
Turun dari mobil, Yara sudah sangat tegang ketika dirinya melihat suasana pesta yang begitu ramai di gedung ini. Yara menghembuskan nafas pelan, setidaknya dia harus bisa menenangkan diri dan membuat dirinya tidak semakin membuat Fadil malu di Pesta ini.
"Fadil, Yara"
Teriakan itu membuat Yara dan Fadil yang sudah mau melangkah masuk, langsung menghentikan langkah mereka. Menoleh pada sumber suara, dan ternyata yang memanggil mereka itu adalah Putri Ajeng.
"Hallo, kalian diundang juga ternyata" ucap Putri Ajeng dengan senyum cerianya, dia menuntun Sherin.
"Iya, kamu datang juga?" tanya Fadil yang tidak tahu kalau Putri Ajeng juga akan datang ke acara ini.
"Iya, dia teman aku kuliah dulu. Jadi aku diundang. Oh ya, Yara bagaimana keadaan kamu?" tanya Putri Ajeng yang langsung memeluk Yara.
Yara tersenyum, meski sebenarnya dia merasa iri melihat kecantikan Putri Ajeng yang tidak pernah memudar. Menjadi single parent, malah membuatnya semakin terlihat cantik.
"Aku baik, bagaimana denganmu?" ucap Yara.
"Aku juga baik, yaudah sekarang ayo kita masuk bareng aja. Aku juga baru datang ini" ucap Putri Ajeng.
Yara mengangguk, dia menatap suaminya yang langsung mengambil alih Sherin. Menggendong anak berusia dua tahun itu. Sherin terlihat sangat cantik seperti Ibunya.
"Sherin sudah lama ya tidak bertemu dengan Papa. Kangen tidak sama Papa?" ucap Fadil sambil mengecup pipi Sherin dengan gemas.
"Papa, kangen" ucap anak itu meski sebenarnya masih kurang jelas.
Fadil tertawa pelan, dia langsung mencium pipi gembil Sherin dengan gemas. Melihat interaksi Fadil dan Sherin, membuat Yara tersenyum. Jarang sekali dirinya melihat Fadil bisa sebahagia itu. Mungkin memang kehadiran seorang anak kecil bisa membuatnya begitu bahagia.
"Kamu baru datang juga 'kan ya? Bagaimana kalau kita ucapkan selamat dulu sama pemilik acara hari ini. Aku juga mau berikan kado ini" ucap Putri Ajeng sambil mengangkat paper bag kecil di tangannya.
__ADS_1
Yara hanya tersenyum, dia juga sudah membawa hadiah yang tadi di bawa oleh suaminya ketika pulang bekerja. Yara juga tidak tahu apa hadiah yang akan diberikan suaminya ini untuk anak rekan bisnisnya yang sedang berulang tahun hari ini.
Mereka pun berjalan menghampiri pemilik acara malam ini. Suasana sudah cukup ramai, banyak sekali tamu undangan yang datang. Mulai dari teman-teman yang sedang berulang tahun hari ini, dan juga rekan kerja Ayahnya dan teman sosialita Ibunya. Membuat acara ini begitu meriah.
"Haiii...." Putri Ajeng langsung berteriak kegirangan, dia dan gadis cantik itu langsung berpelukan dengan erat. "...Ya ampun Beb, masih dirayain aja ya ultahnya. Tapi selamat deh, nih kado dari aku ya"
"Papa aku nih yang masih aja mau rayain acara ulang tahun aku. Padahal udah gede gini, malu banget" ucap gadis itu.
Putri Ajeng hanya tertawa mendengarnya. "Maklumlah, anak satu-satunya ya kan. Oh ya, seharusnya ini bukan acara ulang tahun, tapi acara nikahan"
"Belum saatnya" ujar gadis itu sambil tertawa.
Yara menoleh pada Fadil, seolah sedang bertanya bagaimana hadiah yang mereka bawa. Apa harus diberikan sekarang atau nanti saja. Dan Fadil hanya mengangguk dan tersenyum, mengerti maksud dari tatapan Yara padanya.
Akhirnya Yara mulai mendekat pada gadis cantik dengan penampilannya yang cukup mencolok malam ini. Gaun yang dia kenakan juga terlihat sangat mewah sekali. Memang dasarnya gadis itu sangat cantik, jadi mau memakai gaun dan riasan seperti apapun akan tetap saja cantik.
