
Yara masih terdiam dengan ucapan suaminya barusan. Entah kenapa seolah dia tidak bisa menjawab apapun. Yara berubah seperti ini, karena dia tidak mau membuat suaminya terus merasa jika Yara terlalu manja dan tidak sesuai dengan harapan Fadi. Entahlah, Yara hanya berpikir jika dia harus menjadi apa yang diinginkan suaminya. Seolah Yara takut jika Fadil akan berselingkuh lagi dengan wanita lain.
"Sayang, kamu kenapa berubah seperti ini? Kenapa kamu tidak lagi meminta aku melakukan sesuatu, kenapa sikap manja kamu itu hilang seketika" ucap Fadil, menatap istrinya dengan lekat. Sepertinya dia harus segera meluruskan semua ini.
Yara tersenyum tipis. "Aku hanya sedang berusaha menjadi istri yang kamu inginkan. Aku tahu kalau aku terlalu toxic. Aku selalu menyalahkan kamu atas kesalahan masa lalu yang pernah kamu lakukan. Tapi sekarang aku sadar kenapa dulu kamu melakukan hal itu. Karena mungkin dengan sikap aku ini. Aku yang terlalu manja dan bergantung sama kamu, membuat kamu menjadi jengah dan bosan padaku. Tapi sekarang kamu tenang saja, mulai sekarang aku akan mencoba berubah"
Fadil langsung menggeleng cepat, tentu saja dia tidak pernah berpikir akan seperti ini kejadiannya. Sepertinya semua perkataannya malam itu membuat Yara begitu terluka, hingga dia berpikir kalau dirinya itu adalah seorang istri yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Sementara sekarang, Fadil sudah mulai merindukan sosok Yara yang biasanya. Nyatanya sikap manja Yara membuat Fadil nyaman dan merasa menjadi seorang pria yang dibutuhkan olehnya. Tapi sekarang, setelah Yara berubah. Fadil benar-benar merasakan perbedaan yang sangat signifikat dalam hidupnya ini.
"Sayang, aku tidak ingin kamu seperti ini. Maafkan aku kalau perkataan aku membuat kamu terluka. Tapi sungguh, aku sangat menginginkan kamu kembali seperti dulu. Nyatanya aku merindukan sikap manja kamu itu" ucap Fadil.
Yara terdiam, dia menundukan kepalanya, entah kenapa air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Sebenarnya dia juga merasa menjadi sosok orang lain selama beberapa hari ini. Yara seolah kehilangan jati dirinya. Karena mau bagaimana pun, beginilah sikap dan sifat aslinya.
Jadi tidak mungkin juga Yara bisa benar-benar berubah menjadi seorang perempuan seperti yang Fadil inginkan, karena setiap orang juga mempunyai sikap dan sifatnya masing-masing.
"Fadil..." Yara mendongak, menatap Fadil dengan matanya yang berkaca-kaca. "...Sebenarnya kamu sudah lama kenal aku, kamu tahu aku yang lemah, kamu tahu aku bukan wanita yang mandiri seperti di luaran sana. Kamu juga pastinya merasa direpotkan karena aku selalu banyak bergantung padamu. Tapi,.."
Air mata tak tertahankan lagi, segera Yara megusapnya dengan kasar. Rasanya dadanya cukup sesak saat dia ingin mengeluarkan semuanya yang mengganggu hati dan pikirannya ini.
__ADS_1
"Aku tahu aku egois, aku selalu menyalahkan kamu. Tapi sebenarnya apa yang aku lakukan itu, hanya karena aku takut kehilangan kamu lagi. Sial, karena hatiku hanya untuk kamu. Jadi aku tidak mengerti harus bagaimana lagi, karena rasa takut itu tidak pernah hilang dari hatiku. Entahlah, aku tidak tahu aku kenapa, tapi yang jelas aku hanya takut kehilangan kamu. Maaf kalau aku terlalu berlebihan dan membuat kamu tidak nyaman"
Yara mulai terisak, mungkin ini menjadi titik terendah dalam dirinya ini. Ketika seorang perempuan yang sudah tidak mempunyai perhatian dan kasih sayang dari keluarganya, maka dia akan sangat bergantung pada pasangannya. Namun, disaat pasangan yang sangat dia cintai itu malah berkhianat darinya, maka dia akan begitu hancur. Apalagi sudah semuanya yang Yara punya diberikan pada Fadil, hingga sebuah kehormatan yang seharusnya di jaga.
