Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 10 (Kemarahan Yara)


__ADS_3

Yara sarapan seorang diri lagi setelah tiga hari suaminya selalu pergi ke Rumah sakit untuk menjaga Sherin yang sedang sakit. Ya, Yara masih merasa untuk biasa saja dan tidak akan mempermasalahkan tentang ini. Tapi saat pagi ini Fadil bahkan tidak pulang dan tidak memberinya kabar, sungguh membuat Freya sangat kacau dan sedikit kecewa. Meski dua hari kemarin dia pergi, namun selalu pulang di pagi hari.


Namun sekarang di saat hari sudah hampir siang, Fadil benar-benar tidak kembali ke rumah. Entah dia langsung pergi ke Kantor, tapi rasanya tidak mungkin karena jelas Fadil tidak membawa baju ganti untuk pergi ke Kantor langsung dari rumah sakit.


"Entahlah, tapi sekarang hatiku mulai tidak nyaman"


Yara hanya mencoba menahan dirinya agar tidak berpikir yang buruk tentang suaminya itu. Tapi meski begitu, dia jelas ingat siapa yang selama tiga malam ini bersama dengan Fadil, dia adalah wanita yang pernah menjadi selingkuhan Fadil disaat mereka masih berpacaran dulu. Wajar sekali jika Freya masih merasa takut dan penuh curiga saat ini. Meski dirinya berusaha untuk tidak terpengaruh dengan pikirannya itu.


Sampai siang hari, Fadil benar-benar baru saja pulang. Dia langsung menemui istrinya yang berada di dalam kamar.  Yara terlihat sedang tidur di atas sofa, tapi Fadil yakin istrinya itu tidak mungkin tidur. Terlihat jelas dari matanya yang bergerak-gerak.


"Sayang, aku pulang"


Yara tidak merespon, karena memang dia sedang berpura-pura tidur. Bukan apa-apa, tapi dirinya hanya takut tidak bisa menahan kekecewaannya. Hari yang sudah siang menjelang sore, hati dan pikirannya sudah tidak bisa menduga hal yang baik. Apalagi terlihat Fadil yang masih memakai jas kemarin, jelas jika suaminya itu memang tidak mungkin pergi ke Kantor.


Fadil duduk di atas lantai depan istrinya tidur di atas sofa. Mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Sayang, bangun yuk. Aku bawa makanan kesukaan kamu"


Sebenarnya Yara tidak ingin membuka matanya untuk saat ini, seperti biarkan saja dia berpura-pura tidur hanya untuk menghindari Fadil untuk semantara. Hanya ingin menenangkan dirinya yang sedang kacau dan Yara tidak ingin ada pertengkaran diantara mereka. Namun Yara juga tidak bisa untuk berpura-pura tidur seperti ini.


Akhirnya Yara langsung membuka mata dan menatap Fadil di depan matanya, dia mencoba untuk biasa saja. "Eh, kamu sudah pulang. Mau makan siang dulu? Aku siapkan ya"


Yara langsung bangun dan memakai sandal rumahnya, dia berdiri dan siap pergi keluar kamar. Namun Fadil langsung menahannya dengan memeluknya dari belakang. Tahu jika istrinya ini sedang marah padanya, meski Yara tidak menunjukan sikap itu. Tapi Fadil bisa merasakannya.


"Sayang, maafkan aku pulang telat. Hari ini Sherin bisa pulang. Tapi dia masih sedikit rewel dan sangat menempel padaku. Jadi aku mencoba untuk menenangkannya dulu"

__ADS_1


Yara terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapan suaminya barusan. Tapi karena pikirannya yang sudah kacau sejak tadi, membuat Yara tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang.


"Ya, memang alasannya hanya Sherin. Tidak mungkin karena Ibunya 'kan?"


Yara melepaskan lingkaran tangan Fadil di perutnya dan segera pergi keluar dari kamar. Membuat Fadil membeku di tepatnya. Di mengusap wajah kasar melihat Yara yang berubah menjadi dingin padanya.


"Aku jadi terjebak dengan kesulitan ini, tapi aku juga tidak tega melihat Sherin. Ah, aku jadi bingung sendiri"


Fadil segera menyusul Yara keluar kamar, dia menatap istrinya yang sedang menyiapkan makanan yang tadi di bawa oleh Fadi. Namun sama sekali tidak berbicara apapun.