Gadis itu menoleh pada Yara, merasa tidak mengenalnya. Tapi dia menerima saja hadiah yang disodorkan Yara, mungkin saja memang rekan Ibunya atau Ayahnya. Begitu pikirnya ketika dia tidak mengenal Yara.
"Terima kasih ya sudah datang danrepot-repot membawa hadiah juga"
Yara menganguk sambil tersenyum. "Iya Nona, sama-sama"
"Ya ampun Jeng, itu bukannya Fadil mantan suami kamu ya? Dia lagi sama anak kamu?" tanyanya yang sedikit kaget dan baru menyadari kehadiran Fadil disana.
"Iya, kenapa emangnya? Dia 'kan rekan kerja kamu. Dan dia ini adalah ist..."
"Ya ampun Ajeng, apa aku bilang kalau Fadil pasti akan menyesal karena udah menceraikan kamu. Ah, lihat dia yang terlihat sekali wibawanya sebagai seorang Ayah. Kayaknya emang kalian bakalan balikan deh" cerocosnya sampai memotong ucapan Putri Ajeng yang belum selesai.
__ADS_1
Putri Ajeng langsung menatap Yara yang menunduk, dia malah merasa tidak enak pada Yara. "Jangan asal bicara, dia itu sudah mempunyai istri lagi. Emangnya tidak lihat berita apa tentang pernikahan dia dan wanita yang dicintainya. Dia itu sudah punya istri"
"Iya si, tapi denger-denger istrinya itu sakit parah 'kan? Pasti Fadil cuma kasihan aja tuh nikahin dia. Ngapain coba nikah sama wanita pesakitan, buang-buang waktu aja. Ujung-ujungnya juga pasti mati kan"
Putri Ajeng terbelalak mendengar ucapan temannya ini yang melewati batas. Apalagi ada Yara disana, dan sepertinya Fadil juga mendengar ucapan barusan, karena dia yang sedang berjalan ke arah mereka kembali setelah sejenak saling menyapa dengan beberapa rekan kerja sambil membawa Sherin.
"Diam kamu, itu Fadil datang kesini. Pasti dia dengar semua ucapan kamu" ucap Putri Ajeng, dia langsung berpindah tempat jadi di dekat Yara.
"Lagian ya, istrinya itu sehat dan cantik" tekan Putri Ajeng, dia merangkul Yara agar gadis itu tidak merasa semakin direndahkan malam ini.
"Siapa yang anda sebut sebentar lagi mati, Nona?" tanya Fadil dengan tatapan tajam.
Putri Ajeng langasung membawa Sherin dari gendongan Fadil. "Aku sudah coba menghentikannya, tapi dia malah nyerocos terus tanpa rem"
Fadil tidak merespon ucapan Putri Ajeng, dia menyerahkan Sherin padanya dan memberi isyarat pada Putri Ajeng agar segera membawa Sherin pergi dari sana.
"Ah, maaf Tuan saya hanya asal bicara saja" gadis itu menjawab dengan gelagapan.
"Asal bicara anda ini sudah membuat mental seseorang down. Apa menurut anda orang yang sakit tidak pantas untuk bahagia, apa orang yang sakit tidak pantas untuk mendapatkan cinta sejatinya? Orang yang sakit juga bisa mendapatkan kesempatan untuk sembuh. Masalah mati sama sekali tidak ada yang tahu, termasuk anda. Mungkin saja besok anda mati tanpa sebab setelah mengadakan pesta ulang tahun ini. Tidak ada yang tahu siapa yang akan mati dulun" tekan Fadi.
Yara langsung meraih tangan suaminya, dia tidak mau kalau sampai Fadil kehilangan kendali di tempat ramai seperti ini. Apalagi saat semua orang sudah mulai tertuju pada mereka.
"Sudah ya, jangan dibesar-besarkan. Lagian Nona ini hanya bicara apa adanya" ucap Yara.
"Jangan pernah lagi merendahkan orang yang memperjuangkan cinta sejatinya, meski salah satu dari mereka sakit parah sekalipun" tekan Fadil sebelum dia membawa Yara pergi darisana.
Gadis itu tertegun saat melihat Fadil yang menggandeng tangan Yara. Ya Tuhan, ternyata dia istrinya, pantas saja penampilannya sedikit aneh, sampai memakai penutup kepala seperti itu. Ternyata dia memang sakit. Aduh salah besar aku.
__ADS_1
Bersambung