Namun Yara sudah serahkan padanya. Jadi, sebuah pengkhianatan Fadil itu membuat dirinya hancur dan bahkan tidak mempunyai pilihan lagi entah harus melakukan apa.
"Aku minta maaf Sayang"
Sekarang Fadil melihat jelas trauma itu dalam diri istrinya. Mungkin sudah berlalu lama dan Yara juga sudah memaafkan, tapi seolah rasa traumanya masih belum hilang.
"Jadi, aku harus bagaimana?" tanya Yara yang jadi bingung sendiri sekarang, ketika Fadil menginginkan dia kembali seperti dulu.
Fadil berdiri, dia memeluk Yara dari belakang dengan menyandarkan dagunya di bahu Yara. Mengecup sekilas pipi istrinya itu. "Sayang, kamu tidak perlu melakukan apapun. Karena aku akan selalu mencintai kamu apa adanya. Maaf, kalau selama ini aku tidak cukup mengerti perasaan kamu sampai sering melukai hatimu dengan perkataanku. Aku benar-benar minta maaf"
Yara mengusap air matanya yang menetes terus menerus, mungkin karena dirinya yang tidak bisa menahan tangisannya itu. "Kamu tidak salah, wajar kalau kamu merasa jengah. Tapi tolong jangan berpaling lagi pada wanita lain"
"Tidak akan pernah, aku tidak akan pernah melakukan itu lagi. Sekarang, kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini lagi. Kamu tidak perlu berubah menjadi sosok orang lain. Karena hanya aku yang akan mencintaimu selamanya. Semua yang aku lakukan di masa lalu, sudah cukup membuat aku hidup dalam sebuah penyesalan yang begitu besar. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama" ucap Fadil.
Yara mengangguk, dia berharap semuanya akan benar-benar sesuai dengan ucapan dia barusan.
__ADS_1
******
Malam ini ketika dia pulang bekerja, Fadil melihat istrinya yang sedang berbaring di atas sofa sambil menonton televisi di ruang tengah itu. Fadil menghampirinya dan mengecup gemas pipi istrinya yang terbaring di atas sofa itu.
Yara cukup terkejut karena dia tidak menyadari keberadaan suaminya itu. "Sayang, kamu sudah pulang. Kagetin aja deh"
Fadil tersenyum, Yara yang langsung bangun dari tidurannya, membuat Fadil langsung duduk disampingnya dengan merangkul bahu Yara. "Kamu lagi nonton apa sampai serius banget dan tidak sadar kalau aku sudah pulang"
Yara hanya tersenyum saja, dia menyandarkan kepalanya di bahu Fadil. "Hanya menonton drama yang sering aku tonton saja. Oh ya Sayang, bisa tidak kalau malam ini antar aku ke minimarket saja, sebentar?"
"Mau apa, kenapa tadi tidak bilang kalau ada yang mau kamu beli. Kan aku bisa belikan" ucap Fadil.
Yara menggeleng pelan, mengingat perdebatannya yang terjadi karena hal yang dia suruh pada suaminya. Dia jadi takut akan kejadian lagi. "Aku mau beli pembalut lagi, yang dibelikan kamu tempo hari sudah habis. Haid lagi banyak banget, mungkin karena sudah terlalu lama aku tidak datang bulan"
Fadil sedikit mengerutkan keningnya, dia menatap istrinya dengan khawatir. "Sayang, apa tidak papa? Kamu sudah habiskan banyak sekali pembalut. Ini juga sudah satu minggu, kenapa belum selesai juga datang bulannya?"
"Ya karena itu, mungkin saja karena sudah lama aku tidak datang bulan" ucap Yara.
Bersambung
__ADS_1