Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 1 (Aku Rela Jika Kamu Ingin Mendua)


__ADS_3

Satu tahun sudah pernikahan Fadil dan Yara berjalan. Semuanya memang terasa baik-baik saja, apalagi Yara yang bisa merasakan bagaimana Fadil yang begitu mencintainya dengan tulus.


Namun Yara masih belum bisa memberikan kebahagiaan yang sebenarnya pada Fadil. Bagaimana dirinya yang selalu iri setiap bertemu dengan Putri Sarah dan Putri Ajeng yang sudah membawa anak mereka masing-masing. Sementara Yara belum merasakan hal itu.


"Sayang, dasi aku yang hadiah dari kamu itu dimana ya?"


Yara langsung menoleh pada Fadil yang baru saja keluar dari ruang ganti dengan kemeja yang sudah dikancingkan rapi, tapi kerahnya yang masih ke atas dan belum terpasang dasi.


"Yang mana Sayang? Aku gak inget pernah kasih kamu dasi deh, bukan dari aku kali" ucap Yara yang langsung berdiri dan menghampiri Fadil.


Fadil mengecup kening Yara yang sekarang berdiri di depannya. "Mana ada bukan dari kamu, aku inget banget kamu kasih dasi itu sama aku pas pertama kali aku diterima kerja, dulu"


Yara mengerutkan keningnya, mengingat-ngingat dasi mana yang pernah dia berikan pada Fadil. Sampai akhirnya dia ingat jika dia pernah mebelikan sebuah dasi untuk Fadil saat dia pertama kali diterima bekerja. Tapi itu sudah lama, apa memang Fadil masih menyimpannya.


"Sayang, itu sudah lama sekali. Memangnya kamu masih simpan dasi itu?" tanya Yara, tidak menyangka kalau sampai Fadil masih menyimpan dasinya.


"Aku masih menyimpannya, kemarin masih ada di laci dasi aku. Tapi sekarang malah tidak ada, padahal aku ingin memakainya" ucap Fadil yang terlihat kebingungan dengan dasi yang ingin dia pakai, tapi malah tidak ada.


"Dasi coklat ya..."


Yara seperti mengingat sesuatu. Kemarin dia melihat sebuah dasi yang tergeletak di dekat lemari, dan dia melihat dasi itu yang sudah lama dan mungkin sudah tidak di pakai lagi oleh suaminya. Jadi Yara membuangnya. Dia sama sekali tidak ingat kalau dasi itu adalah pemberian darinya.


"Ya ampun Sayang, dasi yang itu tidak sengaja aku buang kemarin. Hehe" ucap Yara dengan cengengesan.

__ADS_1


Fadil menepuk dahinya sendiri, memang istrinya ini selalu ada saja kelakuannya yang membuat Fadil kesal, tapi sekaligus gemas.


"Kenapa dibuang? Itu 'kan barang berharga yang aku dapatkan dari kamu. Ada cerita juga dibalik dasi itu" ucap Fadil menggeleng pelan.


Yara  hanya tersenyum saja, dia segera mengikuti suaminya yang berjalan masuk ke dalam ruang ganti. "Aku nemu dasi itu di lantai, lagian Sayang dasinya juga sudah jelek. Masa masih mau kamu pakai si. Aku carikan dasi yang lain saja ya, kan dasi kamu juga banyak"


Yara membuka laci besar yang dikhususkan untuk menyimpan dasi dan jam tangan disana. Deretan dasi dengan warna polos dan bercorak berjejer rapi disana. Yara melihat kemeja yang dipakai suaminya, lalu dia mengambil satu dasi untuk dipakaikan di suaminya.


"Pakai yang ini saja, ini bagus kok" ucap Yara yang langsung mengaitkan dasi di leher Fadil dan mulai memasangkannya.


Fadil masih saja cemberut karena kesal pada istrinya yang sudah membuang dasi kesayangannya itu. "Padahal dasi itu membawa keberuntungan untuk aku. Ish, kenapa juga malah kamu buang"


Yara terkekeh, dia saja yang memberi dasi itu untuk Fadil, bahkan tidak ingat kalau dasi itu adalah pemberiannya. "Nanti aku belikan lagi yang lebih bagus ya. Sudah jangan cemberut gitu, nanti gantengnya ilang"


"Emmpptt" Yara menarik dasi di leher Fadil agar suaminya itu menghentikan ciumannya ini. Sudah tahu Yara tidak bisa mengambil nafas jika ciumannya ini terjadi secara tiba-tiba seperti ini.


