Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 17 (Bukan Ayah Yang Baik)


__ADS_3

Suasana masih begitu ramai, hanya tinggal Bimo, Fadil, Yara dan Keanu saja disana dan beberapa pelayan yang mulai membereskan bekas acara malam ini. Fadil sama sekali tidak pernah jauh dari istrinya ini, sekarang saja mereka duduk berdampingan disebuah sofa dengan tangan Fadil yang terus menggenggam tangan Yara dengan sesekali mengecupnya lembut.


"Semoga kalian bisa segera menyusul ya, kamu harus yakin Ra kalau kamu itu bisa menjadi seorang Ibu" ucap Keanu dengan tulus.


Yara mengangguk sambil tersenyum, mendapat do'a seperti itu selalu membuat dia senang. Berharap diantara do'a orang-orang itu akan ada yang segera terkabul dan didengar oleh Tuhan.


"Do'akan saja ya Mas, semoga saja bisa segera menyusul" ucap Yara.


Fadil mengecup punggung tangan istrinya, seolah sedang memberi tahu Yara jika dirinya akan selalu bersamanya apapun yang terjadi nantinya. Karena sudah pernah sekali Fadil meninggalkan Yara, dan kehidupannya jelas tidak lebih baik dari saat dia bersama dengan Yara.


"Papi!"


Teriakan Sarah itu langsung membuat semua orang menoleh ke arahnya dengan sedikit terkejut. Terlihat Putri Sarah yang menggandeng adiknya dan menghampiri Bimo yang sedang berdiri di dekat sebuah meja bundar sambil memegang gelas minuman di tangannya.


"Ada apa Sarah, Ajeng? Kenapa kamu teriak seperti itu pada Papi" ucap Bimo, menatap kedua putrinya dengan bingung.


Sarah menatap Ayahnya dengan mata yang menyala. Masih tidak bisa menghindari kekesalannya dari Ayahnya itu. "Kenapa Papi hebat sekali menjadi seorang pembohong. Bahkan sudah bertahun-tahun menyembunyikan kebenaran yang ada. Aku saja, sampai tidak tahu tentang hal ini. Hebat sekali Papi ini"


Bimo mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan ucapan Sarah barusan. Sepertinya bukan hanya Bimo saja yang merasa bingung, tapi yang lainnya juga merasa kebingungan.


"Apa maksudmu? Memangnya apa yang Papi sembunyikan dari kamu?"

__ADS_1


Sarah tersenyum tipis, dia melirik adiknya yang hanya menunduk saja dibelakangnya ini. "Dulu, aku kira hanya aku yang Papi kekang dengan semuanya. Keinginan aku, pekerjaan aku, mimpi aku. Bahkan aku yang ingin menentukan universitas saja, Papi selalu mengaturnya. Aku tidak bisa melakukan apa yang aku suka hanya karena Papi tidak suka dengan hal itu"


Sarah kembali menatap ke arah Ayahnya dengan lekat, tentunya dia tidak akan pernah lupa bagaimana masa muda yang tidak pernah bisa mengambil keputusan sendiri bahkan untuk kehidupannya sendiri. Semuanya harus atas persetujuan Papi dan apa yang dia inginkan, bukan apa yang anaknya suka dan inginkan.


"Setelah usia Sherin dua tahun lebih, aku bahkan baru tahu siapa Ayah kandung dari anak itu dan Papi sembunyikan semua itu hanya karena apa? Hanya karena sebuah persaingan bisnis? Iya?"


Bimo langsung terdiam mendengar ucapan Sarah barusan. Bahkan dia sudah lama tidak ingin mengingatnya lagi, apalagi ketika dia melihat kehancuran Ajeng setelah kelahiran Sherin dan malah harus bercerai dengan Fadil. Jelas semua itu bukan salah Fadil atau Ajeng sendiri. Tapi yang paling bersalah itu hanya dirinya sebagai seorang Ayah yang terlampau egois pada anak-anaknya.


"Sarah, darimana kamu mengetahuinya?" tanya Bimo dengan sedikit bergetar.


Sarah tersenyum sinis, dia mengusap kasar air matanya yang menetes begitu saja. "Sekarang aku mengerti kenapa dulu Mami lebih memilih pergi meninggalkan Papi hingga akhirnya dia meninggal dunia. Karena apa? Keegoisan Papi ini hanya banyak menghancurkan banyak harapan orang lain"


"Kak sudah" lirih Putri Ajeng sambil menggerakkan tangan Kakaknya.


