jawab apapun dariku.


Ego Fadil ternyata lebih tinggi daripada rasa bersalahnya. Mau bagaimana pun dia tetap mempunyai rasa bersalah dalam hatinya. Namun semua itu tertutup oleh egonya yang terlalu tinggi.


Yara tetap bekerja meski dengan keadaan fikirannya yang tidak baik-baik saja. Namun dia hanya ingin membuat dirinya sibuk dan tidak terus memikirkan tentang Fadil yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih barunya.

__ADS_1


"Yara sepertinya lusa kantor tutup dulu deh"


Yara langsung mendongak dan menatap pada atasannya itu. "Loh kenapa Kak? Apa ada masalah?"


"Tidak bukan itu tapi adik saya menikah hari itu. Kamu datang ya, nanti kartu undangannya nyusul"


"Lusa ya? Sepertinya saya tidak bisa Kak, saya juga harus menghadiri acara perniakahan"


"Ohh begitu ya, baiklah.Lanjutkan pekerjaanmu"


"Baik Kak"


Yara kembali melanjutkan pekerjaan, dia menyibukan dirinya hanya untuk melupakan hal yang membuatnya terluka. Pernikahan Fadil dan kekasih barunya sudah di depan mata, membuat Yara tahu bagaimana dia harus benar-benar ikhlas dan melepaskan pria yang sudah 3 tahun bersamanya sejak mereka saling mengenal.


Sore hari, Yara langsung pulang ke kosan Erna. Dia masih belum menemukan tempat tinggal baru  saat ini. Jadi masih tinggal di kosan Erna untuk sementara waktu.


"Bagaimana Ra hari ini?"


Yara yang baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya, berjalan menghampiri Erna yang sedang duduk di soda, gadis itu baru saja pulang bekerja.


Erna merangkul bahu Yara yang duduk di sampingnya itu. "Aku tahu kalau tidak ada kata ikhlas yang sesungguhnya. Yang ada hanya terbiasa dengan waktu hingga bisa merelakan apa yang sudah terjadi"


Yara mengangguk, memang benar apa yang dikatakan oleh sahabatnya ini. Ikhlas yang sebenarnya tidak ada, hanya karena terbiasa dengan seiring berjalannya waktu hingga membuat kita melupakan dan akhirnya merelakan.


"Kamu akan datang ke acara pernikahannya?"


Yara menghembuskan nafas berat, dia sudah memikirkan tentang semua ini. "Aku akan datang dan mengucapkan selamat padanya dengan sendiri. Aku akan terlihat tegar dan kuat di  depannya"


Erna mengangguk setuju, memang seharusnya Yara seperti itu. Dia jangan terlihat lemah di depan Fadil yang sudah mengkhianatinya dengan begitu tega.


"Aku akan temani kamu Ra"


"Makasih ya Na, oh ya apa sudah ada kosan yang kosong yang bisa aku tempati?"


"Nanti aku akan tanyakan pada Ibu kos"

__ADS_1


######


Yara kembali bekerja dengan semangat, meski sampai saat ini hati dan fikirannya belum benar-benar baik-baik saja. Namun Yara tetap harus terlihat tegar di depan banyak orang. Yara tidak boleh menunjukan kelehamahannya.


"Ra, ke ruangan aku ya. Ada pembahasan penting dengan Keanu"


Yara mengangguk, dia segera mengikuti Sarah menuju ruangannya. "Ra, kamu agak kurusan ya sekarang. Apa kamu diet?"


Yara langsung menatap dirinya sendiri, memang iya jika dia sudah terlihat ada perubahan? Yara memang masih mengonsumsi obat pelangsing dan penahan naf*su makan. Meski Yara belum rajin untuk berolahraga lagi.


"Iya Kak, aku mencoba obat diet yang Kakak bilang waktu itu dan sepertinya memang langsunga ada perubahan juga"


"Pantas saja, padahal kamu gemesin tahu dengan tubuh kamu yang seperti ini. Lagian tubuh kamu menurut aku juga tidak terlalu gemuk"


Yara terkekeh mendengar ucapan Sarah. "Ya 'kan karena Kakak sudah mempunyai bentuk tubuh yang bagus sejak dulu. Sementara aku sudah begini dari gadis. Jadi sekarang sedang mencoba berubah, meski aku juga tidak terlalu yakin akan bisa berubah jadi cantik kayak wanita-wanita di luar sana"


"Sebenarnya cantik itu relatif"


Yara langsung mendongak ketika mendengar suara pria yang ikut nimbrung dalam percakapannya bersama Sarah.


"Kau ini, selalu saja mendengarkan percakapan orang lain" kata Sarah yang mendorong bahu Keanu untuk masuk ke dalam ruangannya.


Yara tersenyum tipis pada Keanu dan mengangguk hormat. "Selamat siang Pak"


"Memangnya wajah aku setua itu ya sampai kamu memanggil aku Bapak?"


Yara tersenyum kaku dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kan Bapak atasan saya, jadi  saya hanya menghormati saja"


"Terus kenapa kamu memanggil Sarah dengan sebutan Kakak? Aku juga maunya kamu memanggil aku seperti itu, jangan memanggilku Bapak. Lagian aku belum setua itu'


Yara tersenyum, dia mengangguk dan menyetujui saja keinginan Keanu itu. Yara juga tidak merasa keberatan saat Keanu memintanya untuk memanggil dia dengan sebutan yang sama ketika Yara memanggil Sarah yang juga sebagai atasannya.


"Baiklah Mas, ayo kita masuk dan mulai rapatnya dengan Kak Sarah"


Keanu tersenyum dengan wajah sedikit malu ketika Yara memanggilnya seperti itu. Keanu sangat senang dan entah kenapa hatinya langsung berdesir ketika dia mendengar suara lembut Yara yang memanggilnya dengan sebutan Mas.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2