
Setelah semuanya pergi dari kamar tamu ini, tinggalah Yara dan Fadil. Tidur berdampingan sambil menatap langit-langit kamar.
"Aku tidak mengerti kenapa ada kisah seperti ini. Seandainya dulu kamu tidak pernah berkhianat pada Putri Ajeng, mungkin kita tidak akan ada disini dan mengetahui permasalahan keluarga mereka" ucap Yara.
Fadil beringsut pelan, dia meraih tubuh Yara dan memeluknya. Mengecup kening Yara dengan lembut. "Entahlah, aku juga tidak mengerti kenapa saat itu aku harus mengkhianati kamu, padahal jelas aku saja sulit hidup tanpa kamu"
Yara tersenyum dengan menatap lekat Fadil. "Sayang, waktu itu alasan kamu hanya satu 'kan? Kamu yang bosan padaku, bosan dengan bentuk tubuhku dan juga penampilanku yang sama sekali tidak menarik. Aku yang gendut dan tidak berbentuk itu membuat kamu bosan denganku"
Fadil menggeleng pelan, dia mengecup bibir Yara sekilas. "Sayang, sebenarnya sekarang aku sadar, jika saat itu bukan karena aku bosan denganmu seperti yang kau ucapkan barusan. Hanya saja aku merasa bosan dengan kehidupan yang aku lakukan selama ini. Hingga aku mencari dunia baru dengan Ajeng, dan ternyata tidak akan ada yang lebih dari orang di masa lalu yang jelas sangat tulus"
Yara tersenyum mendengar itu, apapun alasannya saat itu memang Yara menganggap jika Fadil sangat tega padanya. Tapi yang sudah berlalu hanya mencoba Yara lupakan saja, meski nyatanya dia masih mempunyai trauma yang sama atas pengkhianatan yang Fadil lakukan padanya di masa lalu.
"Sudahlah, sekarang tidur saja. Aku ingin segera pulang besok pagi, tidak nyaman juga kalau tetap disini. Apalagi mereka semua sedang ada masalah saat ini" ucap Yara.
Fadil mengangguk dan dia semakin mengeratkan pelukannya. Mengecup kening Yara.
Dan pagi ini setelah semuanya selesai dan berpamitan pada Sarah dan keluarganya. Yara dan Fadil segera pergi untuk kembali ke Ibu kota.
"Kamu tidak pusing lagi? Kalau pusing bilang sama aku ya, seharusnya kita langsung ke Dokter sepulang darisini" ucap Fadil, mengelus kepala Yara yang berada di dadanya.
__ADS_1
Yara hanya tersenyum saja, memang seharusnya dia melakukan pemeriksaan lagi setelah berhenti minum obat yang dianjurkan oleh Dokter. Tapi sepertinya dia merasa baik-baik saja meski tidak minum obat selama dua minggu terakhir. Yara berharap dia akan segera terbebas dari semua obat memuakan itu.
"Aku baik-baik saja, kamu tenang saja karena aku kuat. Pernah hampir mati saja, sekarang aku bisa sembuh lagi 'kan? Jadi, tidak minum obat dua minggu saja tidak akan berpengaruh padaku" ucap Yara.
"Jangan pernah membahas kematian, kau akan sehat kembali dan akan hidup selamanya denganku" tekan Fadil, dia selalu takut ketika Yara membahas tentang sebuah kematian. Karena kehilangan Yara dalam hidupnya, sudah pasti membuat Fadil sangat kacau.
Yara mendongak, dia menatap Fadil sambil tersenyum. Mengecup dagu Fadil dengan lembut. "Sepertinya kamu sudah takut kehilangan aku ya? Padahal dulu saja selingkuh dariku"
Fadil menghela nafas pelan, dia mengecup bibir Yara yang cemberut itu. Tahu jika istrinya ini hanya sedang menggodanya. "Aku sedang lupa bahagia saat itu, jadi memilih jalur cepat. Eh tidak tahu kalau bahagiaku itu adalah kamu, di jalur yang biasa saja. Bukan di jalur cepat yang aku kira"
Yara hanya tertawa saja mendengar ucapan suaminya itu.
