
Ajeng mundur beberapa langkah saat Fadil menatapnya dengan begitu tajam. Tatapan matanya yang menyipit tajam dan juga Fadil yang meraih dagunya dan mencengkramnya dengan kuat.
"Ingat Ajeng, seekor singa akan tetap menjadi singa meski dia sudah sangat jinak sekalipun. Jangan pernah membuat seekor singa itu marah besar, karena kamu tahu apa akibatnya!"
Putri Ajeng terdiam mendengar itu, dia mencengkram rok yang di pakainya ketika melihat tatapan tajam Fadil yang begitu menakutkan. Untuk pertama kalinya Ajeng melihat Fadil yang seperti ini. Yang dia tahu Fadil yang ramah dan sopan, selalu menurut. Mengira jika Fadil tidak akan pernah menunjukan sifatnya yang asli ini.
"Seekor singa tidak akan berubah menjadi kucing. Fahami itu!"
Putri Ajeng terdiam mendengar ucapan Fadil, dia jelas tidak tahu tentang sifat Fadil yang satu ini. Bagaimana Fadil yang begitu dingin dan menakutkan.
Fadil menarik kopernya dan berlalu keluar dari kamar. Bagaimana pun cara Putri Ajeng untuk mencegah dan melarang dia untuk menemui Yara. Tapi Fadil tidak akan pernah bisa di larang oleh siapapun ketika dia sudah benar-benar ingin melakukan suatu hal. Keras kepalanya ini yang sebenarnya membuat Fadil kehilangan Yara dan menyesal sampai sesakit ini.
Fadil yang yakin dengan keputusannya untuk menikahi Putri Ajeng pada saat itu karena dirinya yang merasa kalau Putri Ajeng itu adalah yang dia cari selama ini.Merasa jika Fadil sudah bosan pada Yara dan memilih bersama dengan Putri Ajeng. Tapi tenyata semuanya salah, rasa bosan sementara tapi tidak menghapus rasa cinta dalam hatinya. Nyatanya hanya Yara yang menjadi pemilik hatinya.
"Aku tidak akan lagi merasa bosan dengan kamu Yara. Maafkan aku yang sudah membuat kamu hancur dan terluka"
Fadil turun di bandara setelah melewati cukup banyak waktu untuk sampai di kota ini. Dia berjalan ke arah anak buahnya yang sudah berada disana lebih dulu untuk menjemput Fadil.
"Bagaimana? Apa kau yakin jika Yara'ku ada disini?" Fadil masuk ke dalam mobil ketika anak buahnya itu membukakan pintu untuknya.
"Menurut informasi yang saya temukan memang dia berada disini. Tapi saya juga belum benar-benar datang ke rumah yang di tinggali olehnya"
"Yaudah kalau gitu, kita langsung datangi rumahnya"
__ADS_1
Fadil sudah tidak sabar untuk bisa menemui Yara. Rasa rindunya yang membuncah ketika dia mengingat wajah Yara yang selalu tersenyum manis padanya.
Yara, aku akan segera menemukan kamu. Kita pasti bisa untuk kembali bersama.
Harapan yang tidak pernah putus dalama diri Fadil. Karena hanya itu yang dia inginkan saat ini, kembali dengan Yara. Namun ketika dia sampai di rumah yang di tempati oleh Yara selama ini, Fadil harus menelan harapannya lagi saat dia tidak menemukan Yara disana. Fadil mencoba mencari Yara ke tempat dia bekerja sesuai dari apa yang di beritahukan oleh anak buahnya itu. Tapi Yara juga tidak ada disana.
"Maaf Tuan, saya juga tidak tahu Yara kemana. Tapi yang saya dengar dia berhenti bekerja dan pindah dari kota ini"
Jawaban dari Dina yang kebetulan sekali yang Fadil tanyai tentang keberadaan Yara. Tapi jawabannya itu malah membuat Fadil semakin tidak bisa untuk tenang. Dia sudah menemukan tempat dimana Yara tinggal, dia juga sudah mendatangi tempat ini. Tapi ternyata dia tetap tidak bisa menemukan Yara.
