
Duduk menyandar di atas tempat tidur, Yara menatap Fadil yang terlelap di sampingnya. Hari masih pagi buta, Yara terbangun karena kepalanya yang terasa sangat pusing hingga dia munth-muntah di kamar mandi.
"Emmhh"
Fadil menggeliat pelan, matanya mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kornea matanya. Fadil menatap Yara yang tersenyum padanya, namun terlihat sangat lemah.
"Sayang, sejak kapan kamu bangun?"
Yara tersenyum, dia memang masih menahan pusing di kepalanya dan perutnya yang masih terasa mual. "Aku kebangun saja tadi, jadi gak tidur lagi sudah mau pagi juga"
Fadil bangun dan mengelus kepala Yara yang saat ini tidak memakai penutup kepala. Rambutnya yang semakin menipis karena terus berjatuhan, terlepas dari kepalanya.
"Sekarang kamu siap-siap ya, nanti kita berangkat ke rumah sakit untuk mengecek keadaan kamu sekarang"
Yara hanya mengangguk dengan kepalanya yang terasa semakin pusing. Cairan merah segar langsung keluar dari lubang hidungnya ketika dia mengangguk.
"Sayang, kamu mimisan"
Fadli yang panik langsung mengambilkan tisu untuk Yara, dia mengusap hidung Yara dengan tisu untuk membersihkan darah yang ada disana.
"Tidak papa Fadil, aku hanya mimisan saja, ini sudah biasa terjadi"
Fadil memeluk Yara dengan erat saat dia melihat tatapan mata yang sayu itu. Rasanya Fadil tidak akan bisa melihat Yara yang terus seperti ini. Melawan sakitnya yang luar biasa, sampai dia seolah sudah kebal dengan rasa sakit yang dia rasakan.
"Kita ke rumah sakit dan lakukan lagi pengobatan untuk kamu. Aku yakin kamu akan sembuh, perecaya sama aku"
__ADS_1
Yara mengangguk dalam pelukan Fadil, meski bibirnya yang selalu menolak keberadaan Fadil. Tapi lihatlah bagaimana Yara yang bisa lebih baik hanya karena ada Fadil di sampingnya. Yara yang tidak pernah setegar ini melewati rasa sakitnya ketika tidak ada Fadil disampingnya. Tapi pelukan hangat dan semangat yang di berikan Fadil padanya, memang berpengaruh besar pada dirinya. Dan Yara menyadari semua itu. Hanya saja dia tidak bisa membebani Fadil selamanya dengan kondisinya ini.
Yara melepaskan pelukannya, dia menatap Fadil dengan lekat. "Fadil, apa kamu tidak akan menyesal karena terus bersamaku, sementara kamu tahu sendiri bagaimana keadaan aku saat ini?"
Fadil menggeleng pelan, dia mengambil poonselnya dan menunjukan sesuatu pada Yara. Sebuah pesan yang baru saja dia terima tadi malam. "Ini adalah pesan dari pengacaraku, dia bilang jika perceraian aku dan Ajeng telah selesai. Tinggal menunggu surat cerai keluar. Kita akan segera menikah, Yara"
Yara terdiam mendengar itu, jelas dia melihat pesan itu. Fadil yang bercerai tapi tidak ingin menghadiri sidang, karena dia menganggap semua itu menyulitkan. Fadil hanya ingin fokus pada Yara. Dan sekarang dia bersyukur karena sudah resmi bercerai dengan Putri Ajeng.
"Aku tidak bisa, Fadil..." Yara menundukan wajahnya dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. "...Keadaan aku hanya akan membuat kamu susah. Baru beberapa hari saja kamu bersama denganku, kamu sudah kesusahan mengurus aku. Jadi, kamu lebih baik cari wanita lain saja yang pastinya akan lebih bisa membuat kamu bahagia. Tidak menyusahkan seperti aku"
Fadil meraih dagu Yara, mengangkat wajahnya agar menatap ke arahnya. "Dengar Sayang, aku tidak pernah terasa terbebani dengan kondisi kamu saat ini. Aku anggap semua pengorbanan aku untuk merawat kamu sampai sembuh, sebagai penebus kesalahan aku dan semua pengorbanan yang kamu lakukan selama ini hanya demi aku..."
