
"Sayang kamu sudah selesai ganti bajunya?" tanya Yara dengan sedikit panik, dia langsung mengambil ponselnya dan mematikan layar ponselnya.
Delano berjalan menghampiri Yara, ikut naik ke atas tempat tidur. "Kamu sedang apa? Kok kayak kaget gitu pas aku panggil"
Yara tersenyum pada Fadil, dia menyimpan ponselnya di laci nakas. Sengaja disimpan disana, agar Fadil tidak membuka ponselnya. Takut kalau Fadil merasa penasaran hingga membuka ponsel miliknya. Tapi, semoga saja tidak.
"Bukan apa-apa, aku lagi nonton drama di ponsel aku. Pas lagi fokus banget, kamu manggil jadi agak kaget"
Yara menyandarkan kepalanya di dada Fadil, memeluk Fadil dengan hangat. Fadil hanya mengelus kepala Yara dan mengecupnya. Sudah tidak bisa dia tafsirkan lagi seberapa besar rasa sayangnya pada Yara. Karena setelah kepergian Yara dari hidupnya, Fadil benar-benar merasakan kehampaan dan kehilangan yang besar. Dia baru menyadari sebesar apa cintanya pada Yara dan se-berarti itu Yara baginya.
Tidur terlelap dengan saling berpelukan, Yara yang mulai bisa kembali tidur cukup lelap karena dia sudah menemukan kenyamannya kembali.
Pagi ini Yara terbangun dengan darah di atas bantal. Yara memegang hidungnya, dan dia baru menyadari jika telah mengalami mimisan kembali semalam. Kepalanya yang tiba-tiba pusing membuat Yara kembali menjatuhkan kepalanya di atas bantal. Menahan rasa sakit dan pusing yang dia rasakan.
"Sayang, kenapa?" Fadil yang baru saja selesai mandi langsung berlari ke arah Yara yang tidur meringkuk dengan darah di sekitar hidungnya yang sudah mengering.
"Hanya pusing sedikit, tidak papa kok. Maaf ya karena aku mengotori lagi seprei kamu"
"Kamu ngomong apa si? Ini bukan masalah yang harus kamu minta maaf. Sekarang yang terpenting adalah kesehatan kamu. Kepala kamu pusing?"
Yara mengangguk, dia masih bisa tersenyum dengan bibir pucatnya itu. Hanya mencoba untuk mnenangkan Fadil dengan keadaannya ini.
"Kita ke Dokter kalau gitu"
Yara langsung menggeleng pelan, tentu saja rasa pusing seperti ini hanya sebuah hal yang biasa Yara alami sejak dia terkena penyakit ini.
"Tidak perlu, pusingnya biasanya juga hanya sebentar. Pasti nantinya juga hilang dengan sendirinya"
Fadil mengelus kepala Yara dengan pelan, merasa sangat tidak berdaya saat dia tidak bisa membantu apapun disaat Yara merasakan kesakitan seperti ini.
__ADS_1
"Kalau bisa, aku rela menggantikan posisi kamu ini Yara. Aku tidak bisa terus melihat kamu kesakitan seperti ini, tapi aku tidak bisa melakukan apapun"
Yara meraih tangan Fadil, menggenggamnya dengan lembut. Mendekap tangan Fadil dalam pelukannya. "Aku tidak papa, kan kamu sendiri yang sering meyakinkan aku untuk tetap semangat untuk sembuh.Jadi kamu tidak perlu menggantikan sakit ku ini. Karena aku akan sembuh, ya 'kan?"
Fadil mengangguk dengan tersenyum, dia mengusap ujung matanya yang berair. Jujur saja berhadapan dengan Yara memang menjadikan Fadil pria yang lemah. Dia yang selalu lemah di hadapan Yara.
"Masih pusing gak?"
Yara menggeleng pelan, memang sekarang kepalanya sudah tidak terlalu pusing. Yara bangun dengan di bantu oleh Fadil. "Aku mau mandi dulu, kamu mau bekerja 'kan, berangkat saja sekarang. Nanti kalau sampai kamu terlambat bagaimamna?"