Arghh..
Fadil berteriak frustasi sambil menendang jok mobil yang berada di depannya. "Kau ini bagaimana? Kenapa kau bisa tidak tahu kalau ternyata Yara'ku telah pergi dari kota ini"
Memang kesalahannya juga karena tidak menyuruh orang untuk memantau keberadaan Yara. Padahal hanya satu hari saja waktu Fadil untuk datang ke tempat ini setelah dia mengetahui semuanya tadi malam. Dan siang harinya dia langsung pergi dan sampai di kota ini pada sore menjelang malam. Tapi ternyata Yara malah sudah tidak ada di kota ini, membuat Fadil kembali sangat menyesal karena tidak menyuruh orang untuk mengawasi Yara.
"Maaf Tuan, kita kemana sekarang?"
Bugh..
Fadil kembali menendang kursi di depannya itu dengan sangat kesal. "Kembali ke Ibu Kota sekarang, aku yakin jika kepergian Yara pasti ada hubungannya dengan Ajeng dan keluarganya"
"Tapi ini sudah malam Tuan, kita tidak akan kebagian tiket pesawat"
__ADS_1
Fadil mengusap wajah kasar, dia kesal dan sedih sekaligus. Bagaimana dia yang sudah membayangkan bisa bertemu dengan Yara lagi setelah sekian lama. Tapi ternyata dia tetap tidak bisa bertemu dengannya"
"Aku tidak mau tahu, cari cara untuk kita bisa kembali ke Ibu Kota saat ini juga. Kalau memang tidak ada tiket pesawat, kamu setir saja mobil ini sampai sampai disana"
Tentu saja anak buahnya itu langsung mengambil ponsel dan mencoba mencari tiket pesawat dengan penerbangan tercepat untuk pergi ke Ibu Kota. Dia tidak akan kuat untuk mengemudi mobil hingga ke Ibu kota dengan jarak yang tidak dekat ini.
"KIta dapat untuk penerbangan jam 1 malam Tuan"
"Tidak ada yang lebih cepat dari itu? Aku ingin segera sampai disana dan mencari tahu keberadaan Yara, aku yakin ini masih perbuatan mereka"
"Tidak ada Tuan, ini sudah yang paling tepat"
Akhirnya Fadil tidak bisa berbuat apa-apa, selain menunggu sampai jadwal penerbangan itu sendiri. Sebenarnya Fadil ingin berteriak kesal, bahkan dia ingin menangis. Ketika dia sudah sangat senang karena bisa bertemu dengan Yara. Tapi ternyata Yara tidak ada dan dirinya harus menunggu lagi untuk bisa bertemu dengan Yara. Fadil harus mencari kembali keberadaan Yara saat ini.
Sebenarnya kamu dimana Yara? Kenapa pergi meninggalkan aku.
Fadil sampai di Ibu kota, dia langsung menuju rumah Putri Ajeng dan benar-benar marah dengan keluarga istrinya itu. Karena Fadil yakin kalau keluarga istrinya yang telah membuat Yara kembali pergi agar Fadil tidak bisa menemukannya lagi.
"Fadil, untuk kali ini kita benar-benar tidak ikut campur dengan kepergian Yara. Kamu tahu sendiri jika aku akan selalu tahu tentang apa saja yang di lakukan Papi dan Ajeng. Tapi kali ini kami benar-benar tidak tahu tentang kepergian Yara" ucap Sarah yang mencoba menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Fadil terdiam mendengar hal itu, jelas dia melihat kalau kali ini Sarah memang berkata yang sejujurnya. Tapi jika Yara pergi tanpa sepengetahuan mereka, lalu karena apa Yara pergi? Apa dia mengetahui tentang Fadil yang akan datang menemuinya hingga dia langsung pergi dari kota itu? Tapi siapa yang memberi tahunya jika bukan salah satu dari keluarga istrinya ini yang memang tidak suka dengan Yara.
Bersambung
__ADS_1