Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
Hanya Sebuah Obsesi


__ADS_3

Perlahan tangan itu terlepas dari kaki Fadil, Ajeng menangis namun tetap membiarkan Fadil pergi. Karena dia tidak ingin mendengar lagi ucapan Fadil yang membuatnya sakit. Bagaimana Fadil yang mengatakan jika cintanya hanya untuk Yara, itu artinya dia tidak pernah mencintai Ajeng sampai saat ini.


"Semuanya hanya akan membuat kamu semakin terluka jika kamu terus memaksakan diri untuk mengejar obsesi kamu. Yang kamu rasakan bukan cinta, tapi hanya sebuah obsesi semata"


"Tidak! Aku yakin jika yang aku rasakan ini adalah cinta"


"Kamu hanya membuat hati kamu sendiri terluka"


Fadil berlalu ke dalam kamar, mengabaikan teriakan Ajeng yang terus memanggilnya dengan kencang. Pak Samsul yang terus menahan Putri Ajeng yang ingin masuk ke dalam rumah. Pak Samsul membawa Putri Ajeng keluar dari gerbang. Bahkan dia mendorong tubuh Putri Ajeng hingga jatuh di atas aspal.


Fadil menghampiri istrinya yang sedang di obati oleh pelayan. Fadil langsung berlari menghampiri Yara. "Sayang, kita ke rumah sakit saja sekarang"


Yara menoleh pada Fadil yang baru saja datang dan menghampirinya. Dia tersenyum menenangkan pada Fadil. "Aku tidak papa, kamu tenang saja. Tidak perlu ke rumah sakit juga"


Fadil melihat kaki Yara yang di pasang perban. Dia memegangnya dengan pelan. "Ini kenapa? Sampe di perban begini? Udah kita ke rumah sakit saja"


Yara meraih tangan Fadil, dia menggenggamnya dengan erat. "Sayang, aku tidak papa. Itu hanya luka kecil saja, lagian sudah di beri obat sama Mbak"


Fadil menghela nafas pelan, dia menatap Yara yang terus tersenyum. Namun tangan Fadil langsung mengepal kuat ketika melihat pipi Yara yang sedikit memerah karena bekas tamparan. Fadil mengelus lembut pipi Yara.


"Ya ampun, dia juga menampar kamu? Sialan.."


Yara langsung mengelus lembut tangan Fadil yang berada dalam genggamannya. "Sayang, aku tidak papa..."


"Cukup mengatakan kalau kamu tidak papa, dalam keadaan seperti ini jelas kamu tidak baik-baik saja. Kita ke rumah sakit sekarang!"

__ADS_1


Sepertinya Fadil sudah tidak bisa hanya diam saja melihat keadaan Yara. Dia langsung menggendong Yara dan membawanya ke rumah sakit.


"Sayang, aku tidak perlu ke rumah sakit"


Fadil tidak menghiraukan ucapan Yara, dia hanya ingin memastikan jika Yara akan baik-baik saja. Akhirnya Yara hanya pasrah saat Fadil memasukan dirinya ke dalam mobil.


Fadil mengemudikan mobilnya dengan wajah yang dingin. Mungkin memang dia sudah sangat kesal dan tidak bisa menahan amarahnya ketika dia tahu kalau Yara telah begitu di lukai oleh Putri Ajeng.


"Sepertinya aku harus memberikan pelajaran yang setimpal pada wanita itu. Sial, dia sudah sangat berbahaya"


Yara memegang tangan Fadil yang sedang mengemudi. Mengelus punggung tangan Fadil. "Kamu tidak perlu melakukan apapun, karena tidak mungkin ada kejadian seperti ini jika kamu tidak pernah memberikan dia harapan"


Ya, memang benar apa yang Yara katakan. Jika saja Fadil tidak memberikan harapan pada Putri Ajeng, mungkin saja dia tidak akan terjebak dengan semua ini. Dan Yara pun tidak mungkin akan tersakiti seperti saat ini.


