Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
Kesempatan Kedua?!


__ADS_3

Sarah mengambil Sherin yang berada di dalam box bayi. Dia menatap adiknya yang malah hanya berdiri di dekat box bayi tanpa melakukan apapun.


"Ajeng, dia ini haus ingin susu. Apa kamu tidak mengerti keinginan dari anakmu sendiri"


Putri Ajeng malah terlihat sangat kebingungan, dia jelas tidak tahu apapun tentang bayinya. Lebih tepatnya tidak mau tahu. "Ya, aku memang tidak tahu apa keingianan dia. Sudahlah sekarang Kakak saja yang urus dia, aku ngantuk mau tidur dulu"


Melihat Putri Ajeng yang berlalu dari dalam kamarnya itu benar-benar membuat Sarah tidak habis pikir. Dia yang melahirkan bayi ini, tapi Sarah yang harus merawatnya seperti seorang Ibu sungguhan.


"Kamu haus ya Sayang, sebentar ya biar Tante buatkan kamu susu"


Sarah pergi ke dapur dengan masih menggendong Sherin menggunakan gendongan. Sarah membuatkan susu untuk keponakannya itu, dia sudah seperti seorang Ibu sungguhan saat ini. Sarah duduk di kursi meja makan sambil memberikan susu pada Sherin.


"Minum yang banyak ya biar kamu cepat besar dan bisa Tante ajak main deh"


Setetes air mata jatuh di atas kening bayi mungil dalam gendongannya. Selain karena dia yang sedih karena tidak di perdulikan oleh Ayahnya. Tapi dia juga sangat sedih ketika melihat Sherin yang harus menjadi korban dari keegoisan Ibunya. Membuat Sarah berpikir, jika besar nanti Sherin jangan sampai mengalami apa yang dia alami. Kurangnya mendapatkan kasih sayang orang tua. Bahkan hidup Sarah yang seolah tidak pernah di perdulikan sama sekali oleh keluarganya.


"Tidak papa Nak, kamu masih punya Tante yang akan menjaga kamu dan menyayangi kamu"


#######


"Apa saya benar-benar akan sembuh dengan semua pengobatan ini? Bahkan saya sudah melakukan operasi, tapi kenapa saya masih harus melakukan pengobatan seperti ini?"


Rasa lelah dalam diri Yara yang harus terus melakukan pengobatan yang menyakitkan itu hanya untuk menyembuhkan penyakit yang entah benar akan sembuh atau mungkin tidak sama sekali.


"Saya yakin kamu akan segera sembuh, pengobatan ini dilakukan untuk membunuh kanker yang bersarang di tubuh kamu. Saya yakin kamu akan kuat dan bisa menjalani semua ini, kamu harus tetap semangat Yara" kata Dokter yang selalu memberinya semangat untuk tetap menjalani pengobatan agar segera sembuh.

__ADS_1


"Tapi saya lelah Dok, kalau bisa saya juga tidak mau tinggal di rumah sakit dalam sisa hidup saya. Saya ingin rawat jalan saja"


Meski Yara juga tidak tahu dia akan tinggal dimana jika dia keluar dari rumah sakit, karena dia sudah tidak mempunyai tempat tinggal di kota ini. Namun Yara juga merasa bosan dengan keadaan di rumah sakit, setidaknya dia ingin menikmati suasana luar di sisa waktu hidupnya ini.


"Nanti akan saya pikirkan lagi untuk itu, tetap harus melihat kondisi kamu dulu untuk bisa menjalani rawat jalan di rumah"


Setelah Dokter keluar dari dalam ruangannya, tidak lama kemudian pintu ruangan kembali terbuka dan Fadil yang masuk ke dalam ruang rawat Yara itu.


"Kamu ingin pulang dan melakukan rawat jalan, aku bisa membantu kamu"


Yara menatap Fadil dengan bingung, kenapa juga pria itu bisa mengetahui percakapannya dengan Dokter barusan. Apa mungkin dia menguping?


