
Sekarang Fadil mengerti bagaimana istrinya yang sebenarnya masih mempunyai trauma yang cukup besar pada dirinya. Lukanya terlalu besar untuk bisa disembuhkan secepat ini. Trauma yang begitu besar dalam diri Yara yang baru terlihat oleh Fadil.
Rasa tidak percaya dirinya hanya karena dia takut Fadil akan kembali berpaling melihat keadaannya sekarang. Karena dulu saja Fadil berani mengkhianatinya karena merasa bosan dengan penampilan Yara dan dia memilih untuk berpaling dan mencari kesenangan sesaat dengan Putri Ajeng yang sampai sekarang ini sangat dia sesali.
"Sekarang aku tahu kenapa kamu selalu mempunyai rasa tidak percaya diri yang tinggi. Maafkan aku Sayang karena sudah menyisakan trauma yang begitu besar pada diri dan hatimu"
Fadil mengelus kepala Yara yang tertidur dalam pelukannya. Mereka masih dalam perjalanan, namun keadaan Yara yang kelelahan membuat dia tertidur. Rasanya Fadil mulai bisa merasakan apa yang selama ini Yara rasakan. Sebuah trauma yang besar yang tidak bisa disembuhkan dengan begitu saja.
"Pak, apa sebuah pengkhianatan tidak akan mudah dimaafkan?" Entah apa yang membuat Fadil bertanya seperti itu pada Pak Supir. Namun, dia hanya ingin tahu saja bagaimana jawaban dari orang lain tentang pertanyaannya ini.
Pak Supir sedikit melirik Fadil dan Yara dari kaca sepion di atasnya. "Pengkhianatan seperti apa Tuan? Jika pengkhianatan terhadap pasangan, mungkin jika cinta pasangan kita sangat tulus dan seolah tidak ada lagi yang dia cintai di dunia ini selain orang itu dan Tuhannya..."
"....Maka sebuah pengkhianatan akan membuatnya sangat hancur. Seseorang yang mencintai dengan tulus, maka dia akan mempunyai banyak harapan dan tujuan bersama orang yang dicintainya. Namun jika pengkhianatan terjadi, maka semua harapan dan tujuan itu juga hancur. Bukan hanya hatinya saja yang hancur, tapi semua tujuan dalam hidupnya"
Fadil terdiam mendengar ucapan Pak supir. Entah kenapa semua yang dia hilang serasa sangat menusuk ke hati Fadil. Bagaimana dia yang banyak mempunyai tujuan bersama Yara, namun semuanya memang dirinya sendirinya hancurkan. Hingga sekarang menyisakan sebuah trauma dalam diri dan hatinya.
Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan sampai aku tidak sadar sudah membuat Yara terluka begitu dalam.
Fadil mengelus kepala Yara dengan lembut, mengecupnya beberapa kali sampai dia tidak sadar telah meneteskan air matanya mengenai kepala Yara. Mungkin semua kata maaf dan janjinya masih belum cukup untuk membuat Yara sadar dengan semuanya. Tapi semoga saja Fadil tetap bisa menyembuhkan luka itu dengan perlahan.
"Maafkan aku, mungkin kebodohan yang aku lakukan masih tidak bisa menghilangkan sebuah trauma dalam diri kamu"
Ya, ketika dulu Fadil bisa dengan mudah menanamkan sebuah luka dalam hati Yara. Maka sekarang dia juga harus siap untuk menyembuhkan luka itu dan mengobatinya dengan perlahan. Karena jika terlalu keras mengobatinya, maka akan semakin terasa sakit.
Perjalanan yang cukup panjang akhirnya berakhir juga, mereka telah sampai di rumah Sarah. Fadil mengecup pipi tirus Yara untuk membangungkannya.
"Bangun Yaraku, kita sudah sampai" bisiknya di telinga Yara.
__ADS_1
Yara mengerjap pelan, dia terlalu nyaman tidur dalam pelukan suaminya. Yara mengucek kedua matanya yang terasa perih, dia melirik ke arah jendela. "Sudah sampai ya"
Fadil mengangguk, dia mengecup pipi Yara sekali lagi. "Sayang, bagaimana keadaan kamu sekarang?"
