
Ini tidak seperti yang dipikirkan oleh Fadil sebelumnya. Sekarang istrinya benar-benar menjadi sosok yang sangat mandiri dan tidak pernah bermanja lagi pada Fadil. Hal ini tentu saja membuatnya sangat bingung. Fadil merasa tidak suka dengan sikap Yara yang sekarang. Meski dulu, Yara begitu lemah lembut dan juga manja padanya. Tapi sekarang Yara telah berubah menjadi istri yang tidak lagi manja padanya.
Malam ini Fadil terbangun di tengah malam, dia merasa haus dan memilih turun ke dapur untk mengambil minum. Dia mengambil sebotol minuman dingin, lalu dia duduk di kursi meja makan. Masih memikirkan sikap istrinya yang berubah.
"Ya ampun Tuan, kenapa anda disini?"
Fadil langsung menoleh dan menatap Mbak pelayan yang ada disana. "Saya sedang ambil minum saja"
Mbak pelayan mengangguk, dia juga sebenarnya terbangun karena ingin mengambil minum.
Fadil menatap Mbak pelayan itu, saking bingungnya dengan perubahan sikap istrinya. Membuat Fadil berpikir kalau bercerita pada Mbak pelayan juga bisa dia lakukan.
"Em, Mbak, apa kamu tahu kenapa seorang perempuan berubah?" tanya Fadil tiba-tiba.
Mbak pelayan terdiam sejenak, mungkin perubahan Nona Mudanya telah membuat Tuan Muda mulai merasa tidak nyaman dan setidaknya Fadil bisa sedikit berubah dan mau menatap dari sudut pandang Yara dan apa yang dia alami selama ini, tidak akan mudah bagi Yara yang banyak melewati banyak cobaan selama ini.
"Mungkin saja Nona sedang berusaha menjadi yang Tuan inginkan"
Fadil terdiam mendengar itu, tentu saja dia tidak pernah menginginkan Yara jadi seperti ini. Sejatinya melihat Yara yang sekarang, membuat Fadil merindukan sosok manjanya dulu.
"Tapi aku tidak ingin istriku seperti ini. Dia terlihat asing di mataku" ucao Fadil.
"Sebenarnya, ada luka dan sebuah trauma yang besar yang belum tentu orang lain bisa menutupinya dengan rapi seperti yang Nona lakukan. Karena sejatinya tidak akan ada seorang wanita yang kuat ketika dia menghadapi banyak cobaan seorang diri...."
"....Namun, Nona Muda bisa melakukan itu. Mungkin jika saya ada di posisinya, saya tidak akan menerima Tuan kembali pada saya. Karena luka yang Tuan tanamkan terlalu besar, setelah merenggut segalanya dalam hidup saya, tiba-tiba anda menikahi wanita lain dengan alasan sudah bosan. Dan sekarang anda malah datang kembali dan meminta balikan dengan Nona..."
__ADS_1
"...Tentu saya rasa hanya Nona Muda yang bisa melakukan ini dan bisa sekuat itu menghadapi semuanya. Jadi, menurut saya, sikapnya itu yang terkadang berlebihan. Mungkin karena dia takut mengalami kegagalan yang kedua kalinya dengan orang yang sama"
Penjelasan itu benar-benar membuat Fadil terdiam. Dia sudah merasa menjadi suami yang baik dan paling mengerti istrinya. Tapi ternyata sampai saat ini dia tidak bisa benar-benar mengerti bagaimana perasaan Yara yang sesungguhnya. Luka yang masih berbekas hingga sekarang, belum lagi trauma yang menghantuinya. Mungkin akan sulit di hilangkan meski seumur hidupnya. Hanya sejenak saja bisa dilupakan.
"Aku memang belum bisa menjadi suami yang benar-benar mengerti istriku"
Fadil kembali ke kamarnya setelah merenung cukup lama dengan ucapan yang dia dengar dari Mbak pelayan tadi. Cukup memberinya pencerahan untuk lebih mengerti lagi perasaan istrinya yang sebenarnya.
Fadil duduk di pinggir tempat tidur, menatap wajah istrinya yang sedang terlelap begitu tenang. Dia mengelus kepala Yara dengan lembut, membayangkan bagaimana istrinya yang selama ini menghadapi semuanya seorang diri. Rasanya pasti tidak akan mudah.
