
Menyiapkan sarapan untuk suaminya berangkat kerja pagi ini. Yara masih memikirkan tentang acara nanti malam, dia harus tampil seperti apa saat harus menemani suaminya ke sebuah pesta.
Karena mau tampil seperti apapun, dia tetap akan terlihat tidak pantas bersanding dengan Fadil. Apalagi dengan kondisinya saat ini. Rambutnya saja belum kembali tumbuh semuanya. Membuat Yara tetap harus memakai tutup kepala ketika keluar rumah. Karena dia malu dengan penampilannya yang seperti ini.
"Bagaimana caranya aku menolak ajakan Fadil ya, Aku benar-benar tidak ingin membuatnya malu. Dia pasti akan kena malu kalau bawa aku ke acara pesta seperti itu"
Yara jadi bingung sendiri sekarang, dia ingin mencari cara agar tidak jadi pergi bersama suaminya. Tapi Fadil tidak akan pernah mengizinkannya untuk itu. Karena Fadil selalu ingin pergi bersamanya.
"Sayangku.." Fadil yang tiba-tiba muncul dan langsung memeluk Yara dari belakang. Menghirup aroma tubuh Yara yang sudah mandi itu, beberapa kali Fadil mencium bahu dan lehernya.
"Kamu sudah mandi ya, ayo sarapan dulu sekarang" ucap Yara.
Fadil mengangguk, dia langsung melepaskan lingkaran tangannya di perut Yara. Memberi kecupan di pipinya sebelum dia duduk di kursi meja makan itu. Yara hanya tersenyum dengan kelakuan suaminya ini. Segera dia mengambilkan makanan untuk Fadil.
"Sayang, nanti aku pulang lebih awal. Kamu siap-siap saja untuk pergi ke pesta nanti ya" ucap Fadil, menerima piring yang berisi makanan dari istrinya.
Yara duduk setelah dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Belum juga dia berbicara untuk meminta Fadil agar tidak jadi berangkat dengannya, tapi ternyata Fadil malah sudah membicarakan hal ini dan minta untuk Yara bersiap-siap untuk acara pesta yang akan mereka hadiri itu.
"Sayang, memangnya orang lain membawa pendamping? Bagaimana kalau yang lainnya tidak membawa pendamping?" tanya Yara, sengaja mencari jalan agar dia diizinkan agar tidak ikut ke Pesta itu.
"Memangnya sejak kapan sebuah Pesta dilarang membawa pedamping kita. Masa membawa istri saja tidak boleh, bahkan banyak yang membawa anaknya juga" ucap Fadil.
Benar juga ya. Yara hanya bisa menghembuskan nafas pelan, dia tidak mungkin bisa menolak lagi sepertinya. Sudah berbagai cara digunakan, tapi Fadil memang tidak mengizinkannya tidak ikut ke Pesta itu, karena Fadil ingin ditemani oleh istrinya saat pergi ke acara itu.
Fadil selesai dengan sarapannya, dia segera berdiri dan mengelus kepala Yara dengan lembut. Mengecup puncak kepalanya itu. "Tidak perlu mencari cara untuk tidak ikut ke acara itu. Karena aku tidak akan pernah mengizinkanmu tidak menemaniku malam nanti"
__ADS_1
Yara hanya diam saja, tidak menyangka kalau Fadil bisa tahu apa yang Yara rencanakan sebenarnya. Memang dia yang sedang mencari cara agar Fadil tidak jadi membawanya ke Pesta itu. Tapi suaminya itu malah sudah tahu semua rencana Yara.
"Tapi Sayang, aku malu..."
"Kau tidak pernah membuatku malu. Mau seperti apapun penampilanmu, kau adalah sosok malaikat yang mempunyai ketulusan untukku" ucap Fadil yang langsung memotong ucapan Yara.
Yara menoleh, dia tersenyum pada Fadil dengan lembut. Mungkin memang Yara harus menuruti keinginan Fadil ini. Karena dia sudah begitu tulus menerima Yara dengan keadaannya yang seperti ini.
"Sudah ya, jangan berpikir yang aneh-aneh. Kau tidak perlu mendengarkan apa kata orang lain, yang terpenting aku selalu mencintaimu" ucap Fadil sambil mengelus kepala Yara.
