
Fadil memeluk Yara dari belakang, tangannya melingkar di dada Yara dan dagunya yang menyandar di bahu Yara. "Apa kamu suka Sayang? Oh ya, disini ada Mbak dan supir juga, jadi kamu tidak perlu banyak mengerjakan apapun. Kamu hanya perlu fokus pada kesehatan kamu"
Yara menoleh ke arah Fadil, dia tersenyum dengan air matanya yang terus menetes karena haru. "Aku suka, terima kasih Fadil karena kamu sudah mengizinkan aku untuk tinggal disini"
Cup..
Fadil mengecup pipi Yara dengan lembut, dia berdiri dan mendorong kembali kursi roda Yara untuk menuju kamar utama di rumah ini. "Karena memang ini juga rumah kamu. Sejak awal aku berniat membeli rumah ini hanya untuk kamu. Maafkan aku ya karena kesalahan yang aku lakukan, kamu jadi tidak bisa untuk langsung tinggal di rumah impian kita ini"
Ya, Fadil membeli rumah ini dengan cara menyicil hanya untuk masa depannya dengan Yara ketika mereka sudah menikah nantinya. Tapi ternyata harus banyak hal yang dia lalui untuk bisa sampai menempuh mimpi itu.
Fadil membantu Yara untuk tiduran di atas tempat tidur. Menarik selimut untuk menutupi kaki Yara yang sedang duduk berselonjor di atas tempat tidur. Fadil mengelus kepala Yara dan mengecupnya.
"Kalau di dalam kamar penutup kepalanya di buka saja, takutnya kamu tidak nyaman"
Yara memegang kepalanya yang di tutup oleh kain itu. "Aku malu, jadi tidak papa pake ini saja"
Fadil naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Yara. "Sayangku, kenapa harus malu? Kamu selalu cantik dimata aku"
Yara terkekeh lucu mendengar ucapan Fadil itu. "Aku dulu gendut saja, kamu selingkuh. Apalagi dengan keadaan aku yang sekarang, yang bahkan ambutku sudah tidak bagus lagi"
Hah..
Fadil menghembuskan nafas kasar, jelas dia tahu ada sebuah trauma dalam diri Yara yang tidak bisa Fadil hilangkan begitu saja. Karena pengkhianatan yang dia lakukan padanya.
"Aku memang bodoh Yara, karena aku tega sekali sampi mengkhianati cinta kamu yang begitu tulus. Tapi sekarang aku benar-benar sudah menyesali semuanya Yara"
Yara tersenyum, dia mengangkat tangannya dan mengelus pipi Fadil dengan perlahan. Setelah sekian lama, akhirnya Fadil kembali merasakan sentuhan lembut yang di berikan oleh Yara. Sungguh Fadil sangat merindukan hal-hal kecil seperti ini.
__ADS_1
"Aku tahu itu Fadil, kamu memang sudah menyesali semuanya..."
Fadil sudah tersenyum senang mendengar ucapan Yara, berharap jika Yara sudah membuka hatinya kembali untuknya.
"...Tapi aku tidak bisa kembali lagi padamu, banyak hal yang harus aku pertimbangkan jika aku kembali lagi padamu"
Senyuman Fadil langsung pudar seketika mendengar lanjutan ucapan Yara. "Apa yang harus kamu pertimbangkan lagi, Yara? Masalah aku dan Ajeng? Aku dan dia akan segera bercerai, aku sedang mengurus semuanya"
Yara masih mengelus pipi Fadil, dia tahu tentang hal itu. Karena rasanya tidak mungkin Fadil sampai berbohong soal perceraian. Tapi hal yang masih harus Yar pertimbangkan ketika dia memilih untuk kembali lagi dengan Fadil adalah penyakitnya yang belum di ketahui akan benar-benar sembuh atau bahkan tidak sama sekali. Yara tidak mau menjadi beban hidupnya Fadil saja.
"Bukan tentang itu Fadil, tapi ada hal lain yang membuat aku bimbang untuk kembali lagi denganmu"
"Hal lain apa, Yara? Tolong jelaskan sama aku, hal lain apa yang membuat kamu tidak bisa kembali lagi bersamaku?"
