
"Pemeriksaan DNA (Deoxyribonucleic Acid) dapat dilakukan oleh Ibu hamil untuk mengetahui DNA dari janin yang di kandungnya. Pemeriksaan DNA ini dapat dilakukan mulai dari usai 10 minggu, dengan menggunakan pemeriksaan NIPT, cairan amnion atau villi korialis yang diambil dari kandungan ibu"
Penjelasan Dokter cukup membuat Fadil lega, setidaknya dia bisa melakukan tes DNA dan mengetahui kebenarannya. Dia juga tidak mau untuk terus menduga-duga dan berpikir yang tidak-tidak pada istrinya itu. Fadil hanya ingin memastikan jika memang dugaannya itu salah.
Pengambilan amonion dan villi korialis akan di lakukan besok pagi. Jadi saat ini Putri Ajeng hanya perlu menjaga kesehatannya sampai besok pagi.
Rencana melakukan tes DNA itu terdengar oleh Bimo dan Sarah. Tentu saja mereka sangat terkejut dan marah pada Fadil yang dengan tega ingin melakukan tes itu pada bayi yang masih dalam kandungan Putri Ajeng.
"Kalau memang kamu ingin melakukan tes itu, lakukan setelah bayi itu lahir. Apa kamu tidak tahu resiko dari melakukan tes itu, bisa saja Ajeng keguguran"
Ya, Dokter juga sempat menjelaskan kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi jika melakukan tes DNA itu. Namun Fadil yang tidak sabar untuk mengetahui kebenarannya hanya mengiyakan saja untuk melakukan tes DNA itu.
"Kamu bisa lakukan tes itu setelah bayinya lahir. Faham Fadil! Jangan karena kamu yang ingin kembali dengan mantan kamu itu membuat kamu rela mengorbankan bayi kecil yang tidak berdosa itu. Bayi yang bahkan belum lahir ke dunia ini" ucapan Sarah yang membuat Fadil terdiam.
"Baiklah, aku akan melakukan tes itu setelah bayinya lahir. Tapi jika memang hasilnya tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan, maka siapa pun dari kalian tidak berhak melarang aku untuk berpisah dengan Ajeng"
"Fadil, aku tidak mau berpisah denganmu apapun yang terjadi" Putri Ajeng memegang lengan Fadil, dia memang tidak akan mau berpisah dengan Fadil. Karena memang tidak ada pria yang bisa dia miliki seperti Fadil dengan keadaannya saat ini.
"Maaf Ajeng, aku hanya memberi peringatan pada kalian semua. Jika memang hasil dari tes DNA nanti tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Maka aku tidak akan bisa terus bersama dengan kamu lagi"
Fadil melepaskan perlahan tangan Ajeng di lengannya itu. Dia berlalu pergi darisana. Fadil ingin menenangkan diri dan pikirannya setelah masalah yang datang hari ini.
"Pi, bagaimana ini? Aku tidak mau berpisah dengan Fadil"
Bimo mengusap wajah kasar, dia juga bingung harus melakukan apa sekarang. Namun keadaannya juga sudah sangat sulit untuk dia kendalikan lagi.
__ADS_1
"Semuanya juga pasti ada waktunya untuk terbongkar, Ajeng. Kamu hanya perlu mempersiapkan diri jika suatu saat nanti Fadil ingin berpisah dari kamu. Karena kamu juga tidak bisa untuk terus memaksakan kehendak dan apa yang kamu inginkan"
Putri Ajeng mendengus kesal mendengar ucapan Ayahnya itu. Dia kesal karna Bimo yang tidak membelanya kali ini.
"Papi kok jahat banget gak mau bantuin Ajeng lagi"
Putri Ajeng pergi dengan sedikit menghentak-hentakan kakinya kesal. Situasi yang sangat tidak dia harapkan.
######
Ini bukan tentang cinta, tapi tentang balas budi dan rasa tidak enak atas kebaikan sesorang. Bukannya Yara ingin lebih memberikan harapan pada Keanu. Tapi dia hanya tidak bisa bersikap cuek pada pria yang baik sekali padanya. Sudah hampir dua minggu ini Keanu selalu menjenguk Yara dan juga menemani Yara untuk melakukan kemoterapi.
