
Fadil menunggu di kursi tunggu depan ruang persalinan. Bahkan dia tidak sempat untuk menemani Putri Ajeng yang sedang melahirkan, karena Fadil yang terjebak macet dalam perjalanan menuju rumah sakit ini. Fadil melihat sebuah brankar yang di dorong di depan dirinya dan Bmo yang sedang menunggu di kursi tunggu itu.
Tubuh Fadil mematung seketika, dia melihat jelas ika yang berbaring di atas brankar itu adalah wanitanya. Dengan cepat Fadil mencegah perawat yang mendorong brankar itu.
"Fadil.."Lirih Yara yang melihat Fadil disana, dia langsung memalingkan wajahnya ke arah samping saat tahu kalau Fadil berada disana dan sedang melihatnya dalam keadaan yang seperti ini.
"Maaf Tuan, pasien baru saja selesai menjalani pengobatan. Dia masih sangat lemah, jadi tolong anda jangan menghalangi jalan kami"
Tangan Fadil bergetar saat dia melepaskan pegangannya pada sisi brankar. Pengobatan? Ada apa dengan Yaraku, dia kenapa?
"Fadil, kau mau kemana? Istrimu sedang melahirkan di dalam sana, kenapa kamu malah mau pergi"
Bimo yang tidak melihat dengan jelas siapa pasien yang terbaring di atas brankar itu langsung mencegah Fadil yang akan pergi dari sana.
"Tidak bisa, aku harus menemui Yara"
"Yara?"
Bimo terdiam dengan bingung saat melihat Fadil yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya yang masih menunggu di kursi tunggu depan ruang persalinan. Tepat saat Fadil pergi, pintu ruang bersalin terbuka dan Bimo tidak lagi memikirkan Fadil yang pergi, dia hanya kembali fokus pada keadaan anak dan cucunya.
"Bagaimana Sarah?" tanya Bimo pada Sarah yang memang menemani persalinan adiknya di dalam sana.
"Ajeng dan anaknya baik-baik saja Pi, sekarang mereka sedang di persiapkan untuk pindah ke ruang rawat"
Bimo menghela nafas pelan ketika mendengar kabar itu. Bersyukur karena anak dan cucunya baik-baik saja sekarang. Sarah yang tidak melihat Fadil, langsung bertanya pada Ayahnya, kemana suami dari adiknya itu.
"Fadil menemukan Yara di rumah sakit ini"
__ADS_1
"Hah?! Yara berada disini? Tapi kenapa dia bisa berada di rumah sakit? Apa dia sakit?"
"Entahlah.." Bimo yang memang tidak terlalu peduli pada keadaan Yara dan Fadil. Karena dia pikirkan hanya tentang anaknya.
Fadil mengikuti kemana perawat itu membawa brankar Yara. Hingga dia sampai di sebuah ruang rawat, ketika Fadil melihat Keanu yang menunggu di depan ruang rawat itu, hati Fadil mencelos ketika melihat ada pria lain yang menemani wanitanya selama berada di ruang rawat.
Keanu juga begitu terkejut ketika melihat kehadiran Fadil disana. "Mau apa kau datang kesini?"
Pertanyaan Keanu yang sebenarnya hanya basa-basi saja. Keanu hanya terlalu terkejut melihat kehadiran Fadil disini.
"Ikut aku, ada yang ingin aku bicarakan" Keanu menarik tangan Fadil dan membawanya ke taman rumah sakit.
Fadil menatap banyaknya pasien yang berkeliaran di taman ini dengan masih menggunakan baju pasien dan ada juga yang menggunakan kursi roda. Fadil yang merasa jika ada yang tidak dia ketahui tentang Yara selama ini.
"Yara mengidap penyakit kanker stadium lanjut. Semuanya berawal dari..."
"Yara tetap mencintaimu, selama apapun aku bersama dengannya. Aku tetap tidak akan bisa menggantikan posisi kamu dalam hatinya, Fadil. Jadi, aku katakan kamu memang sangat bodoh karena mengkhianati Yara yang begitu tulus mencintaimu"
Fadil tidak menjawab apapun karena dirinya yang tidak mungkin bisa membantah disaat semua yang Keanu ceritakan benar-benar membuat dadanya sesak. Bagaimana Yara yang berjuang sendirian selama ini, melawan penyakitnya itu.