Bimo terdiam mendengar itu, tentu saja dirinya juga merasa penyesalan atas apa yang dia lakukan pada kedua putrinya ini. Hanya saja dia belum berani menunjukan penyesalannya itu dan mengaku salah atas semua yang pernah dia lakukan pada kedua putrinya yang sejak dulu selalu menjadi anak yang dia kekang.


"Maafkan Papi, Nak"


Sarah tersenyum tidak percaya mendengar ucapan maaf dari Ayahnya ini. Lagi, Sarah mengusap air matanya yang menetes begitu saja. "Aku tidak butuh kata maaf dari Papi, aku hanya ingin Papi bisa mengerti perasaan kami sebagai seorang anak. Kenapa harus mementingkan keinginan Papi sendiri, tanpa memikirkan perasaan anaknya sendiri"


Pada saat itu seorang pelayan datang menghampiri mereka, mengatakan jika Sherin terbangun dari tidurnya. Melihat keadaan yang sedang tidak kondusif, membuat Yara langsung mengajak suaminya untuk pergi melihat Sherin. Dia juga mengambil alih bayi Sarah dari gendongan Keanu. Sengaja membiarkan permasalahan keluarga ini mereka selesaikan.

__ADS_1


Keanu menghampiri istrinya yang sedang marah besar itu. Merangkul bahu istrinya itu dan mencoba untuk menenangkannya. "Sudah Sayang, jangan terlalu marah-marah seperti ini. Kamu baru saja melahirkan dan tidak baik untuk kesehatan kamu ini"


Bimo menatap kedua putrinya yang mendapatkan banyak tekanan darinya selama ini. Rasa bersalah yang semakin besar melihat keduanya ini.


"Maafkan Papi, Sarah, Ajeng. Maaf karena selama ini Papi selalu membuat kalian kecewa dan tidak pernah mengerti perasaan kalian" ucap Bimo dengan rasa bersalah yang besar.


Kali ini Ajeng yang mendongak, dia berjalan dua langkah ke hadapan Ayahnya itu. Menatapnya dengan mata yang basah. "Sebenarnya hal yang paling aku selali bukan karena aku menjadi seorang gadis yang hamil diluar nikah hanya karena hubungan terhalang restu orang tua. Hanya ada satu rasa penyesalan dan rasa bersalah yang sangat besar dalam diriku untuk saat ini..."


Ajeng mengusap air matanya yang kembali mengalir di pipinya. Sampai sekarang dia masih belum bisa menghentikan air matanya ini.


"...Aku yang harus menghancurkan pasangan saling mencintai, memanfaatkan waktu disaat prianya sedang merasa bosan pada kekasihnya. Hingga aku hampir saja membuat Yara meninggal karena penyakitnya yang tidak diketahui. Penyesalan terbesar aku adalah menghancurkan hubungan mereka hanya demi kepentingan diriku sendiri. Ya, aku sadar jika aku juga mempunyai sikap egois yang sama dengan Papi"


Putri Ajeng langsung berlalu dari hadapan Ayahnya itu. Rasanya dia sudah tidak sanggup membahas semuanya, tentang hidupnya yang dipenuhi kebohongan dan tidak baik-baik saja selama ini. Dan saat ini Putri Ajeng sedang merasakan lelah dengan semuanya.


"Sekarang terserah Papi mau seperti apa, karena mungkin adalah sebuah kebahagiaan untuk Papi ketika anak-anaknya menjalani kehidupan seperti yang Papi inginkan, meski kita tidak bahagia. Aku sudah lelah, sudah tidak mampu lagi untuk berdebat dengan Papi" ucap Sarah yang ikut pergi darisana.


Keanu hanya menghela nafas pelan melihat pertengkaran ini. Dia menatap mertuanya itu. "Sebaiknya Papi pikirkan dan renungi semua yang telah Papi perbuat pada kedua putri Papi itu. Dan biarkan saja dulu mereka berdua tenang"


Keanu pun langsung menyusul istrinya, sementara Bimo hanya terdiam ditempatnya. Dia menyimpan gelas minuman yang sejak tadi dia pegang dengan tangan sedikit bergetar. Lalu dia berjalan ke arah sofa dan menjatuhkan tubuhnya disana.


"Aku memang bukan Ayah yang baik"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2