Yara menoleh dan tersenyum pada Fadil. "Aku baik-baik saja, tadi hanya mabuk perjalanan saja. Sekarang ayok kita segera masuk, sepertinya sudah mulai acaranya. Terlihat sudah ramai juga"
Fadil mengangguk, dia turun lebih dulu lalu segera membantu istrinya untuk turun dari dalam mobil. Sementara barang bawaan mereka di bawakan oleh Pak supir. Fadil hanya fokus menuntun Yara untuk masuk ke dalam rumah Sarah yang sudah terlihat ramai.
"Sayang, aku tidak papa kok. Kamu jangan seperti ini juga, jangan perlakukan aku seperti orang sakit, meski memang aku sakit" ucap Yara.
"Sayang, kamu habis muntah-muntah tadi apa aku harus biasa saja. Kamu harus benar-benar aku jaga, aku tidak mau kalaj sampai kamu kenapa-napa" ucap Fadil.
Yara hanya tersenyum saja, melihat tatapan penuh khawatir dari suaminya memang membuat Yara bahagia. Karena Fadil memang benar-benar mencintainya dan semoga saja cinta mereka tidak terkhianat lagi.
Mereka masuk ke dalam rumah dan langsung menghampiri Sarah. Memberikan hadiah yang sudah disiapkan oleh Yara jauh-jauh hari. Yara menatap bayi mungil dalam gendongan Sarah dengan mata berbinar. Rasanya dia ingin juga menggendong anak bayi seperti itu.
"Putri Kiana, kamu mau gendong Ra" ucap Sarah, jelas melihat tatapan Yara yang begitu antusias.
"Memangnya boleh Mbak?"
Sara tersenyum melihat Yara yang begitu antusias. "Boleh dong, masa tidak boleh"
Yara tersenyum dengan antusias, dia sudah sangat tidak sabar untuk menggendong bayi itu. "Bentar Mbak, aku pakai handsanitizer dulu"
Fadil terdiam melihat istrinya yang benar-benar sangat antusias melihat bayi Sarah. Mungkin memang istrinya itu sangat menginginkan seorang bayi hingga dia begitu bahagia hanya dengan menggendong anaknya Sarah itu.
Sabar Sayangku, kita akan berjuang sama-sama untuk melewati semua ini. Suatu saat nanti kamu pasti bisa mempunyai bayi kita sendiri.
__ADS_1
Yara tersenyum melihat bayi mungil dalam gendongannya itu. Sangat bahagia karena bisa menggendong bayi ini, meski bukan bayinya. Tapi dia berharap dirinya akan segera mempunyai bayi seperti ini.
"Nak, do'akan Tante bisa segera punya bayi lucu seperti kamu ya" ucapnya sambil mengelus kepala bayi itu.
Sarah duduk disamping Yara, dia merangkul bahu Yara. "Kamu tenang saja, pasti nanti kalian juga akan mempunyai bayi"
Yara tersenyum pada Sarah, dia juga sangat berharap seperti itu. "Do'akan saja ya Mbak"
Saat Yara masih begitu asyik menatap bayi mungil dari di pangkuannya. Sherin berlari menghampiri Fadil yang berdiri tidak jauh darisana.
"Ayah.. Yah.." teriaknya yang masih belum benar-benar jelas.
Fadil langsung menoleh dan tersenyum pada Sherin. Fadil langsung berjongkok dan merentangkan tangannya agar Sherin masuk ke dalam pelukannya.
"Wah anak Ayah, sudah sembuh Nak?"
Sherin mengangguk dengan wajahnya yang menggemaskan. Fadi menggendong anak itu dengan terus mencium pipi gembil Sherin.
Putri Ajeng langsung menghampiri Yara, dia ingat tidak sempat berterima kasih padanya. "Hai Ra, maaf banget ya karena waktu itu banyak merepotkan Fadil"
Yara tersenyum, setidaknya semuanya sudah terselesaikan dan dia tidak mempermasalahkan lagi untuk saat ini. "Tidak papa. Oh ya, maaf karena aku tidak sempat menjenguk Sherin. Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Bersyukur karena sudah lebih baik, sekarang makannya juga sudah mulai lahap lagi"
Yara tersenyum mendengar itu. "Syukurlah"
Bersambung
__ADS_1