"Nih, kamu makan dulu buburnya. Abis kemo pasti lelah 'kan?"
Yara tersenyum melihat Keanu yang mengambil satu mangkuk bubur di atas nakas samping ranjang pasien. Makanan yang sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit.
Keanu tersenyum, dia menyendokan satu sendok bubur dan memberikannya pada Yara yang tidak bisa menolak selain langsung membuka mulutnya dan menerima suapan dari Keanu itu.
"Aku hanya tidak mau kamu harus menjalani pengobatan yang cukup menyakitkan itu seorang diri. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang tahu bagaimana perjuangan kamu untuk sembuh"
Yara tersenyum tipis mendengar itu, dia menatap lurus ke depan dengan tatapan yang menerawang. "Memangnya aku akan sembuh ya?"
Keanu memegang tangan Yara dengan sebelah tangannya yang tidak memegang mangkuk bubur. "Kamu yang harus meyakinkan diri kamu sendiri untuk bisa sembuh. Kamu sudah melakukan segala pengobatan dan saran Dokter, tentu saja kamu pasti sembuh. Percaya padaku"
Yara hanya tersenyum tanpa berkata apapun lagi. Dia tetap tidak merasa yakin kalau dirinya ini bisa sembuh dari penyakitnya itu. Yara tidak tahu akan bisa sembuh atau tidak.
__ADS_1
"Sekarang kamu makan yang banyak, biar kamu cepat sembuh ya"
Yara tersenyum dan mengangguk, dia menerima setiap suapan bubur yang di berikan oleh Keanu. Hingga semangkuk bubur itu habis dimakan olehnya.
"Nih minum dulu" Keanu memberikan satu gelas air putih pada Yara.
"Terima kasih Mas"
Keanu tersenyum dan mengangguk saja, tentu saja dia juga tidak bisa membohongi hatinya jika dia juga takut kalau sampai Yara tidak bisa bertahan dengan penyakit yang di deritanya itu. Keanu takut akan kehilangan Yara untuk selama-lamanya. Lebih baik dia melihat Yara dengan pria lain, daripada harus kehilangan Yara untuk selamanya.
"Mas, kamu bisa pulang saja sekarang. Lagian aku juga sudah tidak papa, besok pagi aku akan pulang"
Keanu mengelus lembut kepala Yara, tidak sengaja ada beberapa helai rambut yang menempel di tangannya. Keanu menatapnya dengan helaan nafas pelan, namun dia juga tidak berkata apapun pada Yara. Dia ?membuang saja rambut itu ke belakang tubuh Yara agar gadis itu tidak mengetahuinya.
Karena Keanu tahu Yara pasti sedang berjuang untuk melawan sakitnya, dan dia pasti sedih sekali jika efek dari pengobatan yang dia lakukan akan berpengaruh pada kecantikan rambutnya.
"Aku akan menemani kamu disini, lagian besok juga akhir pekan. Dan aku tidak ada pekerjaan"
"Terima kasih ya Mas, kamu sudah baik sekali sama aku. Kalau ada kamu seperti ini, aku selalu merasa kalau aku tidak sendiri. Aku seperti mempunyai seorang Kakak"
Keanu tersenyum miris mendengar ucapan Yara barusan. Kenyataannya dia memang hanya seorang Kakak laki-laki bagi Yara. Mungkin tidak akan mendapatkan posisi yang lebih, karena Keanu juga tahu kalau hati dan perasaan cinta Yara masih untuk Fadil seutuhnya untuk saat ini.
"Yaudah, sekarang kamu tidur ya. Aku akan tidur di sofa sambil menjaga kamu"
"Iya Mas, terima kasih"
__ADS_1
Keanu membantu Yara untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang pasien. Lalu dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Yara. Dia meraih perlahan tangan Yara yang terpasang infus lalu mengambil gambar dengan kamera ponselnya. Keanu berjalan ke arah sofa, dia duduk disana sambil mengutak-ngatik ponselnya.
Bersambung