
Kedatangan Yara dan Fadil begitu di sambut hangat oleh Sarah dan Keanu. Yara melihat banyak orang yang begitu bahagia, saling mendo'akan untuk kehamilan Sarah. Yara terdiam di sofa sambil menatap semua orang itu, rasanya dia juga sangat menginginkan saat itu. Dimana dirinya mengandung anak dari suaminya. Namun harapan itu seolah tidak lagi besar, ketika dia mengingat bagaimana keadaannya saat ini.
"Ra"
Panggilan itu membuat Yara langsung menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya itu. Ternyata itu adalah Sarah, dia duduk di samping Yara.
"Kenapa diam saja disini, makan sana"
Yara tersenyum, dia menatap Sarah dengan lekat. "Kak, boleh gak aku pegang perutnya"
"Tentu saja"
Yara tersenyum, perlahan dia mengangkat tangannya ke arah perut Sarah yang terlihat baru saja membuncit. Yara merasa sangat senang ketika dia bisa merasakan mengelus perut Sarah.
"Bagaimana rasanya hamil, Kak?"
Sarah tersenyum, dia sedikit berpikir untuk menjawab pertanyaan Yara barusan. "Emm. Gimana ya, rasanya ya gitu Ra. Pas tahu aku positif hamil, rasanya senang sekali. Apalagi ketika aku mulai merasakan getaran dan detak jantungnya untuk pertama kali"
Yara ikut tersenyum mendengarnya, dia membayangkan bagaimana nanti jika dia hamil. Pastinya akan merasakan hal yang sama seperti Sarah. "Semoga aku juga bisa segera hamil ya Kak, aku juga ingin merasakan apa yang Kak Sarah rasakan saat hamil"
Sarah memegang tangan Yara yang berada di perutnya. "Kamu pasti akan segera nyusul ya, katanya kalau mau cepat hamil harus di injak oleh orang yang sedang hamil. Sini kakinya biar aku injak biar kamu cepat ketularan hamil"
Yara tersenyum, dia pasrah saja ketika Sarah menginjak kakinya. Tentunya hanya sebuah injakan pelan. Sebenarnya hatinya sangat berharap jika ucapan Sarah adalah benar. Jadi dia bisa cepat hamil.
"Sudah ah, ayo kita makan. Kamu belum makan apapun kan selama disini. Ayo dong, nikmati hidangannya. Aku ambilin ya"
"Tidak usah Kak, aku bisa ambil sendiri"
"Oh ya, suami kamu dimana Ra?"
__ADS_1
"Gak tahu ya Kak, mungkin pergi kesana. Aku cari Fadil dulu ya Kak"
"Oke Ra, jangan lupa ambil makanan ya"
Yara mengangguk, dia berjalan mencari suaminya. Fadil tadi izin ke kamar mandi, tapi sampai saat ini belum juga kembali. Yara berjalan ke arah pintu belakang rumah ini. Sampai Yara melihat suaminya di taman belakang rumah ini. Yara tersenyum melihat Fadil yang sedang mengajak main Sherin. Tentu Yara tahu jika Fadil juga menyukai anak kecil.
"Say....."
Yara tidak jadi memanggil suaminya, ketika melihat Putri Ajeng yang berjalan ke arah Fadil dan Sherin. Terlihat keduanya sangat senang mengajak main Sherin. Keduanya tertawa dengan lepas saat melihat tingkah Sherin yang menggemaskan.
Refleks saja tangan Yara memegang perutnya sendiri. Dia tahu jika di balik ucapan Fadil yang selalu menguatkan Yara yang merasa tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk Fadil dengan memberikannya keturunan. Namun sekarang Yara bisa melihat, bagaimana Fadil yang terlihat sangat senang bersama dengan Sherin. Menandakan jika Fadil juga menginginkan hadirnya seorang anak dalam pernikahan mereka ini.
"Kenapa ya Fadil harus melepaskan Putri Ajeng. Padahal dia bisa memberikan dia keturunan secepatnya. Mungkin saja jika hubungan mereka berlanjut, pastinya dia akan mempunyai anak lagi yang jelas anaknya Fadil"
Yara, kenapa harus berpikir seperti itu si?