Keanu berdiri, dia menepuk bahu Fadil. "Aku tidak akan menyerahkan Yara padamu, jika kamu belum bisa berjanji untuk membuatnya bahagia dan kamu yang belum terlepas dari Putri Ajeng"
Fadil hanya terdiam dengan wajah yang menunduk. "Maafkan aku Yara, aku telah membuat kamu benar-benar menderita"
Setetes air mata menetes begitu saja di pipi Fadil, jatuh ke atas tanah dengan sendirinya. "Aku telah membuatnya benar-benar menderita. Maafkan aku Yara"
Fadil berjalan gontai menuju ruang rawat Yara, dia berdiri di depan pintu ruangan Yara. Menatap lewat kaca bundar yang berada di pintu itu, terlihat Yara yang sedang terbaring lemah dengan alat medis yang terpasang di bagian tubuhnya. Tubuhnya yang kurus kering dan rambutnya yang mulai menipis karena terus rontok.
__ADS_1
"Sayangku, maafkan aku"
Saat Fadil berbalik, dia melihat Keanu dan seorang Dokter yang berjalan ke arah ruang rawat Yara. Kesempatan Fadil yang ingin mengetahui bagaimana kondisi Yara, Fadil ingin tahu bagaimana keadaan Yara yang sebenarnya saat ini.
"Yara masih melakukan pengobatan Radioterapi. Namun hal itu tidak sepenuhnya menjamin atas kesembuhannya. Karena Yara juga tetap harus menadapatkan donor ginjal dengan segera sebelum kerusakannya semakin parah dan merambat ke ginjal satunya lagi. Setelah mendapatkan donor, pasien hanya tinggal lanjut melakukan pembunuhan kanker dalam tubuhnya dengan Radioterapi itu"
Fadil memijat pelipisnya yang terasa pening, rasanya dia tidak percaya dengan apa yang telah terjadi pada Yara saat ini. Wanitanya yang ceria dan selalu membuatnya bahagia itu, sekarang sedang terbaring lemah dengan kondisi yang memprihatinkan.
"Periksa ginjal saya Dok, jika cocok segera donorkan untuk Yara"
#######
Putri Ajeng yang baru saja tersadar setelah melalu operasi kelahiran anaknya itu. Yang dia cari bukan anaknya, tapi Fadil. Ketika dia membuka mata, dia langsung mencari keberadaan Fadil.
"Fadil sedang mengurus sesuatu sebentar, Ajeng. Kamu istirahat saja, apa kamu tidak ingin melihat anak kamu ini"
Sarah yang menggendong anak dari adiknya itu malah merasa heran karena Purti Ajeng yang sepertinya tidak peduli pada anak yang baru saja dia lahirkan itu.
"Aku malas melihatnya Kak, aku tidak suka dengan anak dari pria itu"
Sarah menghela nafas pelan, dia menatap bayi mungil dalam gendongannya dengan lembut. "Dia tidak salah apapun, Ajeng. Yang salah itu kamu dan dia, kenapa bisa melakukan hal yang tidak terduga dalam waktu satu malam. Padahal kau tahu sendiri jika pria itu sudah mempunyai istri"
"Karena malam itu aku mabuk Kak, dia juga. Sialnya aku tidak mengetahui siapa namanya"
Sarah menggeleng pelan, merasa heran dengan kelakuan adiknya ini. "Karena kesalahan kamu juga yang selalu minum hingga mabuk, padahal kamu seorang perempuan. Tapi kamu sering sekali datang ke sebuah tempat hiburan malam. Dan sekarang ini adalah akibat dari setiap perbuatan kamu itu"
Putri Ajeng hanya diam mendengar itu, ketika dia sadar jika apa yang dikatakan oleh Kakaknya memang benar adanya. Putri Ajeng yang sudah terlambat untuk mneyesal, karena sudah ada seorang anak yang dia lahirkan dari cinta satu malam itu.
__ADS_1
Bersambung