Fadil langsung melepaskan ciumannya, dia terkekeh geli melihat wajah memerah Yara yang kehabisan nafas, membuat dia langsung mencubit gemas pipi istrinya itu.


"Kenapa selalu lupa bernafas kalau berciuman dengaku?" ucap Fadil terkekeh pelan.


Yara memukul dada suaminya dengan kesal. "Karena kamu melakukannya terlalu tiba-tiba, jadi aku tidak siap. Ish, menyebalkan"


Bukannya marah dengan umpatan istrinya itu, Fadil malah menarik tubuh istrinya untuk masuk ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat, mengecup puncak kepala Yara yang masih beberapa helai rambut saja yang tumbuh. Tapi sama sekali Fadil tidak peduli dengan itu.

__ADS_1


"Sayangku, pokoknya harus tetap seperti ini ya. Jangan pernah berubah dan meninggalkan aku"


Melihat keadaan Yara yang mengalami sakit parah pada saat itu, membuat Fadil selalu takut kalau sampai Yara akan pergi meninggalkannya untuk selamanya. Fadil tidak akan siap untuk hal itu.


Yara mendongak, dia berjinjit untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Fadil, meski sebenarnya tetap saja tidak bisa menyamai. Yara mengecup dagu Fadil dengan lembut.


"Sepertinya aku tidak akan takut lagi kamu selingkuh. Kalau suatu saat kamu memang merasa tidak bahagia denganku dan merasa pernikahan ini tidak mendapatkan kesempurnaan. Langsung bilang saja padaku, kalau memang kamu ingin menikah lagi. Tapi aku sama sekali tidak akan meninggalkanmu. Tapi aku hanya akan rela melihatmu mendua"


Entah kenapa tiba-tiba saja Yara berucap seperti itu. Padahal hatinya sendiri tidak pernah rela jika hal itu sampai terjadi. Tapi karena keadaan Yara saat ini yang belum juga memberikan keturunan untuk Fadil, membuatnya merasa insecure dan merasa jika dirinya tidak memberikan kebahagiaan yang sebenarnya dalam pernikahan ini untuk suaminya. Sampai Yara berpikir terlalu jauh dan akan mengizinkan Fadil jika dia ingin menikah lagi.


Fadil langsung melepaskan pelukannya, tidak suka dengan ucapan Yara barusan. "Kau berpikir terlalu jauh, Yara. Sampai kapan pun aku tidak akan melakukan itu"


Fadil berbalik dan memasangkan dasinya sendiri, langsung menyambar jas dan juga tas kerja di atas meja disana. Fadil langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan istrinya disana yang berdiri mematung.


"Dia pasti marah dengan ucapanku barusan. Tapi mau bagaimana lagi, aku juga tidak bisa melarang dia jika suatu saat nanti dia akan menikah lagi. Aku sadar diri kalau aku tidak bisa memberikannya keturunan dan kesempurnaan dalam pernikahan ini"


Yara berjalan ke arah kursi dan meja bundar kecil di ujung ruangan ini. Dia duduk dikursi disana, menghembuskan nafas pelan. Perlahan tangannya mengelus perutnya yang rata, masih belum ada tanda-tanda dirinya akan hamil. Apalagi saat Yara masih bergantung pada obat-obatan yang diberikan Dokter. Membuat kesuburan hormon dalam tubuhnya berkurang karena semua obat-obatan itu.


Yara ingin berhenti meminum obat-obatan itu, tapi tidak bisa karena Fadil yang selalu langsung membawanya ke Dokter saat obat itu habis. Dan otomatis sebelum kondisinya benar-benar pulih dan stabil kembali, Dokter akan selalu memberikan obat itu. Meski semakin kesini dosisnya juga mulai berkurang.


"Semoga saja Tuhan memberikan keajaiban hingga aku bisa segera hamil dan memberikan keturanan untuk suamiku"


Harapan yang terus melambung tinggi, meski tidak tahu akan seperti apa nantinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2