
Yara yang sedang duduk di atas sofa di dalam kamarnya terkejut saat mendengar suara pecahan kaca yang begitu kencang dari ruang tengah sepertinya.
Prankk..
"Keluar kau Yara"
Teriakan itu semakin membuat Yara terkejut, dia segera keluar kamar dan berjalan perlahan menuju ruang tengah. Serpihan kaca yang berserak di atas lantai membuat Yara berjalan dengan sangat hati-hati karena takut kakinya akan mengenai serpihan-serpihan kaca itu.
"Kau!"
Yara terdiam dengan segala keterkejutannya ketika Putri Ajeng yang mengguncang tubuhnya dengan sangat kuat. Terlihat kilatan amarah di balik tatapan mata Putri Ajeng padanya.
"Lepasin aku"
"Kau yang sudah membuat aku menderita Yara. Kenapa kamu harus kembali dalam kehidupan Fadil, sampai saat ini anak aku tidak mempunyai seorang Ayah karena kamu!"
"Ma-maaf Ajeng, tapi aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya.."
"Halah, alasan kau"
Putri Ajeng mendorong Yara sampai dia terjatuh di atas lantai. Kakinya terkena serpihan kaca itu hingga mengeluarkan darah segar. Yara meringis pelan sambil memegangi kakinya yang terluka.
"Ajeng, aku minta maaf untuk semua itu. Tapi dari awal memang aku dan Fadil sudah bersama, dan kamu yang datang ke hubungan kita"
Putri Ajeng semakin saja marah mendengar ucapan Yara itu. Dia yang tidak terima dengan ucapan Yara yang seolah sedang menyudutkan dirinya sebagai perusak hubungan dia dan Fadil.
Yara mundur dengan dengan kakinya yang terluka, darah dari kakinya membekas di lantai. Yara yang sedang sakit dan kondisinya yang sangat lemah, tidak akan mungkin sanggup melawan Putri Ajeng yang jelas sehat.
Dan meskipun begitu, Yara memang bukan wanita pemberani pada awalnya. Dia hanya seorang gadis pemalu dan yang sering menjadi korban bullu sejak sekolah. Alasannya hanya satu, karena tubuhnya yang berisi membuat dia selalu tidak percaya diri pada siapa pun. Dan hal itu yang membuat orang-orang lebih senang membullynya.
__ADS_1
"Maaf Ajeng, tapi aku tidak bisa melepaskan lagi Fadil untuk kamu. Karena sekarang dia sudah benar-benar ingin melanjutkan hubungan yang serius dengan aku"
Arghh...
Yara menjerit kencang ketika kaki Putri Ajeng dengan sengaja menginjak jari tangannya hingga kemerahan. Seolah tidak puas dengan semua itu, Putri Ajeng juga membuka penutup kepala yang Yara gunakan dengan kasar. Tertawa sendiri ketika dia melihat penampilan Yara yang tidak baik-baik saja itu.
"Kau bilang Fadil akan melanjutkan hubungan yang serius dengan kamu? Lihat dan sadar diri dengan penampilan kamu ini"
Yara hanya terdiam mendengar itu, dia tahu bagaimana keadaannya sekarang yang sebenarnya memang tidak pantas untuk bisa bersanding dengan Fadil yang tampan. Tapi Fadil telah meyakikan Yara jika dirinya memang sudah siap untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan Yara dan akan menerima keadaannya yang seperti ini. Itu yang membuat Yara yakin jika Fadil memang benar-benar serius dengan semua yang dia ucapkan.
"Ya Tuhan, Nona.."
Pelayan yang biasa berada di rumah, dan dia sudah izin untuk pergi ke pasar dengan penjaga di luar yang mengantarnya. Yara juga mengizinkan saja karena memang biasanya jika pergi ke pasar tidak akan lama dan tidak ada yang terjadi padanya seperti hari ini.
"Pak tolong Pak, Nona Yara.."
Penjaga di luar pun langsung berlari ke dalam rumah dan menahan Putri Ajeng yang menjambak rambut Yara yang tinggal beberapa helai itu. Membawa dia keluar dan menahannya.