"Mau apalagi kamu datang kesini Fadil? Aku 'kan sudah bilang sama kamu untuk tidak perlu datang lagi kesini dan menemuiku lagi"


Fadil tidak memperdulikan ucapan Yara, dia duduk di pinggir ranjang pasien. "Keanu yang memberi tahu aku kalau dia akan kembali ke luar kota. Jadi dia menitipkan kamu padaku"


"Aku bisa sendiri Fadil, kamu tidak perlu repot menjaga aku"


Fadil tersenyum, meski hatinya terasa sangat sesak ketika dia kembali mendapatkan penolakan dari Yara. "Sekarang gini, kamu beneran ingin keluar dari rumah sakit ini dan menjalani rawat jalan. Atau kamu akan tetap disini? Karena hanya aku yang bisa menjadi penjamin kamu ketika kamu keluar dari rumah sakit dan menjalani rawat jalan"


Yara menatap Fadil dengan lekat, dia memang sangat ingin keluar dari rumah sakit ini. Dia tidak sudah bosan berada di ruangan yang penuh dengan sensasi obat yang membuat Yara muak.


"Aku memang ingin keluar dari rumah sakit, tapi aku juga bingung harus tinggal dimana?"


Cup..

__ADS_1


Fadil meraih tangan Yara dan langsung mengecupnya. "Kita masih punya rumah yang belum pernah di tinggali sama kamu. Kita akan tinggal disana"


"Kita?"


Tentu saja kata itu membuat Yara sedikit bingung dan terkejut. Dia tidak mungkin tinggal bersama dengan Fadil, di saat pria itu masih menjadi suami dari wanita lain. Sudah dapat di pastikan hidup Yara tidak akan tenang jika dia kembali bersama dengan Fadil. Karena pastinya akan banyak masalah yang berdatangan ketika dia harus tinggal bersama dengan pri beristri.


"Aku sedang mengurus perceraian aku dan Ajeng, jadi kamu tidak perlu takut lagi untuk kita kembali bersama"


Yara menatap Fadil dengan wajahnya yang terkejut. Tentu saja dia tidak pernah mengetahui tentang hal itu. Dan kenapa Fadil harus bercerai dengan Putri Ajeng? Bukankah dia adalah pilihan Fadil.


"Kenapa? Bukankah dia pilihan kamu?"


Lagi-lagi Fadil harus tersenyum miris dengan ucapan Yara itu. Ya, memang dia yang telah memilih Putri Ajeng untuk dia nikahi. Tapi dia tidak benar-benar sepenuh hati saat memutuskan untuk menikah dengan Putri Ajeng pada saat itu. Karena memang dia yang hanya terjebak dengannya dan dia yang tidak bisa memungkiri jika saat itu dia cukup tergiur dengan tawaran yang diberikan oleh Bimo padanya.


"Ya, aku memang telah salah memilih. Seharusnya yang aku pilih itu kamu, bukan dia. Karena nyatanya hati aku hanya untuk kamu"


Yara tersenyum miris mendengar itu, sungguh dia bukannya senang saat mendengar ucapan Fadil itu. Karena nyatanya hatinya sudah sangat terluka dengan apa yang Fadil lakukan padanya.


"Kalau memang hanya pemilik hatimu, mungkin kamu tidak akan pernah mengkhianati cinta yang kita bina selama ini"


Fadil hanya diam dengan wajah yang menunduk, tangannya masih memegang lengan Yara. Mengecup kembali punggung tangan Yara dengan lembut. "Ra, aku tahu apa yang kamu rasakan. Pastinya kamu akan sangat kecewa padaku, tapi apa aku tidak bisa mendapatkan kesempatan kedua dari kamu, Yara?"


Deg..


Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan mereka berhak atas kesempatan kedua.

__ADS_1


Yara terdiam, perkataan Keanu saat itu kembali terngiang di telinganya. Kenapa perkataan Fadil dan Keanu bisa hampir sama persis seperti ini. Gumamnya dalam hati.


Bersambung


__ADS_2