
Fadil melirik istrinya yang sudah terlelap malam ini. Setelah tiga hari dia tidak tidur dengan Yara, akhirnya malam ini kembali bisa tidur bersamanya. Tapi dengan keadaan yang dingin dan suasana yang tidak nyaman. Bahkan jika biasanya Yara akan tidur menempel padanya dan memeluknya, kali ini dia benar-benar tidur dengan membelakanginya. Membuat Fadil cukup gelisah dan tidak bisa tidur sekarang ini.
Fadil menatap langit-langit kamar dengan hembusan nafas kasar. Situasinya jadi kacau seperti ini juga karena dirinya yang tidak bisa tegas, seperti ucapan Yara.
Dia memang bukan anakmu, tapi kamu sendiri yang tidak bisa memberikan ketegasan padanya tentang hal ini.
Fadil jadi terpikirkan tentang ucapan Yara tadi sore. Mungkin memang dirinya yang tidak memberikan ketegasan pada semuanya. Tentang Sherin yang memang bukan anak kandungnya. Tapi Fadil yang tidak pernah bisa menolak jika Putri Ajeng meminta bantuan padanya jika bersangkutan dengan Sherin.
Sekarang aku faham kenapa Yara begitu marah padaku. Karena aku tidak bisa memberikan ketegasan pada Ajeng. Mungkin sudah seharusnya aku mencari solusi tentang ini semua. Biarkan Sherin bisa mempunyai Ayahnya sendiri, tapi bukan aku. Karena selamanya tetap akan menjadi sebuah boomerang dalam kehidupan rumah tangganya jika Fadil tidak memberikan ketegasan tentang Sherin pada Putri Ajeng.
Fadil berbalik dan menatap punggung istrinya. Perlahan dia beringsut mendekat untuk menarik tubuh Yara ke dalam pelukannya. Tentu saja Fadil tidak akan bisa tidur tanpa memeluk istrinya seperti ini. Karena tiga hari kemarin saja, dia tidak bisa tidur karena gelisah memikirkan Yara dan juga Sherin yang terus rewel.
"Maafkan aku" lirihnya di telinga Yara.
Kedua mata Yara langsung terbuka, tapi dia tidak bersuara apapun. Seolah memang masih menjaga jarak dengan suaminya. Yara hanya tidak ingin saja dirinya yang terus merasa kecewa pada Fadil yang sering mementingkan Sherin.
Yara hanya ingin menghindari perdebatan saja, jadi memilih untuk diam.
Dan pagi ini ketika Yara bangun, dia tidak menemukan suaminya disampingnya. Yara sudah berpikir kalau Fadil kembali pergi untuk melihat keadaan Sherin lagi. Dan hal itu sudah cukup membuat Yara mengerti dan tidak berniat untuk mencari suaminya.
Yara segera mandi dan tidak ingin memikirkan tentang Fadil lagi. Rasanya dia malas jika harus berdebat dengan suaminya. Jadi memilih untuk diam saja dan tidak melakukan apapun. Tapi ketika Yara selesai mandi dan dia keluar dari ruang ganti, Yara terdiam saat melihat suaminya yang sudah berada di sofa dengan berbagai macam makanan di atas meja.
__ADS_1
"Sayang ayo sarapan dulu, kita sarapan disini saja. Aku sengaja masak sandwicth kesukaan kamu"
Yara terdiam saat kali ini pemikirannya itu salah. Ternyata Fadil tidak kembali pergi untuk menemui Sherin. Tapi ternyata dia sedang menyiapkan sarapan untuknya. Ah entahlah, Yara bingung sekarang.
"Aku kira kamu pergi lagi untuk menjenguk keadaan Sherin" ucap Yara, dia berjalan ke arah Fadil dan duduk disampingnya. Menatap makanan dan susu hangat yang sudah disiapkan di atas meja itu.
Fadil memiringkan duduknya agar berhadapan dengan Yara di atas sofa ini. Meraih tangan Yara dan menggenggamnya dengan erat. "Sayang, sekarang aku mengerti apa maksud dari ucapan kamu kemarin. Tapi tolong beri aku waktu untuk bisa menemukan Ayah kandung Sherin dan aku akan mulai lepas darinya. Aku akan memberikan ketegasan seperti yang kamu inginkan"
Yara sedikit terkejut mendengar itu, selama ini yang dia tahu hanya Putri Ajeng yang hamil karena mabuk dan dia tidak tahu siapa yang menghamilinya. Tapi sekarang tiba-tiba saja Fadil ingin menemukan Ayah dari Sherin. Bagaimana bisa?