"Baik"
Mbak membantu Yara untuk duduk di sofa, dia mengambil ponselnya dan menghubungi majikannya itu. Setelah menghubungi Fadil, Mbak pelayan langsung mengambil kotak obat untuk mengobati luka Yara.
"Maaf ya Nona, karena saya pergi ke pasar malah mengajak Pak Samsul. Setelah ini saya janji jika pergi belanja hanya akan pergi sendiri. Sekali lagi maafkan saya ya Nona"
"Tidak papa Mbak, kan biasanya juga kalau Mbak pergi tidak ada kejadian apapun. Ini bukan pertama kalinya Mbak pergi ke pasar bersama Pak Samsul. Mungkin hari ini memang lagi apesnya saya saja"
Yara memegang kepalanya yang masih terasa pusing akibat jambakan Putri Ajeng. "Mbak tolong ambilkan penutup kepala saya itu"
Yara menghela nafas pelan ketika dia melihat banyak rambutnya yang berjatuhan di atas lantai karena jambakan Putri Ajeng yang sangat kuat. Tidak seperti itu saja memang rambutnya sudah sangat rontok sejak terkena penyakit ini.
__ADS_1
"Ini Nona"
Yara langsung mengambil penutup kepala itu dan memakainya kembali. "Maaf ya Mbak, pastinya Mbak jijik ya melihat penampilan saya ini"
Mbak menggeleng, dia malah memeluk Yara dengan erat. Tentu dia tidak merasa jijik seperti apa yang dikatakan oleh Yara barusan. Justru dia merasa kasihan dan prihatin melihat kondisi Yara saat ini.
"Jangan bicara seperti itu, Nona. Karena saya tidak sedikit pun merasa jijik pada Nona. Saya yakin anda bakal baik-baik saja. Nona itu cantik, pastinya Tuan Fadil tidak akan mampu berpaling dari Nona apapun yang terjadi"
Yara hanya tersenyum mendengar itu, tentu saja Mbak pelayan ini tidak mengetahui kisah mereka yang sebenarnya. Karena dia baru bekerja setelah Fadil berpisah dengan Putri Ajeng dan membawa Yara sebagai calon istrinya. Pastinya dia menyangka jika Yara memang calon istri pertamanya. Makanya dia berbicara seperti itu.
######
Fadil baru saja sampai di depan rumahnya, dia langsung turun dari dalam mobil dan berjalan cepat menuju Pak Samsul yang masih menahan Putri Ajeng.
"Mau apa kau datang kesini dan mengganggu wanitaku?!"
Fadil menarik tangan Ajeng dengan kasar dan mendorongnya hingga jatuh ke atas tangga di teras depan rumahnya itu. "Ingat ya, kalau sampai terjadi apa-apa dengan wanitaku. Jangan pernah berharap aku akan diam saja dan memaafkanmu begitu saja"
Saat Fadil sudah siap masuk ke dalam rumah, Putri Ajeng langsung menahan kakinya. Memeluk kaki Fadil agar tidak langsung melangkah masuk ke dalam rumah.
"Fadil, aku mohon jangan tinggalkan aku. Jangan meninggalkan aku dan anak kita, Fadil. Kamu tidak boleh meninggalkan aku dan anak kita"
Fadil menghembuskan nafas kasar, salah dirinya juga yang telah membiarkan Putri Ajeng masuk ke dalam kehidupannya dan Yara. Hingga sekarang dia hampir membahayakan Yara yang sedang sakit karena Putri Ajeng yang tidak terima dengan keputusan Fadil ini.
"Kamu harus sadar Ajeng, jika cinta aku dari awal memang bukan untuk kamu. Aku hanya mencintai Yara, dan kamu hanya sebagai pelampiasan sementara saja"
Ya, memang itu sebenarnya itu yang terjadi. Fadil yang hanya mencintai Yara sebenarnya, hanya saja dia yang sempat merasa bosan dengan rutinitasnya bersama dengan Yara. Membuat dia memilih berpaling pada Ajeng. Dan akhirnya dia harus terjebak dengan Putri Ajeng.
Bersambung
__ADS_1