"Makanlah dulu sebelum mandi" ucap Yara.


Fadil menatap istrinya yang benar-benar berubah jadi dingin. Yara masih menjaga diri untuk tidak terlihat marah pada Fadil yang akhirnya hanya akan memancing perdebatan saja.


Yara duduk dan mengambilkan makanan untuk suaminya, lalu menyimpannya di depan Fadil. "Makanlah, pasti sangat lelah berjaga semalaman"


Fadil masih menatap Yara yang benar-benar acuh tak acuh padanya. Sungguh masih merasa jika istrinya sangat marah padanya. Dan Fadil tidak nyaman saat istrinya harus bersikap dingin seperti ini. Lebih baik Yara yang marah dan mengomeli Fadil, daripada dia yang bersikap dingin seperti ini.


"Sekarang Sherin sudah berada di rumah dan keadaannya juga sudah mulai membaik. Aku tidak akan pergi lagi" ucap Fadil, masih mencoba untuk mengembalikan sikap istrinya ini.


"Tidak papa kalau masih ingin menemui Sherin atau menjenguknya, aku juga ingin menjenguknya. Dia juga anak kamu 'kan?"


Ya, meski bukan anak kandung. Tetap menganggap Sherin sebagai anak adalah hal yang tidak bisa Yara lupakan dan mencegah Fadil untuk tidak menemui Sherin.

__ADS_1


"Sayang bisa untuk tidak bersikap seperti ini padaku? Kalah kau marah, kau bisa langsung marahi aku dan maki aku. Jangan seperti ini" Akhirnya Fadil mengatakannya karena dia tidak ingin sampai Yara terus bersikap dingin seperti ini padanya.


Yara berdiri, dia mengambil piring bekas makannya dan suaminya. Berjalan ke arah wastafell dan mencuci piring kotor itu. "Aku hanya bersikap biasanya, aku tidak ingin ada pertengkaran diantara kita. Lagian tidak sepatutnya aku marah, bukannya memang sudah seharusnya seorang Ayah merawat anaknya saat sedang sakit"


"Tapi dia bukan anakku" ucap Fadil, tanpa sadar dia setengah berteriak.


Yara berbalik dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ya, seharusnya kamu bisa lebih tegas soal itu. Dia bukan anakmu, tapi kamu bahkan tidak memberikan penegasaan itu. Jadi, untuk apa aku marah padamu hanya karena kamu terus bersama dengan anakmu dan mantan istrimu itu. Aku hanya coba untuk tahu diri saja"


Fadil langsung berdiri dan menatap Yara dengan lekat. Tidak suka dengan ucapannya barusan. "Apa maksudmu? Kau ingin aku tidak peduli pada anak kecil seperti Sherin? Aku tidak menyangka kamu akan setega itu,  padahal kamu tahu sendiri kalau Sherin tidak mempunyai Ayah"


Yara terdiam mendengar itu, dia tidak berkata apapun lagi. Langsung pergi begitu saja tanpa berkata apapun. Karena memang sejatinya Yara tidak akan bisa membuat Fadil terlepas dari Sherin dan Putri Ajeng.


Fadil mengusap wajah kasar, baru tersadar jika dirinya barusan sudah berbicara sedikit keras pada Yara. Hingga istrinya itu pergi dengan wajah kecewa. Segera Fadil menyusul Yara yang pergi ke taman samping rumah. Hari yang sudah sore, membuat suasana menjadi sangat nyaman dengan angin yang sepoi-sepoi.


Yara duduk di sebuah bangku taman, dia memandang indah taman dengan bunga-bunga yang baru saja mau bermekaran. Dia mengusap air matanya yang tiba-tiba saja menetes. Rasanya terlalu menyakitkan ketika dia mendengar kembali Fadil yang membela mereka. Meski Yara sadar kalau Fadil yang seperti ini, mungkin saja karena dirinya yang merindukan sosok anak kecil. Dan tergantikan karena ada Sherin.


"Karena aku yang belum bisa memberikan dia keturunan. Seharusnya aku tidak boleh egois. Biarkan saja dia bersama dengan Sherin, karena pastinya dia sangat senang saat bisa bersama Sherin"


"Maafkan aku" Fadil yang tiba-tiba memeluk Yara dari belakang. Melingkarkan tangannya di dada Yara.


Yara hanya diam saja dan mengusap air matanya yang menetes lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2