
Fadil jelas mendengar uacapan Yara yang menginginkan kehamilan. Dadanya terasa makin sesak saat mendengar ucapan Yara yang teredengar begitu lirih.
"Kamu akan hamil dan kita akan mempunyai anak, Yara. Aku pastikan itu"
Fadil berlalu dari sana setelah dia memastikan Yara aman dengan seorang perawat yang sengaja dia suruh untuk mengajak Yara masuk ke dalam ruang rawat. Fadil tidak mau sampai Yara kenapa-napa karena terlalu banyak di luar.
Tunggulah Sayang, akan ada saatnya tiba aku dan kamu hidup bahagia.
Fadil mengendarai mobilnya menuju perusahaan keluarga Putri Ajeng. Dia sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan dia dapatkan saat ini, karena dirinya yang berani mengundurkan diri dari perusahaan itu. Tapi Fadil hanya ingin hidup bebas dari keluarga Bimo.
"Kau yakin akan mengundurkan diri? Kamu bisa seperti sekarang ini karena kamu bekerja dengaku, apa kamu yakin dengan keputusan ini?"
"Ya, karena itu aku harus mulai membebaskan diri dari perusahaan ini. Karena aku juga ingin maju dan memulai hidupku yang baru tanpa harus terus bergantung pada perusahaan ini"
Bimo menghela nafas pelan, dia melihat surat pengunduran diri Fadil yang sudah berada di tangannya itu. Sebenarnya dia tidak rela jika Fadil pergi meninggalkan perusahaannya. Tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun saat semuanya sudah menjadi keputusan Fadil.
Fadil berjalan keluar dari perusahaan yang menjadi awal perjalanan kariernya dalam bisnis. Namun perusahaan ini juga yang menjadi awal dari kehancuran hubungannya dengan Yara. Ya, mungkin memang karena kebodohannya juga yang telah berpaling dari Yara yang begitu tulus padanya. Tapi sekarang Fadil benar-benar menyesal atas apa yang dia lakukan. Fadil ingin memperbaiki semuanya dan memulainya kembali dengan Yara.
Aku akan meninggalkan semua hal yang telah membuat aku meninggalkanmu, Yara. Semua yang telah membuat aku terbelenggu dalam penyesalan yang begitu dalam.
Fadil kembali ke rumah sakit, dia ingin melihat keadaan Yara saat ini. Meski mungkin dia hanya bisa mengawasi Yara dari jauh untuk sekarang, karena Fadil takut Yara akan menolaknya.
Namun ketika dia sampai di rumah sakit, ternyata Yara sedang melakukan pengobatan yang terlihat sangat menyakitkan. Fadil melihat Yara yang terus merintih kesakitan hingga dia menangis. Melihat itu membuat hati Fadil nyeri, dia tidak bisa hanya diam dari kejauhan seperti ini ketika melihat Yara yang sedang melawan sakitnya.
__ADS_1
"Arghhh. Sakit sekali, Tuhan"
Brak..
Fadil membuka pintu dengan kasar dan dia langsung masuk menghampiri Yara di atas ranjang.
"Fadil.." lirih Yara dengan air mata yang terus menetes di sudut matanya.
"Sayangku, kuat ya. Ini aku Sayang, aku akan bersama denganmu dan aku ingin melihat kamu sembuh"
Air mata Yara kembali menetes di sudut matanya, jelas dia tidak menyangka akan mendengar panggilan itu lagi dari bibir Fadil. Pria yang masih menjadi pemilik hatinya sampai saat ini. Namun Yara merasa malu karena saat dia bertemu kembali dengan Fadil, keadaannya malah seperti ini. Dia yang sedang sakit hingga penampilannya yang terlihat sangat kacau.
Yara kembali menjerit saat rasa sakit yang tidak bisa dia tahan. Tubuhnya sedikit bergelinjang ketika rasa sakit yang menyerang seluruh tubuhnya itu. Melihat itu, Fadil langsung menahan tubuh Yara. Dia mengelus lembut kepala Yara untuk sedikit menenangkan wanitanya itu. Namun hal yang tidak Fadil duga terjadi, dia melihat rambut Yara yang menempel di tangannya cukup banyak. Ketika dia melihat kepala Yara yang sudah hampir sebagian rambutnya hilang.
