Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 38 (Akhirnya Bisa Melihat Rambutku Lagi)


__ADS_3

Fadil sudah seperti orang gila yang begitu takut kalau istrinya sampai kenapa-napa. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Benar-benar tidak akan bisa dia menahan diri lagi saat melihat keadaan istrinya sekarang. Pikiran Fadil sudah melayang kemana-mana, dia takut sekali kalau sampai Yara kenapa-napa.


Ketika sampai di rumah sakit, Fadil langsung membawa Yara ke ruang rawat darurat. Tentu saja dengan wajah paniknya itu. Berteriak memanggil Dokter agar istrinya ini segera di tangani. Dan ketika Yara sudah berada di ruang rawat, Fadil hanya menunggunya di luar ruangan. Masih terlalu takut dengan keadaan istrinya itu.


"Ya Tuhan, tolong selamatkan istriku. Jangan sampai dia kenapa-napa" lirih Fadil dengan matanya yang berkaca-kaca. Membayangkan keadaan Yara yang dulu pernah sangat buruk, tentunya membuat Fadil sangat ketakutan. Karena dia tidak akan bisa menjalani kehidupan ini tanpa Yara disisinya lagi.


Beberapa saat kemudian Dokter kembali keluar dari ruangan itu. Fadil langsung berdiri dan menanyakan keadaan istrinya itu dengan harap-harap cemas.


"Istri anda hanya terkena asam lambung yang naik. Mungkin sering terlambat makan, tapi semuanya baik-baik saja. Kami sudah memberikan obat dan juga vitamin. Setelah keadaannya mulai membaik, maka bisa langsung pulang hari ini juga"


Fadil langsung mneghela nafas lega ketika dia mendengar penjelasan Dokter barusan. Setidaknya keadaan istrinya saat ini tidak begitu parah. Dan Fadil hanya berharap dia akan baik-baik saja.


Fadil segera masuk ke dalam ruang rawat, dan dia melihat Yara yang sudah sadarkan diri dan sedang terdiam dengan tangan yang berada di perutnya sendiri. Fadil langsung menghampirinya, mengecup kening Yara dengan lembut.


"Kenapa? Apa ada yang sakit? Kamu kenapa tidak makan dengan teratur. Begini 'kan jadinya kalau kamu sering makan terlambat. Gak boleh kayak gitu lagi, ah" ucap Fadil dengan kekhawatirannya.


Yara hanya tersenyum saja, dia menoleh dan menatap Fadil dengan tatapan sulit di artikan. "Aku tidak papa, lagian nanti malam kita akan merayakan hari pernikahan kita. Jadi aku harus baik-baik saja"

__ADS_1


Akhirnya setelah lebih baik, Yara bisa kembali pulang. Fadil masih saja terlihat begitu khawatir dengan keadaan istrinya ini. Apalagi ketika dia melihat wajah Yara yang begitu pucat. Mungkin memang karena keadaannya yang masih lemah. Sebenarnya Fadil masih belum setuju saat Yara memilih untuk pulang. Tapi Yara memaksa, apalagi perkataan Dokter yang begitu meyakinkan untuk hal itu.


"Sayang, kamu harusnya tidak pulang dulu. Lihatlah, wajah kamu bahkan masih pucat" ucap Fadil.


Yara tersenyum mendengar itu, dia mengelus pipi suaminya yang sedang mengemudi itu. "Tenang Sayang, aku baik-baik saja. Lagian Dokter saja sudah memberikan aku izin untuk pulang. Itu artinya aku memang baik-baik saja"


Dan Fadil juga tidak bisa melakukan apapun ketika istrinya begitu kekeuh untuk pulang hari ini. Apalagi Yara yang begitu bersemangat untuk merayakan hari pernikahan mereka yang ke tiga tahun, nanti malam. Tentu saja Fadil tidak bisa melihat istrinya yang sudah begitu antusias itu, kecewa karena tidak bisa merayakan hari pernikahan mereka nanti malalm. Hanya karena dia yang memang keadaannya sedang kurang baik.


"Nanti malam kita makan malam di Restaurant biasa saja ya. Jangan yang jauh-jauh, keadaan kamu sedang seperti ini. Jadi kamu harus benar-benar di jaga dengan baik" ucap Fadil.