Mendengar hal itu membuat Yara mengangguk saja. "Yaudah, biar aku ambilkan jas dan tas kerja kamu ya"
"Tidak perlu, biar aku saja yang ambil sendiri. Kau habiskan saja sarapannya" ucap Fadil.
"Mulai deh, kenapa tidak menghabiskan sarapan kamu. Sayangku, harus jaga kesehatan" ucap Fadil sambil mengelus pipi Yara.
Yara hanya tersenyum saja, selalu merasa bahagia ketika Fadil bersikap seperti ini padanya. Meski sebenarnya Fadil juga pasti tahu kalau sebenarnya Yara memang belum menemukan kembali selera makannya yang benar. Karena memang dirinya yang masih bergantung pada semua obat-obatan dan berpengaruh pada selera makannya.
"Sayang, aku masih belum enak untuk makan makanan apapun"
Fadil merangkul bahu istrinya, mengecup pipi Yara yang masih tirus. Fadil selalu saja merasa bersalah karena belum bisa mengembalikan Yara seperti dulu. Istrinya itu masih terkena efek dari penyakit yang di deritanya.
"Nanti kita akan konsultasi lagi ke Dokter, dan membicarakan tentang selera makan kamu yang berkurang" ucap Fadil.
Yara hanya tersenyum saja, karena dia tahu kalau selera makannya belum kembali normal sejak sakit yang dia derita dan sekarang juga masih bergantung pada beberapa obat-obatan.
__ADS_1
Yara mengambilkan tas kerja dan jas milik suaminya. Lalu dia membantu memasangkan jas di tubuh suaminya itu. Sedikit membenarkan dasi yang terpasang di leher Fadil.
"Semangat kerjanya ya, hati-hati di jalannya. Jangan lupa makan dan minum vitaminnya ya" ucap Yara.
Fadil tersenyum, memang istrinya itu selalu saja memberikan peringatan seperti ini. Dia juga selalu mengingatkan Fadil untuk meminum vitamin yang memang sengaja Yara yang membelikannya. Mungkin agar Fadil lebih stabil untuk daya tahan tubuhnya. Apalagi Fadil yang sering gila kerja dan lupa dengan segalanya ketika sedang banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
"Terima kasih ya Sayang"
*********
Yara menghembuskan nas kasar ketika dia melihat pantulan dirinya di cermin meja rias. Sudah berusaha memakai makeup sebisa dirinya sendiri. Namun Yara tetap melihat dirinya yang tidak cantik. Rasa percaya dirinya yang rendah hanya karena penampilannya saat ini.
"Mau makeup setebal apapun, pipi aku tetap terlihat sangat tirus. Kelopak mata yang juga menghitam dan kepala aku yang tidak ada rambutnya"
Yara hanya menghembuskan nafas kasar, dia sudah memakai penutup kepala dengan sedikit aksesoris agar tidak terlihat biasa saja. Tapi masih saja dia merasa jika dirinya akan membuat Fadil malu. Tapi mau bagaimana pun, Yara juga tidak bisa menolak ajakan dari suaminya ini.
"Sayang..." Fadil baru saja pulang kerja, dia langsung mencari istrinya ke dalam kamar. Dan Fadil tersenyum melihat Yara yang sudah bersiap. "...Wah, istriku cantik sekali. Sudah siap untuk pergi ke Pesta ya, sebentar ya aku mau mandi dulu"
Yara hanya tersenyum saja mendengar ucapan Fadil barusan. Dia membantu Fadil untuk membuka jas dan kemeja yang di pakainya. "Mau aku siapkan air untuk mandi?"
"Tidak perlu, kamu sudah cantik begini, nanti malah basah terkena air. Sekarang kamu tunggu saja disini" ucap Fadil.
Dan Yara hanya menurut saja, dia membiarkan Fadil berlalu ke kamar mandi. Yara memilih duduk di pinggir tempat tidur sambil memainkan ponsel. Membalas beberapa pesan yang baru dia buka. Ada pesan dari Sarah dan Keanu. Dua orang itu yang selalu menanyakan tentang keadaan dan kabar Yara. Membuat Yara merasa jika dirinya tidak sendiri lagi, merasa jika dirinya mempunyai dua Kakak yang begitu perhatian padanya.
Bersambung
__ADS_1