Yara tersenyum, namun dia tidak berniat menjawab pertanyaan dari Fadil. "Sudahlah, aku mau istirahat dulu. Kamu bisa tolong keluar dari kamar ini"
"Aku juga ingin istirahat disini, tenang saja aku tidak akan melakukan apapun padamu"
Fadil malah merebahkan tubuhnya di samping Yara. Membuat Yara menghela nafas panjang dengan sikap pria itu. Yara sudah menduga jika memang Fadil tidak akan hanya diam saja jika ada Yara. Meski dia tidak akan melakukan apapun, tapi untuk satu kamar berdua sudah pasti akan Fadil lakukan.
Yara menatap Fadil yang langsung terlelap begitu saja sambil memeluk kakinya yang berselonjor. Sepertinya memang Fadil sedang sangat lelah hingga tidak butuh waktu lama untuk dia terlelap seperti itu.
Yara mengelus perlahan kepala Fadil, sedikit memainkan rambut hitam pria itu. "Maaf Fadil, tapi aku hanya akan menjadi beban hidup kamu saja"
Sebenarnya bukan karena Fadil yang kelelahan sampai dia bisa dengan cepat terlelap. Tapi karena memang dirinya yang kembali menemukan kenyamanannya. Dia yang kembali bisa memeluk Yara, karena memang Yara adalah sumber nyaman dalam hidup Fadil.
Yara ikut merebahkan tubuhnya dengan perlahan, dia masuk ke dalam pelukan Fadil. Ternyata sejauh mana dia menolak perasaannya, namun hatinya masih menjadi milik Fadil.
__ADS_1
#######
Ketika Fadil bangun entah pukul berapa sekarang, baru kali ini bisa tidur dengan sangat nyenyak. Mungkin memang karena Yara yang berada di sampingnya, Yara yang selalu menjadi kenyamanan bagi Fadil.
"Sayang.." Fadil yang tidak menemukan Yara, langsung panik sendiri karena dia takut Yara pergi meninggalkannya. Apalagi setelah tadi dia mendengar ucapan Yara yang seolah dia tidak ingin kembali lagi pada Fadil.
"Aku disini Fadil"
Hah...
Fadil menghela nafas lega ketika mendengar suara Yara di balik balkon kamar. Fadil segera menyusul Yara yang sedang berdiri di balkon dengan tangannya yang memegang pagar pembatas disana.
"Sayang, kamu sedang apa disini?" Fadil memeluk Yara dari belakang, mengecup bahu gadis itu dengan lembut.
"Aku hanya ingin mencari angin sore saja, ternyata ada taman juga ya disini"
Fadil mengangguk, dia menatap ke arah taman yang berada di samping rumah ini. Ada kolam berenang juga disana.
"Ya, sesuai keinginan kamu 'kan"
Yara mengangguk, memang dia yang tinggal di kos-kosan biasa setelah orang tuanya meninggal dan rumah mereka di sita oleh bank karena pinjaman Ayahnya yang tidak lunas. Dan Yara selalu berharap akan mempunyai rumah yang mewah suatu saat nanti bersama dengan Fadil. Dan mungkin impannya yang satu ini terwujud, meski tidak tahu bagaimana hubungan mereka selanjutnya setelah ini.
"Seandainya kita tidak pernah berpisah, mungkin kita sudah bahagia tinggal di rumah ini. Maaf ya Sayang, karena aku sudah membuat hubungan kita ini hancur. Semua cerita dalam hidup kita harus hancur karena kebodohan yang aku lakukan"
Yara menghembuskan nafas pelan, dia ingat semua cerita yang dia lalui bersama dengan Fadil. Tujuan dan mimpi mereka yang selalu sama, untuk hidup bahagia bersama selamanya. Namun tidak pernah menyangka jika semuanya akan berakhir seperti ini, dimana dirinya dan Fadil yang harus berpisah karena adanya cinta kedua.
Bersambung
__ADS_1