Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 24 (Gelang FY Fadil Dan Yara)


__ADS_3

Sebuah Restaurant berbintang yang akan menjadi tempat saksi mereka merayakan anniversarry pernikahan mereka ini. Fadil memesan salah satu ruangan VVIP, di ruangan ini sudah di hias dengan berbagai bunga dan riasan lainnya. Yara tersenyum penuh haru saat suaminya begitu banyak menyiapkan semua ini hanya untuk merayakan anniversarry mereka.


"Selamat anniversarry ya Sayang, semoga kamu selalu sehat dan bisa semakin sehat lagi" ucap Fadil, dia memeluk Yara dari belakang saat istrinya itu masih berdiri diam di depan meja.


Yara tersenyum, dia menatap sebuah kue indah di atas meja itu. "Rasanya masih tidak menyangka kalau hari ini kita akan merayakan annversarry ke 2 tahun pernikahan kita"


Sejenak Yara mengingat tentang suaminya yang dulu memilih untuk berkhianat setelah mereka merayakan hari jadian mereka yang ke dua tahun. Saat itu benar-benar membuat Yara sangat tidak bisa membayangkan semuanya. Karena sejak saat itu dia menderita sepanjang hidupnya.


"Ah, semoga di hari pernikahan kita yang ke dua tahun ini. Semua hal buruk yang pernah terjadi, tidak akan pernah terulang lagi"


Entah kenapa Yara mengatakan hal itu, tapi dia hanya takut saja jika apa yang pernah terjadi akan terulang kembali. Padahal jelasnya dia tidak akan pernah bisa melihat Fadil yang berpaling lagi untuk saat ini. Karena Yara sangat mencintainya dan ingin selalu bersama dengannya.


"Sayang, kamu jangan takut lagi ya. Aku bahkan sudah berjanji pada diriku sendiri, bukan hanya pada kamu. Aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama padamu" ucap Fadil, seolah dia mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya ini.


Yara mengangguk pelan, dia berbalik dan menatap suaminya dengan lekat. Mengelus pipi Fadil dengan lembut. "Kita hanya bisa berdo'a semoga kita akan selalu bersama dan bahagia"


Fadil mengangguk mendengar itu, tentu saja dia tidak akan pernah membuat Yaranya terluka lagi. Karena sudah terlalu banyak luka yang dia dapatkan dari Fadil.


"Sekarang ayo duduk, aku sudah pesan makanan spesial untuk makan malam kita" ucap Fadil.


Yara mengangguk, dia duduk di kursi yang ditarik oleh Fadil untuk dirinya duduki. Mengucapkan terima kasih pada suaminya itu. Yara menatap beberapa hidangan di atas meja, dengan sebuah cake yang berada di tengah-tengah.


"Kamu banyak sekali memesan makanan ini, kalau tidak habis bagaimana? Lagian makan aku juga tidak sebanyak dulu sekarang ini" ucap Yara.

__ADS_1


Fadil tersenyum mendengar itu, dia membantu untuk memotongkan steak, lalu dia menukarkannya dengan milik Yara agar memudahkan istrinya itu untuk memakan makanannya.


"Kamu harus banyak makan, biar tubuh kamu tidak kurus kering begitu. Pipi kamu jadi tirus banget begitu" ucap Fadil.


Yara hanya tersenyum saja mendengar itu, tentu saja dia tidak akan pernah melupakan bentuk tubuhnya di masa lalu. "Ah, aku tidak mau gendut lagi seperti dulu. Nanti kamu merasa bosan dan berpaling lagi, aku harus menjaga bentuk tubuh mulai sekarang"


Fadil terdiam sejenak, dia meraih tangan Yara dan menggenggamnya dengan lembut. "Sayang, kamu jangan seperti ini, aku memang pernah melakukan hal bodoh itu. Tapi tolong jangan membuat aku semakin merasa bersalah ketika kamu merasa takut untuk makan banyak saja"


Yara tersenyum mendengar itu, dia menggeleng pelan menyangkal ucapan Fadil barusan. "Aku tidak takut makan banyak kok, tapi memang sekarang porsi makanku hanya sedikit"


"Bukan karena kamu takut gendut 'kan? Kamu harus banyak makan, biar kamu bisa semakin sehat"


"Iya, iya"


"Sayang, aku hanya bisa mendo'akan kamu agar semakin sukses, bahagia dan sehat selalu. Aku tidak bisa memberikan apapun untuk kamu, ini hanya sebuah ucapan terima kasih aku saja untuk kamu karena sudah menjadi suami yang terbaik dan sabar menghadapi aku selama ini" ucap Yara sambil menyodorkan kotak kecil yang di bawanya untuk Fadil.