Yara hanya mengangguk saja, dia begitu antusias dengan acara nanti malam. Karena pastinya dia akan selalu bahagia untuk hari pernikahannya ini. Hari dimana yang tidak akan terlupakan dalam hidupnya. Bagaimana dia dan Fadil bisa bersatu dalam sebuah pernikahan setelah banyaknya rintangan yang harus mereka lewati.


Fadil tersenyum mendengar itu, dia menoleh sekilas pada istrinya. "Tentu saja, karena semua hadiah yang kamu berikan akan selalu menjadi hadiah yang spesial untuk aku"


Yara tersenyum saja mendengar itu, mungkin nanti malam akan ada sebuah hadiah yang bahkan tidak akan dilupakan oleh Fadil seumur hidupnya. Bahkan dirinya saja tidak akan bisa lupa dengan apa yang akan dia berikan nanti malam pada Fadil.


Sampai di rumah, Fadil langsung membawa Yara ke dalam kamar. Menyuruhnya untuk istirahat. Karena melihat wajahnya yang masih pucat, tentu saja membuat Fadil sedikit tidak tenang. Takut sekali kalau Yara kenapa-napa, meski sudah mendengarkan penjelasan Dokter jika istrinya itu memang baik-baik saja. Tetap saja Fadil selalu takut dan khawatir berlebihan. Apalagi ketika dia mengingat penyakit yang pernah di derita Yara.

__ADS_1


"Istirahatlah, kamu harus banyak istirahat kalau mau untuk dinner nanti malam. Karena keadaan tubuh kamu harus fit" ucap Fadil sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh Yara.


"Aku baik-baik saja, Sayang. Kenapa kamu begitu mengkhawatirkan aku seperti itu si? Bukannya Dokter saja sudah menjelaskan kalau aku ini baik-baik saja"


Fadil menghembuskan nafas pelan, sepertinya memang dia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya ini. Karena sungguh memang dia tidak bisa bersikap biasa saja ketika dia begitu khawatir dengan keadaan istrinya yang seperti ini.


Fadil mengelus kepala Yara dengan lembut. "Aku hanya tidak mau kalau sampai kamu kenapa-napa. Cukup dulu aku selalu cemas melihat keadaanmu yang terbaring lemah di atas ranjang pesakitan. Namun, sekarang aku hanya ingin melihatmu bahagia dan sehat selamanya. Jadi, harus jaga kesehatan kamu kalau memang tidak ingin melihatku panik dan cemas seperti ini"


Yara tersenyum, dia memegang tangan Fadil yang berada di pipinya. "Aku akan selalu sehat. Aku yakin kalau diriku ini sudah lebih baik. Aku yang tidak akan pernah mengalami sakit seperti dulu lagi. Karena aku saja tidak mau merasakannya lagi. Sakitnya pengobatan yang membuat aku pernah berpikir lebih baik mati saja"


"Jangan bicara seperti itu! Hanya aku yang boleh mati lebih dulu dari kamu. Karena aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Sudah ah, sekarang istirahat. Jangan banyak berpikir yang tidak-tidak" ucap Fadil, dia mengecup kening Yara dengan lembut.


Yara memejamkan matanya, menikmati ciuman dari Fadil di keningnya, hingga akhirnya dia mulai terlelap.


*****


Ketika malam ini Yara menatap pantulan dirinya di cermin dengan senyuman merekah bahagia. Lihatlah bagaimana setelah tiga tahun pernikahannya, akhirnya dia bisa melihat rambut hitamnya kembali. Penampilannya yang dulu selalu merasa tidak percaya diri dengan penutup kepala yang dia gunakan kemana pun. Namun akhirnya hari ini, dia bisa keluar tanpa menggunakan itu  lagi. Rambutnya sudah mulai tumbuh dengan lebat.

__ADS_1


Yara mengelus rambutnya dengan matanya yang berkaca-kaca. "Terima kasih sudah kembali melengkapi hidupku dan penampilanku. Akhirnya aku bisa melihat rambutku lagi"


Bersambung


__ADS_2