"...Ya, aku tahu jika aku memang pernah membuat kamu kecewa dan sangat terluka. Aku minta maaf karena itu, tapi tolong jangan minta aku untuk pergi meninggalkan kamu lagi. Karena terakhir kali aku melakukan itu, aku benar-benar hancur dan terluka"
Fadil menghapus air mata yang mengalir di pipi Yara. "Jangan menangis, kamu sudah banyak mengeluarkan air mata selama ini. Sekarang sudah saatnya aku membuat kamu bahagia, selamanya"
Yara tersenyum dan mengangguk, dia menghapus air matanya sendiri. Yara menghambur ke dalam pelukan Fadil, entah mungkin dia sudah harus menerima keberadaan Fadil lagi di sisinya. Yara tidak bisa terus menerus membohongi hatinya jika dia tidak menyayangi Fadil, padahal hatinya yang jelas hanya milik Fadil seorang.
"Terima kasih Fadil, karena kamu sudah mau menerima aku dengan keadaan aku yang seperti ini"
"Iya Sayang, karena kamu yang bisa menerima aku kembali saja sudah menjadi keberuntungan terbesar dalam hidup aku setelah apa yang pernah aku lakukan padamu selama ini"
#####
Prankk...
__ADS_1
Suara pecahan gelas itu menjadi kehebohan pagi ini di kediaman Bimo. Sarah keluar kamar dengan sangat kesal karena Sherin yang baru saja tidur setelah mandi dan berjemur harus terbangun kembali dan sekarang menangis terus karena tidurnya yang terganggu.
"Kamu ini apa-apaan Putri Ajeng, Sherin jadi bangun sekarang. Dia baru saja tidur"
"Arghh.. Aku tidak peduli Kak, sekarang Kakak lihat ini..." Putri Ajeng menunjukan sebuah pesan di ponselnya. "...Aku telah resmi bercerai dengan Fadil, aku sekarang telah jadi seorang janda. Dan semua ini gara-gara dia Kak, gara-gara anak itu dan si gadis gendut"
Plak..
Sarah sudah tidak bisa menahan diri lagi ketika mendengar ucapan Putri Ajeng yang menunjuk anaknya sendiri seolah anaknya itu adalah pembawa sial dalam kehidupannya.
"Sherin tidak salah! Kamu tidak sepantasnya menyalahkan anak kamu sendiri atas perceraian ini. Karena semuanya juga kesalahan kamu, kalau saja kamu tidak merebut Fadil dari Yara dengan segala kebohongan yang kamu lakukan. Mungkin kamu tidak akan mengalami semua ini. Dan kehadiran Sherin juga karena kesalahan kamu dan kebodohan kamu sendiri. Kamu yang tidak bisa menjaga diri, hingga hamil tanpa suami. Beruntung karena ada Fadil yang mau saja kamu bodohi dan menikahi kamu"
Putri Ajeng menatap Kakaknya dengan tidak percaya. Sarah yang dia kenal adalah wanita lemah lembut yang ceria. Selalu mengutamakan dirinya dalam hal apapun.
Itu sebabnya kenapa Sarah sampai membuat Yara tidak betah bekerja di perusahaannya dan lebih memilih tawaran dari Ayahnya karena memang Sarah hanya memikirkan tentang kebahagiaan adiknya yang bahkan dia tidak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri. Namun sekarang Sarah telah lelah untuk terus mengalah pada Putri Ajeng.
"Cukup menjadi anak manja, sekarang kamu sudah menjadi seorang Ibu dan sudah saatnya kamu berubah menjadi lebih dewasa, Ajeng"
Putri Ajeng menatap Sarah dengan air mata yang menetes di pipinya. Dia sangat sedih ketika Kakaknya memperlakukan dirinya seperti ini, karena selama ini Sarah selalu mendahulukan kebahagiaannya dan tidak pernah berlaku kasar seperti ini padanya.
"Kenapa Kakak malah membela Yara, aku yang adik Kakak disini. Kakak jahat sama aku sekarang"
Putri Ajeng berlalu dari sana, dia sangat kesal dengan Kakaknya itu. Sarah hanya menghembuskan nafas kasar melihat itu.
Bersambung
__ADS_1