Fadil tersenyum, entah kenapa matanya sampai berkaca-kaca, bahkan sekarang Fadil tidak bisa menahan diri untuk tidak meneteskan air matanya karena merasa terharu dengan ucapan Yara barusan. Fadil meraih kotak itu dan membukanya, sebuah jam tangan yang indah terlihat di dalam kotak itu.


"Sayang, terima kasih banyak ya. Padahal aku tidak mengharapkan hadiah apapun dari kamu. Yang terpenting aku hanya ingin melihat kamu sembuh dan bisa lebih sehat lagi" ucap Fadil, dia membuka jam tangan mewah yang dipakainya, lalu menggantinya dengan jam tangan yang baru saja diberikan istrinya itu sebagai hadiah.


"Tidak usah dipakai sekarang juga, itu hanya jam tangan murahan loh" ucap Yara.


Fadil tersenyum mendengar itu, dia tidak peduli jika sebuah barang yang diberikan istrinya itu barang mahal atau bukan, yang terpenting dia menyukainya dan selalu merasa bahagia ketika mendapatkan sebuah hadiah dari istrinya itu.

__ADS_1


"Semua barang yang kamu berikan adalah sebuah barang yang istimewa dan mewah. Aku akan senang memakainya" ucap Fadil.


Yara hanay tersenyum saja mendengar itu, setidaknya dia bisa melihat suaminya yang bisa menerima pemberian darinya itu.


Fadil berdiri dan mengeluarkan semua kotak kecil dari dalam saku jasnya. Dia mendekati Yara, berlutut di depan istrinya dengan satu kaki yang dilipat dan lututnya bertumpu pada lantai. Fadil membuka kotak itu di depan istrinya. Sebuah gelang indah dengan inisial FY dibagian atasnya, sungguh sangat indah.


"Sayang..." Yara sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Dia sudah memiliki kalung dengan inisial nama mereka itu, dan sekarang Fadil memberikan sebuah gelang dengan inisial FY yang sama.


"Pokoknya, kita harus tetap bersatu dalam hal apapun dan kita harus terus bersama. Dan gelang ini semoga akan menjadi sebuah tanda kebersamaan kita agar tidak bisa berpisah lagi, apapun yang terjadi" ucap Fadil.


Dia meraih tangan Yara dan memasangkan gelang indah itu di tangan istrinya. Terlihat sangat indah dan cocok dengan kulit Yara yang putih. "Sangat pas dan cocok sekali dipakai oleh kamu, Sayang"


Yara tersenyum sambil menatap pergelangan tangannya yang terpasang gelang indah itu. "Terima kasih ya Sayang, aku suka sekali dengan gelangnya"


Dan malam ini benar-benar membuat semuanya terasa sangat indah. Bagaimana mereka yang bisa melewati banyak rintangan selama ini dan akhirnya bisa bertahan sampai selama ini dalam sebuah pernikahan.


Setelah mereka selesai dengan makan malam romantis ini. Segera saja mereka pergi ke rumah Putri Ajeng, memenuhi undangan dari Felix saat tadi.


"Kita beli apa dulu buat Sherin? Masa datang tidak membawa apa-apa" ucap Yara sambil melihat-lihat penjual makanan di pinggir jalan itu.


Dan mereka memutuskan untuk membeli kue dan beberapa buah untuk Sherin. Anak itu memang suka sekali kue dan buah-buahan. Yara juga sudah tidak cemburu lagi dengan anak kecil itu, karena dirinya tahu kalau sekarang Sherin sudah mempunyai Ayahnya sendiri yang akan lebih bertanggung jawab. Tidak akan melibatkan lagi Fadil.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2