
Yara menidurkan bayi dalam gendongannya di tempat tidur. Masih belum berani keluar karena pastinya suasana yang masi belum kondusif saat ini. Yara menatap Fadil yang sedang bermain bersama dengan Sherin di atas karpet berbulu. Yara tersenyum melihat suaminya yang terlihat sangat bahagia ketika bisa bermain dengan Sherin. Mungkin karena Fadil yang selama ini menginginkan kehadiran seorang anak dan merasa kesepian.
Yara menghampiri mereka, ikut bergabung di atas karpet. Yara mengelus kepala Sherin, rasanya dia kasihan sekali pada anak ini. Harus mempunyai orang tua yang bermasalah sejak dia kecil, bahkan sejak berada di dalam kandungan.
"Sayang, bagaimana nantinya ya? Kasihan juga Sherin kalau harus tahu tentang semuanya. Dia masih kecil dan belum mengerti apa-apa, jika nanti sudah besar, pastinya akan sangat meyakitkan bagi dia jika situasinya masih sama seperti saat ini"
Yara hanya membayangkan saja, bagaimana nantinya Sherin akan mengetahui tentang semua ini. Padahal nyatanya dia juga tidak ingin dilahirkan dalam keadaan orang tua yang kacau seperti ini.
"Semoga saja sebelum dia besar, kedua orang tuanya bisa kembali bersama. Sebenarnya semuanya hanya karena Tuan Bimo yang terlalu egois dan hanya ingin anak-anaknya menuruti apa yang dia inginkan, sampai sekarang membuat kacau semuanya" ucap Fadil.
Yara hanya mengangguk saja, mungkin memang keegoisan orang tua akan membuat anak-anaknya menjadi terjebak dalam sebuah kehidupan yang tidak ingin dia jalani. Apalagi sekarang sudah ada seorang anak yang nantinya akan menjadi korban selanjutnya jika semuanya tidak di selesaikan sekarang juga.
"Semoga saja semuanya bisa baik-baik saja ya. Dan semoga saja bisa terselesaikan" ucap Yara.
Di dalam kamar yang berbeda, Keanu sedang mencoba untuk menenangkan istrinya yang terus menangis. Keanu memeluk Sarah dan mencoba untuk menenangkannya.
"Sudah Sayang, kamu jangan terus menangis seperti ini. Kita akan coba selesaikan semuanya baik-baik. Mungkin Papi juga akan berubah setelah ini, kita do'akan saja yang terbaik untuknya. Sekarang kamu harus tenang dan jangan menangis terus seperti ini. Kamu baru saja habis melahirkan, jangan banyak menangis begini. Tuh, sampai sesenggukan kayak gini"
Sarah melerai pelukannya, dia hanya merasa sangat terluka dengan semua ini. Bagaimana Ayahnya sendiri yang sudah banyak menghancurkan kehidupan anak-anaknya. Bagaimana mungkin dia bisa diam saja, ketika melihat adiknya juga menjadi korban keegoisan Papi.
"Aku harus bagaimana sekarang? Aku ingin membantu Ajeng dan Sherin. Jangan sampai mereka terus merepotkan Fadil, kamu tahu sendiri bagaimana banyak kesalahan yang aku dan Ajeng perbuat pada Yara. Dan aku hanya tidak ingin menyakiti Yara lagi. Karena meski dia tidak pernah berbicara apapun, tapi pasti hatinya sangat terluka melihat semua ini. Bagaimana dia yang begitu terluka dengan semua perbuatan aku dan Ajeng"
__ADS_1
Keanu mengangguk mengerti, dia menghapus air mata yang berada di pipi istrinya. "Aku mencintaimu dan aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu. Sayang, kamu tidak sendiri lagi, ada aku sekarang"
Sarah tersenyum penuh haru mendengar itu, dia langsung memeluknya dengan erat. "Terima kasih untuk selalu ada. Aku akan mencoba untuk membuat Sherin bisa mendapatkan orang tua yang lengkap. Apa kamu mau membantu aku?"
"Tentu saja, aku akan membantu apapun yang ingin kamu lakukan untuk kebaikan Ajeng dan Sherin sekarang ini" ucap Keanu.