Yara kembali masuk ke dalam rumah dan tidak jadi menemui suaminya yang terlihat bahagia sekali bisa bermain dengan Sherin.
"Loh Ra, kok disini. Ayo ambil makanan, malah diam saja disini"
Yara mengangguk dan tersenyum, dia pergi ke stand makanan dan mengambil makanan. Hanya makanan ringan saja, dia tidak sedang ingin makan makanan berat. Sebenarnya dia juga tidak ingin makan, jika Sarah yang tidak memaksanya untuk makan.
Yara duduk di sebuah sofa, memakan salad buah yang dia ambil tadi. Bayangan Fadil yang bisa tertawa lepas ketika bersama dengan Putri Ajeng, kembali terlintas dalam ingatan Yara. Dia menghela nafas pelan, mengingat itu semua. Bohong! Kalau Yara tidak merasakan cemburu dan sedih melihat suaminya bisa tertawa bahagia bersama dengan mantan istrinya. Tapi dia hanya mencoba untuk berpikir jernih saja, mencoba untuk tidak memperburuk suasana hatinya.
######
"Emm. Fadil"
Fadil menoleh pada Putri Ajeng, dia memang tidak sengaja bertemu dengannya di saat dia kembali dari kamar mandi dan melihat Putri Ajeng yang sedang kewalahan untuk menenangkan Sherin. Akhirnya Fadil menghampirinya karena dia tidak tega ketika melihat Sherin yang terus tantrum.
__ADS_1
Dan akhirnya dia membuat Sherin tenang dan bermain dengan anak itu. Meski Fadil sudah tahu jika Sherin memang bukan anak kandungnya, tapi dia sama sekali tidak membenci anak itu. Karena dia tahu jika Sherin tidak salah apapun dalam hal ini. Anak kecil sebesar itu tentu saja tidak akan mau lahir ke dunia dalam keadaan dan situasi seperti ini.
"Ada apa?"
"Fadil, aku benar-benar minta maaf ya karena sudah membuat kamu berpisah dengan Yara. Aku sadar sekarang, jika memang cinta tidak akan bisa di paksa meskipun aku sudah melakukan segala hal cara untuk bisa mendapatkan kamu. Tapi, nyatanya hanya Yara yang kamu cintai. Maafkan atas semua kesalahan aku ya, Fadil. Sekarang aku tidak akan pernah mengganggu kamu dan Yara lagi"
Fadil mengangguk pelan, dia tahu dan mengerti dengan maksud Putri Ajeng. Dia jelas melihat bagaimana perubahan mantan istrinya ini. Putri Ajeng yang sudah mau merawat anaknya, meski terlihat sekali jika dia belum terbiasa hingga sering kewalahan.
"Aku sudah memaafkan kamu, sekarang kamu hanya perlu benar-benar berubah dan menjadi Ibu yang baik untuk anak kamu ini. Jangan memikirkan hal yang sudah terjadi, sekarang pikirkan saja tentang masa depan kamu dan kebahagiaan kamu"
Fadil memindahkan Sherin yang terlelap dalam gendongannya pada pangkuan Putri Ajeng. "Dia sudah tidur, kamu tidurkan saja dia di kamar dengan perlahan. Aku mau lihat istriku dulu"
"Iya, makasih ya Fadil sudah membantu aku untuk menenangkan Sherin"
Fadil hanya mengangguk saja, dia berlalu dari hadapan Putri Ajeng dan menemui istrinya. Fadil tersenyum ketika melihat Yara yang sedang duduk di sofa, segera Fadil menghampirinya.
"Sayang"
Yara menoleh, dia melihat suaminya yang begitu bahagia. Wajahnya yang begitu ceria. "Darimana Dil?"
Fadil langsung menatap istrinya dengan kesal. Dia memeluk Yara dengan erat, tidak malu pada orang-orang disana yang mungkin saja akan melihat kelakuannya itu.
"Kok manggil nama? Gak suka ah, maunya panggil Sayang"
Yara terkekeh mendengar rengekan dari suaminya ini. Dia mengelus kepala Fadil yang memeuknya. "Iya deh, Sayang. Begitu ya?"
Fadil mengangguk lucu, layaknya anak kucing yang menurut perintah pada majikannya.
Bersambung
__ADS_1