"Bukannya Putri Ajeng saja tidak mengetahui siapa Ayah Sherin?"
Fadil menggeleng pelan, dia mengecup punggung tangan istrinya. "Sebenarnya dia tahu siapa Ayah kandung Sherin. Hanya saja karena Tuan Bimo yang tidak setuju dengan hubungan mereka sejak awal. Bahkan mereka melakukan hubungan dibelakangnya. Hingga saat ketahuan, orang tua prianya juga menjodohkan dia dengan wanita pilihannya. Ya, karena semuanya hanya sebuah persaingan bisnis hingga akhirnya anak-anaknya tidak bisa bersama, meski saling mencintai"
"Aku tahu Perusahaannya dan keluarganya. Akan aku coba temui dia dan membicarakan tentang Sherin, karena sepertinya pria itu tidak tahu tentang kehadiran Sherin saat ini" jelas Fadil.
Yara terdiam, dia jadi merasa bersalah karena sudah salah sangka pada suaminya. Sempat berpikir buru tentang Fadil yang ternyata memang sudah benar-benar berubah dan akan berusaha untuk tetap setia pada Yara.
"Maaf ya, aku sudah salah sangka sama kamu. Mungkin kemarin aku sedikit sensitive sampai berpikiran buruk tentang kamu. Ya, sebenarnya aku hanya takut kamu akan kembali pada Putri Ajeng tanpa sepengetahuanku"
Tentu saja Fadil langsung menggeleng mendengar itu. Dia kembali mengecup punggung tangan Yara yang berada dalam genggamannya.
__ADS_1
"Sayangku, aku sudah pernah berpaling dan berpikir kehidupanku akan lebih bahagia saat aku berpaling darimu pada wanita yang terlihat lebih segalanya dari kamu. Tapi ternyata, aku salah. Hanya kamu yang bisa membuat aku nyaman sampai selama ini. Mungkin Putri Ajeng memang sempurna di mata orang-orang, tapi dia tidak bisa memberikan kenyamanan untukku. Karena rasa nyaman aku itu hanya ketika aku bersama denganmu"
Yara tersenyum mendengar itu, karena dia juga merasakan hal yang sama. Ketika dia yang mencoba membuka hati untuk Keanu saat itu, tapi tetap tidak bisa menemukan kenyamanan seperti ketika dirinya bersama dengan Fadil.
"Maaf ya karena belum bisa menyempurnakan pernikahan kita dengan memberikanmu keturunan" ucap Yara dengan senyuman miris.
Fadil langsung menangkup wajah Yara, dia menatapnya dengan lekat. "Kita menikah karena cinta, bukan karena ingin mempunyai anak. Meski memang itu tujuan semua orang yang menikah pada akhirnya. Tapi jika tidak bisa mendapatkan keturunan, ada banyak cara untuk bisa mendapatkan anak..."
"...Bukannya kita bisa mengadopsi anak saja. Banyak sekali di luaran sana anak-anak yang terlantar karena orang tuanya tidak peduli atau mungkin tidak menginginkannya. Jadi keturunan tidak menjadi sebuah patokan untuk bahagianya sebuah pernikahan"
Yara begitu tersentuh dengan ucapan Fadil barusan. Karena suaminya itu yang sama sekali tidak menekan Yara atau merendahkannya disaat keadaan Yara yang seperti ini dan memang belum bisa memberikan keturunan.
"Sudahlah, jangan membahas itu lagi. Aku tidak mau melihat wajah sedih kamu lagi. Sekarang kita makan saja sarapannya, aku sengaja buat sarapan untuk kamu. Sebagai permintaan maaf karena tiga hari kemarin bahkan aku tidak bisa menemanimu makan" ucap Fadil.
Yara hanya mengangguk saja, dia mengambilkan satu potongan sandwich itu untuk Yara. Menyuapi istrinya dengan lembut.
"Sayang, aku bisa makan sendiri. Kamu juga makan saja punya kamu" ucap Yara sambil melirik satu potong sandwich lain yang masih berada di atas piring.
"Kita makan berdua saja, biar lebih enak"
Fadil menggigit sandwich itu di bagian bekas gigitan Yara barusan. Dan suaminya itu benar-benar melakukan sampai sandwich mereka habis. Benar-benar makan berdua seperti ucapannya barusan.
__ADS_1
Ah, aku senang melihatnya kembali tersenyum. Bodoh, karena kemarin sudah membuatnya merasa sendirian di rumah ini. Fadil tersenyum melihat senyuman Yara yang telah kembali.
Bersambung