"Sebenarnya aku memaklumi sikap Putri Ajeng padaku. Karena memang aku pun akan seperti itu jika berada di posisinya. Dia hamil tanpa suami, dan bertemu denganmu yang dia jadikan harapan untuk menjadi suami dan Ayah untuk anaknya itu. Namun sekarang tiba-tiba kamu pergi dan kembali pada mantan kekasih..."


Fadil menghentikan mobilnya di pekarangan rumah sakit. Menoleh pada Yara dan memegang tangannya dengan lembut. "Sepertinya memang aku yang tidak melihatnya atau memang aku sempat buta karena kecantikan Ajeng. Sampai aku tidak melihat bagaiamana kamu yang begitu hebat dan bisa dengan lapang menerima semua ini"


Pemikiran Yara yang dewasa, membuat Fadil selalu merasa kagum padanya. Bagaimana Fadil yang melihat Yara dan cara pandang dia pada dunia ini, benar-benar sangat dewaa.


Cup..


Fadil mengecup punggung tangan Yara dengan lembut. "Mulai sekarang aku tidak akan pernah terbutakan oleh apapun lagi. Karena hanya kamu yang benar-benar menjadi pemilik hatiku yang seutuhnya"


Yara tersenyum mendengar itu, tentu saja dia merasa lucu dengan apa yang di ucapkan oleh Fadil barusan. "Jadi, kamu selingkuh karena bosan dengan aku yang gendut dan kamu kebetulan di pertemukan dengan Putri Ajeng yang benar-benar cantik dan memiliki tubuh yang ideal"

__ADS_1


Fadil hanya diam sambil tersenyum masam, sebenarnya dia sangat menyesal dengan apa yang pernah dia lakukan. Berpaling dari Yara, ternyata bukanlah keputusan yang benar. Karena hatinya tetap hanya milik Yara dan akan tetap kembali pada pemiliknya, meski seindah apapun orang-orang yang pernah singgah di hatinya.


"Tapi, kalau misalkan suatu saat nanti aku gendut lagi bagaimana? Aku tidak bisa menjamin tentang itu, mungkin saja tubuh aku akan kembali seperti dulu yang gendut"


Fadil mengecup punggung tangan Yara yang berada di genggamannya itu. "Sebenarnya aku merindukan mencium pipi kamu yang chubby. Aku merindukan kamu yang dulu. Kamu yang sehat, tidak masalah jika tubuh kamu kembali berisi. Karena bagi aku kamu tetap cantik. Kamu cantik dengan aura kamu sendiri"


Yara terkekeh mendengar itu, terasa lucu saat mengingat apa yang pernah terjadi diantara dirinya dan Fadil. "Semoga kalau aku kembali gendut, kamu tetap setia ya. Tidak selingkuh lagi.. Hahha"


"Sayang..." Fadil merengek dengan wajahnya yang cemberut. "...Sudah ahh, sekarang ayo kita masuk. Malah banyak ngobrol disini"


"Sayang, aku tidak usah ke rumah sakit. Kita pulang lagi saja"


"Yara!"


Hah..


Yara hanya mengehmbuskan nafas pelan saat tatapan suaminya berubah sangat tajam. Sudah pasti dirinya tidak akan bisa membantah Fadil. Akhirnya Yara hanya menurut saja ketika Fadil membawanya masuk ke dalam rumah sakit.


Yara yang langsung di periksa oleh Dokter. Luka dan keadaan tubuhnya atas penyerangan yang dilakukan oleh Putri Ajeng itu.


"Luka di kakinya di perban dulu saja biar tidak terkena infeksi. Semuanya baik-baik saja, saya akan berikan obat pereda nyeri ya"


Yara mengangguk, dia menatap Fadil yang berdiri di sampingnya. "Tuhkan, aku memang tidak papa. Kamu si yang repot harus ke rumah sakit segala" bisiknya


Mendengar itu, Fadil hanya menoel hidung Yara dengan gemas. Dia tidak tahu bagaimana paniknya Fadil saat tahu kalau Yara di serang oleh Putri Ajeng. Pikiran Fadil yang sudah kemana-mana. Takut jika Yara kenapa-napa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2