"Sayang, dimana Kiana? Aku sampai melupakan anakku sendiri. Ya Tuhan, Ibu macam apa aku ini"
Keanu menangkup wajah Sarah, mengecup bibirnya dengan lembut. "Kamu adalah Ibu yang terbaik untuk Kiana. Sekarang dia ada di kamar tamu bersama dengan Yara dan Fadil, tadi mereka sengaja menjaga Kiana dan Sherin"
Dan segera saja Sarah dan Keanu pergi ke kamar tamu untuk melihat anaknya. Ternyata kedatangan mereka juga bersamaan dengan Putri Ajeng yang baru saja datang.
"Kak, mau menemui Kiana ya?" ucap Ajeng, terlihat jelas matanya yang sembab karena dia habis menangis.
Ajeng hanya mengangguk dan menepuk punggung Kakaknya yang emmeluknya. Jelas Ajeng akan selalu mencoba untuk kuat, karena dirinya juga harus tetap tegar demi anaknya.
"Aku mau lihat keadaan Sherin" ucap Ajeng.
Dan mereka pun masuk ke dalam kamar itu, melihat Sherin yang terlelap di tengah tempat tidur bersama dengan Kiana. Sementara di ujung kanan ada Yara dan di ujung kiri Fadil. Mereka terlihat keluarga yang bahagia.
Yara yang menyadari kehadiran mereka, dia langsung bangun dan turun dari atas tempat tidur. "Kalian sudah datang ternyata, anak-anak sudah tidur"
__ADS_1
Sarah meraih tangan Yara dan menggenggamnya. "Terima kasih ya, karena sudah menjaga mereka"
Yara mengangguk. "Tidak papa Mbak, aku senang saja bermain dengan mereka"
"Yara, aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha untuk tidak merepotkan lagi suami kamu mulai saat ini. Semoga saja aku bisa menangani Sherin sendiri. Maaf ya karena selalu merepotkan suami kamu" ucap Putri Ajeng tiba-tiba.
Fadil yang masih duduk di atas tempat tidur juga sedikit heran dengan ucapan Ajeng yang tiba-tiba itu.
"Loh kok jadi seperti itu, aku tidak papa kok. Beneran" ucap Yara, merasa tidak enak jika terlihat sekali kalau dirinya merasa tidak nyaman ketika Fadil lebih banyak berinteraksi dengan Ajeng.
Putri Ajeng tersenyum, dia menatap Fadil dan Yara secara bergantian. "Sebenarnya, Fadil kamu harus lebih banyak mengerti perasaan istri kamu. Aku bisa melihat kalau dia memang tidak pernah marah padamu ya, apapun yang kamu lakukan?
Selalu saja dia bisa memaafkannya. Contohnya saat dulu kamu pernah berkhianat saja, sudah pasti jika wanita lain, tidak akan mau menerima kamu lagi. Tapi berbeda sekali dengan Yara, dia bisa memaafkan kamu dan menerima kamu kembali dengan tulus. Jangan sia-siakan dia lagi"
Fadil mengangguk, dia juga sadar apa yang sebenarnya terjadi. Karena memang dia juga tidak akan pernah mau kehilangan Yara lagi. Semua bahagianya ada bersama Yara.
"Ajeng, kamu akan tahu semuanya. Ketika aku dianggap bodoh oleh semua orang, karena menerima kembali laki-laki yang pernah menghancurkan hidup aku. Tapi kamu akan mengerti ketika kamu merasakan jika tidak ada yang lain yang bisa menggantikan posisinya di hatimu" ucap Yara.
Putri Ajeng tersenyum, dia memeluk Yara dengan matanya yang berkaca-kaca. Dia berbisik. "Aku mengerti sekarang Yara, apa yang kamu rasakan itu. Karena sejak bertemu lagi dengannya, perasaanku masih sama"
Yara tersenyum tipis mendengar itu, mengelus punggung Putri Ajeng dengan lembut. "Kalau bisa diperjuangkan, maka semoga saja takdir bisa berpihak pada kalian. Kasihan juga Sherin jika harus terus hidup diantara orang tua yang tidak bisa bersama. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi keadaan yang menolaknya. Semoga kalian bisa ditakdirkan untuk kembali bersama"
__ADS_1
Akhirnya Putri Ajeng benar-benar bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Yara saat itu. Mencintai tanpa melihat lagi kesalahan orang yang dicintai.
Bersambung