"Maafkan aku karena tidak mengerti perasaan kamu selama ini"
*******
Yara terbangun pagi ini, dia mengucek matanya yang masih teras perih karena mengantuk. Sampai ketika dia membuka kedua matanya dengan sempurna, dia melihat suaminya yang sedang menatapnya begitu lekat. Dengan satu tangan yang menopang kepalanya untuk setengah terbaring di atas tempat tidur.
"Tidak papa, aku hanya ingin saja menatap istriku yang cantik sekali ini" ucap Fadil sambil tersenyum.
Mendengar itu membuat Yara langsung terdiam dengan bibir sedikit mencebik. "Memangnya kenapa? Aku baru saja bangun tidur, masa sudah kamu bilang cantik. Kan nyatanya aku tidak cantik sama sekali"
"Siapa bilang wanitaku ini tidak cantik? Kalau ada yang bilang seperti itu, aku tidak akan membiarkannya hidup dengan tenang" Fadil mengelus pipi Yara dengan lembut, senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya. "....Aku tidak akan pernah bersyukur begitu besar kalau bukan karena aku bisa kembali bersama denganmu lagi"
"Semuanya sudah menjadi pilihanku. Jadi tidak akan pernah aku meninggalkan kamu kalau memang bukan kamu yang memintanya" ucap Yara.
Fadil mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Yara dengan lembut. "Aku tidak akan pernah melakukan itu. Aku hanya ingin bersama denganmu, selamanya"
__ADS_1
Entah kenapa Yara merasa jika sikap suaminya pagi ini cukup terlihat aneh. Bagaimana dia yang tidak pernah melihat Fadil yang sengaja menyiapkan sarapan untuknya di pagi hari. Fadil yang berkutat dengan alat dapur bukanlah kebiasaannya. Tapi entah ada apa sampai pagi ini dia melakukan ini.
"Sayang, kamu kenapa tiba-tiba ingin membuat sarapan seperti ini?" tanya Yara yang masih bingung dengan keadaan ini.
Fadil tersenyum mendengar itu, dia menyimpan dua omlet telur di depan Yara yang sejak tadi hanya duduk diam di kursi meja makan. "Aku hanya ingin menunjukan kemampuan masak padamu"
Mendengar itu membuat Yara langsung terdiam, dia tersenyum tipis. "Memangnya kamu bisa masak ya? Bukannya kamu tidak pernah suka masak dan berkutat di dapur ya?"
"Sayang, jangan meremehkan aku. Sekarang kamu coba saja dulu masakan aku ini. Pastinya kamu tidak akan pernah merasakan makanan seenak ini loh"
Yara terkekeh pelan mendengar itu, dia mulai mencoba omlet telur yang dibuatkan oleh suaminya itu. Dan rasanya memang tidak terlalu buruk, ternyata memang Fadil pandai juga untuk memasak.
"Bagaimana Sayang?" tanya Fadil dengan penasaran.
"Enak, aku suka. Tapi lain kali tidak perlu memasak untuk aku. Ini 'kan tugas aku sebagai seorang istri. Kamu tidak perlu melakukan ini" ucap Yara.
Fadil menghela nafas pelan, dia kembali melihat istrinya yang sepertinya tidak ingin merepotkannya. Sepertinya Fadil yang tidak akan pernah bisa menahan diri untuk terus melihat Yara yang begitu mandiri dan kehilangan sikap manjanya. Rasanya Fadil tidak bisa terus melihat Yara yang seperti ini.
"Sayang, kalau memang kamu suka. Kamu bisa minta aku untuk memasak untuk kamu, kapan pun" ucap Fadil.
Yara menggeleng pelan. "Tidak perlu, semua ini adalah tugas aku sebagai istri. Kamu tidak perlu memasak seperti ini untuk aku"
Fadil meraih tangan Yara dan menggenggamnya dengan lembut, mengecup punggung tangannya. "Kamu jangan terus seperti ini. Aku merindukan sikap manja kamu itu"
Yara terdiam mendengar itu.
__ADS_1
Bersambung