"Pergi Fadil, jangan lihat penampilan aku yang seperti ini. Pergi.. Argh.."
"Sayang jangan menyuruh aku pergi, karena aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi. Aku tidak ingin berpisah denganmu lagi. Aku mencintaimu, Yara"
"Tapi kamu sudah menikah Fadil, jangan membuat hubungan kamu dan istrimu hancur hanya kamu kasihan melihat keadaan aku ini"
Fadil menggeleng, dia benar-benar terisak dalam pelukan Yara. Tidak bisa melihat wanitanya seperti ini. Meski Fadil sadar dengan kesalahannya yang telah membuat Yara begitu terluka selama ini.
"Aku akan kembali padamu Yara, aku mohon tetap berjuang untuk aku"
__ADS_1
Yara terdiam mendengar suara parau Fadil, dengan perlahan dan sedikit kesusahan tangannya meraih kepala Fadil yang berada di atas dadanya. Yara mengelus kepala pria itu dengan lembut.
"Fadil, aku mencintaimu"
Tangannya jatuh lunglai begitu saja dari atas kepala Fadil, membuat Fadil langsung bangun dan melihat Yara yang sudah memejamkan matanya dan tidak sadarkan diri. Fadil panik dan langsung berteriak memanggil Dokter, namun ternyata memang Yara selalu seperti ini karena tubuhnya yang tidak kuat menahan sakit yang dia rasakan. Hingga akhirnya dia jatuh pingsan.
Fadil tetap menjaga Yara sampai dia selesai menjalani pengobatan hari ini. Setelah itu Fadil juga menjaga Yara di ruang rawat. Dia menatap wajah tirus yang pucat dan keadaan tubuhnya yang sangat kurus. Rasanya Fadil tidak tahan untuk tidak menangis sekarang, melihat keadaan wanitanya saat ini.
Fadil mengelus pipi Yara dengan sangat lembut, lalu dia mengecup kedua pipi tirus itu. "Sayangku, jangan pernah berhenti berjuang. Aku akan selalu bersamamu Cinta, jangan pernah berpikir untuk menyerah karena aku menunggu kesembuhanmu"
Bisikan Fadil itu membuat Yara tersadar, dia menatap Fadil dengan matanya yang sayu. "Fadil, kenapa kamu masih berada disini? Bukannya kamu harus menemui istri kamu yang baru saja melahirkan itu"
Fadil menggeleng pelan, dia mengecup kedua mata Yara membuat gadis itu langsung memejamkan matanya. Menikmati kecupan lembut yang diberikan oleh Fadil.
"Saat ini aku hanya ingin menemani kamu dan tolong jangan melarang aku untuk melakukan ini Yara. Semua ini adalah bentuk permintaan maaf aku padamu atas semua yang aku lakukan"
Yara menatap Fadil, matanya mulai berkaca-kaca. Jujur saja dia tidak pernah menyangka akan bisa bertemu lagi dengan Fadil setelah sekian lama Yara hanya berharap hari ini terjadi. Dan sekarang dia benar-benar bisa bertemu kembali dengan Fadil.
"Fadil, aku sakit sekarang. Jadi lebih baik kamu tetap bersama dengan istrimu daripada denganku yang tidak tahu akan bertahan sampai kapan.."
"Shutt.." Fadil menaruh jari telunjuknya di bibir Yara, dia tidak suka mendengar ucapan Yara barusan. "..Sayangku akan sembuh, aku tahu itu. Yara'ku sejak dulu selalu kuat dan bisa melewati banyak hal dalam hidupnya. Sekarang juga pasti akan kuat dan bisa melewati saat ini"
Yara hanya diam dengan air mata yang menetes di sudut matanya.
__ADS_1
Bersambung