Fadil tersenyum, tentu saja tidak akan ada yang marah padanya jika memang dia terlambat sekalipun, karena sekarang dialah pemilik perusahaannya. Meski masih perusahaan yang tidak terlalu besar. Namun kemajuannya cukup pesat untuk ukuran perusahaan baru seperti ini. Mungkin karena Fadil yang sudah lebih mengerti dalam hal bisnis dan cara mengurus perusahaan dan memajukannya.
"Tidak papa, aku tidak akan kena marah kalau terlambat juga"
Yara menganguk, dia menatap Fadil dengan tatapan yang sulit di artikan. "Iyalah, kan kamu pernah menjadi menantu Tuan Bimo, jadi pastinya kamu sudah pernah menjadi bagian dari mereka juga"
"Sekarang aku hanya akan menjadi milikmu. Kamu tenang saja"
Yara mengangguk kecil, semoga saja sampai akhir hayatnya Fadil akan tetap hanya menjadi miliknya seorang. Karena Yara tidak akan sanggup jika harus kembali tersakiti lagi karena sebuah harapan cinta yang terkhianati.
"Yaudah, aku mau ke kamar mandi dulu"
"Aku bantu ya, kaki kamu masih sakit 'kan. Hanya bantu sampai depan kamar mandi saja. Tenang saja Sayang, aku tidak akan melakukannya jika kita belum menikah"
Yara mengangguk, dia percaya dengan Fadil. Karena memang Fadil selalu menepati janjinya, kecuali dengan janji cintanya. Dia yang pernah bilang akan setia dan hanya akan menikahi Yara. Namun ternyata dia tetap tergoda dengan godaan sesaat.
Fadil keluar dari ruang ganti setelah mengantar Yara sampai ke depan pintu kamar mandi. Duduk di pinggir tempat tidur. Fadil mengambil bantal Yara untuk mengganti sarung bantal yang sudah terkena darah itu. Dada Fadil terasa sesak saat dia melihat darah yang sudah mengering itu. Segera dia membuka sarung bantal dan menggantinya dengan yang baru.
"Ya Tuhan, semoga Yara akan baik-baik saja selamanya. Aku tidak akan bisa jika harus kehilangan dia lagi"
__ADS_1
Fadil yang sudah benar-benar menyadari jika Yara adalah orang yang paling berharga dalam hidupnya. Fadil tidak akan siap jika dia harus kehilangan Yara lagi, apalagi jika harus untuk selamanya. Fadil benar-benar tidak siap untuk itu.
"Aku menyayanginya, sangat menyayanginya. Tidak akan pernah aku membuat dia terluka lagi, tolong sembuhkan dia Ya Tuhan"
Memang hanya itu yang Fadil harapkan saat ini. Kesembuhan Yara dan dia bisa hidup bersama dengan Yara. Menjalani hidup yang bahagia.
Ting..
Ketika Fadil baru saja akan melangkah ke ruang ganti dengan membawa seprei dan sarung bantal yang kotor. Namun suara notifikasi dari ponsel Yara membuat Fadil sedikit penasaran. Dia menaruh kembali seprei kotor itu di atas lantai. Kembali duduk di pinggir tempat tidur dan mengambil ponsel Yara.
Notifikasi dari sosial media? Tumben sekali Yara membuka sosial medianya, biasanya dia jarang sekali membukanya. Erdinan mengirimkan sebuah pesan.
Fadil semakin penasaran saja, dia membuka kunci ponsel Yara yang ternyata tidak memakai pasword apapun. Masih sama dengan kebiasaan Yara dari dulu. Yara yang selalu menganggap ribet jika ponsel memakai pasword. Karena dia selalu bilang tidak pernah ada apapun yang harus dia rahasiakan di dalam ponselnya itu.
Fadil segera membuka sosial media Yara untuk melihat pesan yang di kirimkan oleh akun bernama Erdinan itu. "Mau apa ya dia mengirimi Yara'ku pesan? Atau mungkin hanya iseng saja"
"Sayang.."
Baru saja Fadil mengklik pesan di akun sosial media Yara. Namun Yara keburu keluar dari ruang ganti. Membuat Fadil langsung mematikan layar ponselnya dan menyimpannya kembali di atas nakas. Dia menghampiri Yara dan menuntunnya untuk berjalan ke arah meja rias.
"Sudah mandinya? Aku sisir rambutnya ya"
"Apa yang mau di sisir, Fadil?"
Deg..
Fadil terdiam seketika.
Bersambung
__ADS_1