*******
Bimo melihat anak-anaknya secara bergantian. Rasanya dia tidak nyaman melihat kedua putrinya yang bahkan hanya diam saja sejak kejadian kemarin. "Ajeng, Sarah, maafkan Papi"
Suara Bimo itu membuat kedua putrinya langsung menoleh dan menatap ke arahnya. Meski sebenarnya Ajeng saja sudah tidak tahu harus berbicara seperti apalagi pada Ayahnya ini. Apalagi Sarah yang sudah banyak sekali mengalah sejak dulu, hingga dia tidak punyai keberanian untuk mengeluarkan pendapatnya.
"Sekarang yang perlu dipikirkan hanya tentang nasib Sherin kedepannya, Pi. Pikirkan bagaimana nanti ketika anak itu besar dan masih menganggap Fadil adalah Ayah kandungnya, padahal kenyataannya dia bukanlah Ayah kandung Sherin. Anak itu harus tahu siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya" ucap Sarah.
__ADS_1
Bimo menunduk dalam, dia sadar keegoisannya telah menimbulkan masalah besar dalam kehidupan putrinya. "Papi akan mencoba untuk bicara dengan Felix dan keluarganya. Mungkin akan meminta pertanggung jawaban dari mereka semua atas kehadiran Sherin yang memang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab Felix"
"Felix sudah menikah! Buat apa mengganggu pernikahannya lagi. Hanya akan semakin menimbulkan masalah saja. Aku juga akan berusaha menjelaskan pada Sherin jika Fadil itu memang bukan Ayah kandungnya. Jadi aku tidak akan merepotkannya lagi" tekan Putri Ajeng.
Sarah langsung menatap adiknya dengan lekat. Tentu saja dia tidak akan pernah menyetujui ucapan Ajeng barusan. "Memangnya kamu yakin tidak akan pernah merepotkan Fadil lagi? Ingat Ajeng, kamu sudah banyak membuat Yara terluka. Jangan lagi kamu membuatnya terluka, lagian meski Yara terlihat baik dan tidak mempermasalahkan semuanya. Tapi hatinya pasti sangat terluka dan kecewa dengan kamu dan Fadil yang masih saja terikat karena Sherin yang sebenarnya bukan anak kandung Fadil"
Putri Ajeng langsung menunduk ketika mendengar omelan dari Kakkanya. Karena mungkin memang benar apa yang Sarah katakan barusan. Tapi dia juga tidak mau mengganggu pernikahan Felix dan istrinya, sejatinya dia hanya takut karena orang tua Felix yang tidak pernah suka padanya sejak dulu.
"Sekarang kamu harus menuruti saja, kamu harus meminta pertanggng jawaban dari Felix. Tidak peduli dengan istrinya, karena dia harus bisa menerima jika suaminya mempunyai anak dari masa lalunya" tekan Putri Sarah.
Dan Ajeng sudah tidak bisa membantah lagi, mungkin memang harus seperti itu saja. Dia juga tidak mau kalau sampai terus merepotkan Fadil dan menyakiti hati Yara seperti ucapan Kakaknya barusan.
"Baiklah, terserah kalian saja" ucapnya pasrah.
Sarah kembali menatap pada Ayahnya dengan lekat. "Sekarang tinggal urusan Papi, selesaikan semua masalah diantara Papi dan keluarga Felix. Hentikan semua persaingan bisnis tidak jelas itu. Semuanya hanya demi Sherin dan kehidupan anak Papi itu"
Bimo mengangguk, dia akan mencoba untuk berubah sekarang. Bimo juga ingin menyelesaikan semua masalah yang menimpanya ini. Karena tidak mungkin dia akan terus seperti ini setelah melihat anak-anaknya hancur karena perbuatannya.
"Papi akan berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan semua ini. Kalian tenang saja, Papi akan berjuang untuk mendapatkan keadilan untuk Sherin dari Ayah kandungnya" ucap Bimo.
__ADS_1
Sarah mengangguk, meski dia masih saja merasa sangat kecewa pada Ayahnya ini. Bagaimana dia yang selalu menjadi orang tua yang egois. Namun Sarah hanya akan menjadikan semua ini pelajaran, dia tidak ingin sampai membuat anaknya tertekan karena keegoisannya seperti apa yang dia alami selama ini.
Bersambung